Dimensi Psikologis Kesehatan Mental 1-1

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Kesehatan Mental.

Pendahuluan

Aspek psikis manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan sistem biologis. Sebagai subsistem dari eksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan dari aspek yang lain dalam melihat manusia. Pembahasan kali ini lebih difokuskan pada aspek psikis dalam hubungannya dengan kesehatan mental, hal ini hanya bermaksud untuk mempermudah mempelajari dan memahaminya saja, meskipun kenyataannya satu dengan yang lain saling berhubungan dan tidak mungkin dipisahkan.

Ada beberapa aspek psikis yang turut berpengaruh terhadap kesehata mental, yaitu pengalaman awal, proses pembelajaran, ke butuhan, dan faktor psikologis yang lain.

Pengalaman awal

Pengalaman awal merupakan segenap pengalaman-pergalaman yang terjadi pada individu terutama yang terjadi di masa lalunya. Pengalaman awal ini, dipandang oleh para ahli sebagai bagian penting dan bahkan sangat menentukan bagi kondisi mental individu dikemudian hari.

Beberapa ahli yang memandang bahwa pengalaman awal sangat berpengaruh terhadap kondisi mental itu adalah Sigmund Freud, Erik H. Erikson, dan John Bowlby. Pandangan ketiga ahli ini akan diuraikan berikut ini secara singkat.

Psikoanalisa

Teori psikoanalisa dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dia ber pandangan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga elemen, yang berinteraksi secara dinamis. Ketiga elemen itu adalah: id, ego, dan superego.

Id adalah subsistem kepribadian yang asli yang dimiliki individu sejak lahir, karena itu biasanya disebut sebagai subsistem kepribadian yang primitif. Id lebih dihubungkan dengan faktor biologis. Kerja ide ini terutama digerakkan oleh dorongan agresivitas dan libido berupa energi seksual yaitu ekspresi ingin dicintai dan mencintai, yang tugasnya mempertahankan kehidupan dan menjaga kelang sungan hidup. Freud berpandangan bahwa kerja id adalah atas dasar prinsip kenikmatan (pleasure principles). Tempat id ini pada bagian ketidaksadaran (unconscious) dan secara langsung berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang tanpa disadari.

Superego adalah bagian lain dari struktur kepribadian. Superego ini lawan dari id, yaitu bagian dari struktur kepribadian yang dikem bangkan dari kebudayaan, nilai-nilai sosial, dan proses pendidikan dari orangtua. Superego terbentuk karena adanya interaksi dengan lingkungan sosialnya. Karena itu superego berisi kode moral yang selalu mengendalikan dorongan-dorongan ketidaksadaran dari id. Jadi superego merupakan kata hati seseorang, karena itu merupakan internal-control bagi individu. Superego selalu berada pada tingkat kesadaran (conscious) dan dapat pula berada pada ambang sadar (preconsciousness). Superego ini terbentuk sejak fase kanak-kanak dan terus berkembang sehingga dewasa.

Ego merupakan bagian dari struktur kepribadian yang juga pen ting bagi kepribadian manusia. Ego ini dipelajari sepanjang berinte raksi dengan lingkungannya. Ego merupakan mediator antara dorong an-dorongan biologis yang datang dari id dengan tuntutan moral dari superego. Ego merupakan kendali organisme untuk melakukan sesuatu sesuai dengan dunia riil. Prinsip kerja ego adalah prinsip realitas (reality principles). Ego ini mengendalikan tuntutan instinktif dan pertimbangan moral. Interaksi antara id, superego, dan ego dapat ditunjukkan sebagaimana Gambar 6.1.

Gambar 6.1 Struktur kepribadian

Setiap saat subsistem kepribadian ini bekerja dan id menjadi sumber energi psikisnya. Pada saat id bekerja, ego mulai berfungsi. Namun tidak setiap kebutuhan dan keinginan dari dapat langsung dipenuhi, ada faktor superego yang berfungsi sebagai kode moral selalu mengendalikan dorongan-dorongan itu. Egolah yang membuat keputusan terhadap perilaku individu, apakah melakukan sebagai mana dorongannya atau menolak dorongannya sejalan dengan super egonya, atau kompromi-kompromi di antara keduanya.

Seseorang yang memiliki ego yang lemah dan terlalu kuat dipe ngaruhi oleh id, maka cenderung sangat impulsif dan selalu mengikuti dorongan-dorongan instinktifnya. Sementara jika terlalu kuat penga ruh superegonya, maka akan cenderung menghalang-halangi peme nuhan keinginan-keinginan instinktifnya. Namun demikian, jika ego nya sangat kuat, maka akan membuat keputusan-keputusan yang rasional dan realistis..

Namun demikian, tidak setiap orang memiliki ego yang kuat (ego-strength). Banyak yang egonya sangat lemah. Karena itu dalam menghadapi dorongan, keputusan atau tuntutan moralnya, sehingga terjadi konflik-konflik psikis. Hal yang tidak terhindari dari konflik ini adalah timbulnya kecemasan (anxiety). Menurut Freud terdapat tiga macam kecemasan yang mungkin terjadi, yaitu kecemasan neu rotik (neurotic anxiety), kecemasan realitas (reality anxiety), dan kece masan moral (moral anxiety).

Kecemasan neurotik merupakan kecemasan individu akibat kha watir tidak mampu atau keinginan-keinginan primitifnya. Kecemasan realitas merupakan kecemasan yang terjadi akibat ketakutannya menghadapi realitas, dan kecemasan moral ada lah kecemasan akibat rasa bersalah dan ketakutan dihukum oleh nilai-nilai yang ada pada nalurinya.

Untuk menghindari kecemasan itu, kemudian individu berusaha menghindarinya. Cara menghindarinya dilakukan dengan menggu nakan mekanisme pertahanan diri (ego defence mechanism). Bentuk mekanisme pertahanan diri ini bermacam-macam, yaitu repressi, proyeksi, reaksi formasi, fiksasi, regresi, penolakan, rasionalisasi, salah sasaran, dan introjeksi.

Simptom-simptom itu dapat berkembang menjadi gangguan atau sindroma bagi individu jika dipertahankan terus-menerus. Jadi, simp tom tersebut dapat menimbulkan gangguan mental bagi seseorang, khususnya gangguan neurotik. Yang termasuk gangguan neurotik disini di antaranya: gangguan konversi dan somatoform, gangguan kecemasan, gangguan obsesi, dan gangguan depresi.

Pada mulanya individu berusaha menekan segenap dorongan dan gangguannya, tetapi jika lebih kuat dapat termanifestasi dalam bentuk eksternalisasi dalam perilakunya, dan pada akhirnya menjadi suatu gangguan baginya. Karena itu sangat jelas, bahwa, bagi Freud, gangguan mental itu sebenarnya adalah karena faktor konflik-konflik psikis yang bersifat internal.

Lemahnya ego bagi individu sangat berkaitan dengan pembentu kan awal. Pembentukan awal yang kurang tepat membuat anak tidak dapat memiliki cara penanganan (coping mechanism) yang tepat ter hadap masalah yang dihadapi dan dapat berakibat gangguan mental bagi anak. Secara singkat fase perkembangan anak dan kemungkinan gangguan mentalnya akibat ketidaktepatan dalam perkembangan dikemukakan pada Tabel 6.1.

Tahap perkembangan dan akibat penyelesaian yang tidak memadai

Tahap (usia)Tugas perkembanganPenyelesaian yang tidak memadai
Oral (0-1 th)PenyapihanPerilaku adiktif, seperti me rokok, minum  
Anal (2-3 th)Latihan buang airOveracting; juga tidak peduli dan acuh, obsesional, keras kepala atau gangguan oposisional.  
Phallic (4-5 th)Oedipus complex: identifikasi kepada orangtuaSombong, serampangan gangguan oposisional.  
Latency (6-12)Perkembangan mekanisme pertahanan ego  Tidak ada
Genital (13-18 th)Kematangan seksual, keintiman di masa dewasaDewasa yang terintegrasi seca ra berhasil pada tahap awal akan timbul kejelasan identitas dan minatnya pada tahap ini

Sumber: Hoare, P. dan McIntosh, N. 1993: Essential Child Psychiatry. Edinburgh: Churchill Livingstone, hal. 14.

Epigenetikntal

Erik H. Erikson mengenalkan konsep penembangar manusia yang terjadi dari tahap satu ke tahap berikutnya secara epigenetik. Epigenetik diambil dari konsep embriologi yang berasal dari epi (di atas) dan genetic (asal). Epigenetik artinya proses pertumbuhan orga nisme janin, langkah demi langkah, dan pertumbuhan setiap bagian organ itu muncul pada saat yang paling tepat bagi organ itu.

Bagi Erikson, perkembangan manusia tidak saja tumbuh secara biologis tetapi juga secara psikologis. Perkembangan psikologi ma nusia itu mengikuti prinsip-prinsip epigenetis. Sejalan dengan prinsip epigenetis ini, terdapat delapan tahapan perkembangan yang secara berurutan dilalui. Pada, setiap tahap perkembangan tertentu dapat situasi psikologis yang selalu bertentangan Di satu sisi menggam barkan kepribadian yang berhasil dan di sisi lain adalah kutub kepribadian karena kegagalan. Karena itu menurut Erikson, sebe narnya pada setiap tahap perkembangan merupakan masa krisis bagi setiap individu.

Kedelapan kutub kepribadian itu adalah: (1) kepercayaan dasar lawan ketidakpercayaan dasar; (2) otonomi lawan rasa malu; (3) inisiatif lawan rasa bersalah; (4) ketekunan lawan rasa rendah diri; (5) identitas lawan kebimbangan; (6) keakraban lawan keterasingan; (7) generalitas lawan stagnasi; dan (8) integritas lawan keputusasaan. Fase-fase ini secara lebih detail ditunjukkan pada Tabel 6.2

Kepercayaan vs ketidakpercayaan

Kepercayaan diperoleh pada masa bayi, yang berarti bayi mem percayai kontak dengan ibunya atau pengasuh dekatnya. Selama masa ini, bayi memiliki ketergantungan sepenuhnya kepada ibunya, sekaligus membangun kepercayaan kepada orang lain dan dirinya sendiri. Jika sepanjang masa ini dia ternyata tidak pernah kontak dengan ibunya maka akan muncul perasaan tidak percaya dan me narik diri.

Otonomi vs rasa malu

Anak mulai belajar mengembangkan otonominya sebagai pribadi yang lepas dari pihak lain. Anak mencoba mengembangkan otonominya sendiri. Ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu apakah dia bertindak sesuai dengan yang dikehendaki, atau harus mengikuti kehendak normatif yang ditetapkan orangtuanya. Kalau anak mam

Epigenetik perkembangan kepribadian

Integritas vs     putus asa    Komitmen ideologi vs kebingungan nilai        
 Generatif vs stagnasi   Pemimpin & mengikuti vs kebingungan otoritas    
  Intimasi vs isolasi  Polarisasi seksual vs kebingungan biseksual      
   Indentitas vs kabur identitas      
   Apresiasi vs kelumpuhan  Industri vs inferioritas     
   Eksperimentasi peran vs fiksasi peran   Inisiatif vs bersalah    
   Kepastian diri vs kesadaran diri  Otonomi vs malu   
   Perspektif temporal vs kebingungan waktu     Percaya vs tidak percaya  

Sumber: Erikson, HE. 1988. Identitas dan Siklus Manusia. Jakarta: Gramedia.

Mampu mengembangkan tindakannya sesuai dengan yang dikehendakinya sendiri akan menghasilkan otonomi, tetapi ka harus mengikuti kehendak orangtuanya maka menimbulkan rasa malu atau ragu-ragu.

Inisiatif vs rasa bersalah

Anak mulai bertanya-tanya kejadian lingkunganavi dat mencoba pengalaman baru. Bantuan dan bimbingan orangtua untuk mengem bangkan “daya jelajah” anak akan menimbulkan rasa inisiatif, se dangkan hukuman dan perlakuan yang tidak tepat dari orangtua menghasilkan rasa bersalah. Pada masa ini Ego terbentuk. “Aku adalah apa yang dapat saya rencanakan”.

Ketekunan vs rasa

rendah diri Anak mulai belajar di sekolah. Lingkungan sosialnya juga semakin luas. Di sekolah selain belajar pengetahuan baru juga mengembangkan keterampilannya yang dapat diakui secara umum. Jika dalam per kembangan ini dapat tekun, berhasil dan memperoleh penghargaan dari guru dan temannya, akan terbentuk rasa ketekunan. Sebaliknya jika memperoleh reaksi yang sebaliknya dari lingkungan sosialnya akan berakibat rasa rendah diri.

Identitas vs kebingungan peran

Banyak perubahan terjadi pada fase ini. Yang sangat penting bagi remaja adalah pencarian identitasnya. Dia belajar meninggalkan peran kanak-kanaknya dan belajar peran baru sejalan dengan tuntutan baru sebagai orang yang siap menjadi dewasa. Remaja yang dapat menemukan identitas dirinya serta memiliki peran yang baik akan mencapai tingkat identitas yang mantap, sementara jika tidak men capai berakhir dengan rasa kebimbangan peran.

Keintiman vs isolasi

Pada usia dewasa awal ini, seseorang mengembangkan relasi baru, kepada orang yang sejenis dan yang penting membangun relasi dengan lawan jenis. Orang yang memiliki identitas mantap memiliki kecenderungan memiliki keintiman yang baik dibandingkan dengan yang kebingungan peran. Orang yang berhasil membangun relasi akan membentuk kepribadian yang memiliki rasa intim, sebaliknya yang tidak mampu membangun relasi intim akan menghasilkan rasa terisolasi.

Generatif vs stagnasi

Masa fase ini orang dewasa mulai mengembangkan usahanya secara produktif. Di keluarganya mulai mendidik anak, di duris kerja juga berada di puncak “kemampuan kerja”. Mereka yang berhasi cara hidup yang baik akan menimbulkan rasa generatif, sementara yang gagal akan merasa stagnasi;

Integritas vs keputusasaan

Pada masa ini waktunya lebih banyak digunakan untuk melihat perjalanan kehidupannya. Jika pada fase-fase sebelumnya berhasil, dan dapat menerima siklus serta lingkungan kehidupannya maka akan mencapai integritas. Jika menolak pengalaman dan perjalanan hidupnya akan merasa keputusasaan.

Jadi kedelapan tahap perkembangan itu sekaligus sebagai fase krisis. Kegagalan dalam menyelesaikan fase krisisnya akan menim bulkan hambatan dan gangguan mental bagi seseorang. Berbagai problem kesehatan mental yang dihadapi anak, berkenaan dengan ketidakterselesaikannya saat-saat krisis ini, yang secara sederhana digambarkan pada Tabel 6.3.

Demikian referensi buku ajar dengan judul Kesehatan Mental apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.

Sumber: Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan Moeljono Notosoedirdjo, Latipun (2001)