RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Psikologi Pendidikan .
Pendahuluan
Perubahan-perubahan Perkembangan Terkait Perasaan Diri
Kita telah mencermati bagaimana persepsi diri berubah seiring perubahan usia: Anak anak secara bertahap membedakan “bagian-bagian” diri mereka-bagian akademis, bagian sosial, bagian penampilan fisik, dan sebagainya. Meski demikian, pakar-pakar teori perkembangan telah lama mengetahui bahwa keyakinan dan perasaan anak-anak dan remaja mengenai diri mereka juga berubah. Seorang pionir teori perkembangan, Erik Erikson, mengajukan dalil bahwa pandangan orang mengenai diri mereka dan orang lain berubah secara signifikan tidak hanya selama masa kanak-kanak dan dewasa, namun sepanjang rentang kehidupan. Gambar 3.3 menampilkan teori klasik Erikson mengenai delapan tahap psikososial. Dalam subbab-subbab berikut kita akan mempelajari hasil penelitian para ilmuwan kontemporer mengenai perubahan perkembangan terkait perasaan diri anak dan remaja.
Masa Kanak-kanak Anak-anak SD cenderung membayangkan diri mereka secara konkret, dengan karakteristik-karakteristik fisik dan perilaku yang dapat diamati dengan mudah (D. Hart, 1988; Harter, 1983). Misalnya, saat menginjak usia 9 tahun, Alex, anak laki-laki saya, menjabarkan dirinya seperti ini:
Saya memiliki rambut cokelat, mata cokelat. Saya suka mengenakan kaos berkerah pendek. Rambut saya keriting. Saya anak adopsi. Saya dilahirkan di Denver. Saya suka hewan pengerat. Olahraga favorit saya adalah baseball. Prestasi saya di sekolah cukup baik. Saya memiliki seekor kadal, dan saya berencana mendapatkan kadal kedua.
Dalam komunitas yang terdiri dari beragam ras dan budaya, yang di dalamnya perbedaan berbagai warna kulit, bahasa, dan adat-istiadat tampak nyata, anak-anak mungkin mengklasifikasikan diri mereka sebagai anggota suatu kelompok ras atau kelompok etnis tertentu (Phinney, 1990; heets, 1999). Sebagai contoh, sekalipun Tina, putri saya, dibesarkan di keluarga Eropa-Amerika, warisan genetiknya adalah ras Amerika dan Hispanik. Dari potret diri yang dilukisnya saat ia duduk di bangku kelas dua SD (Gambar 3.4), tampak jelas bahwa ia menyadari rambutnya dan warna kulitnya lebih hitam daripada sebagian besar teman-temannya.
Selama masa TK. dan SD, sebagian besar anak memiliki perasaan diri yang positif (Robins & Trzesniewski, 2005). Seringkali mereka meyakini bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih besar daripada yang sesungguhnya dimilikinya, dan bahwa mereka dapat dengan mudah mengatasi kegagalan-kegagalan awal (Harter, 1999; Lockhart, Chang, & Story, 2002; Paris & Cunningham, 1996). Seiring peningkatan kemampuannya untuk membandingkan dirinya dengan teman-temannya selama masa masa SD dan seiring peningkatan kemampuan kognitifnya untuk membuat perbandingan semacam itu, asesmen-diri mereka menjadi semakin realistis (Chapman, Tunmer, & Prochnow, 2000; Harter, 1999). Mereka juga mulai mampu menggabungkan berbagai observasi-diri tersebut menjadi generalisasi mengenai identitas diri mereka bisa jadi orang yang ramah, mahir berolahraga, cerdas, atau bodoh; dan entah berdampak baik atau buruk, generalisasi semacam itu pada akhirnya menimbulkan suatu konsep diri yang relatif stabil (D. A. Cole et. al., 2001, Harter, 1999).
Masa Remaja Awal Saat memasuki masa remaja dan semakin menguasai kemampuan melakukan pemikiran abstrak, para siswa semakin mampu mengidentifikasi dirinya dalam kerangka trait-trait yang umum dan relatif stabil. Cermatilah deskripsi-diri Tina, putri saya, saat ia duduk di kelas enam:
Saya cewek yang keren. Saya mempesona. Ya, saya keren. Saya berusia dua belas tahun. Saya tergila-gila pada anak cowok. Saya bersekolah di SMP Brentwood. Saya populer dan mempunyai banyak fans. Saya bermain biola alto. Sahabat karib saya adalah Lindsay. Saya memiliki gerbil (sejenis tikus) bernama Taj. Saya anak adopsi. Saya cantik.
Sekalipun daftar di atas memuat sejumlah karakteristik konkret mengenai dirinya, tampak jelas bahwa Tina telah memiliki suatu persepsi-diri yang relatif abstrak. Fokusnya ke karakteristik dirinya yang “keren” (cool), populer, dan cantik, alih-alih ke karakteristik seperti kecerdasan atau prestasi akademis (atau, kalau saya boleh tambahkan, ke kerendahan hari), adalah ciri-ciri yang lazim dijumpai pada remaja: Bagi sebagian besar remaja awal, penerimaan sosial dan penampilan fisik jauh lebih penting dibandingkan kompetensi akademis (D. Hart, 1998; Harter, 1999).
Konsep-diri dan harga-diri siswa seringkali jatuh saat mereka mengalami masa masa transisi dari SD ke SMP atau SMU, dan kejatuhan tersebut lebih besar terjadi pada anak perempuan dibandingkan pada anak laki-laki (D. A. Cole et. al., 2001; Harter, 1999; Robins & Trzesniewski, 2005). Perubahan fisiologis yang terjadi seiring pubertas bisa saja menjadi faktor yang berpengaruh: Anak laki-laki dan perempuan cenderung menganggap diri mereka berkurang daya tarik fisiknya saat mereka memasuki masa remaja (T. A. Bender, 1997; Cornell et. al., 1990; Harter, Whitesell, & Junkin, 1998). Perubahan dalam lingkungan sekolah-putusnya hubungan persahabatan, hubungan guru-siswa yang bersifat superfisial saja (superficial relationship), tuntutan akademis yang semakin ketat dapat juga memberikan dampak negatif (kita akan membahasnya lebih lanjut dalam Bab 11).
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, pada masa remaja awal muncul dua fenomena baru yang memiliki implikasi terhadap perasaan diri siswa. Pertama, siswa menjadi semakin mampu, secara kognitif, untuk merefleksikan bagaimana orang lain memandang diri mereka (Harter, 1999). Pada awalnya, mereka mungkin melakukan hal tersebut secara ekstrim: mereka berpikir bahwa dalam segala situasi sosial, perhatian semua orang terpusat ke mereka (Elkind, 1981; Lapsley, 1993; R. M. Ryan & Kuczkowski, 1994). Aspek berpusat-pada-diri (self-centered) pada perasaan diri para remaja muda tersebut terkadang diistilahkan sebagai audiens imajiner (imaginary audience). Para remaja muda seringkali meyakini diri mereka sebagai pusat perhatian (terutama remaja perempuan); hal ini membuat pikiran mereka dipenuhi kepedulian atau kekhawatiran terhadap penampilan fisik, dan karena itu pula lebih sering mengkritik performa fisik dirinya (self-critical). Kepekaan yang ekstrim terhadap rasa malu, ditambah keterampilan sosial yang kurang memadai, menyebabkan beberapa remaja merespons kekerasan yang kata-kata yang kasar atau situasi-situasi memalukan lainnya dengan tidak perlu (Lowry, Sleet, Duncan, Powell, & Kolbe, 1995). Cermatilah apa yang terjadi saat seorang remaja muda-seorang siswa dengan gangguan belajar yang membuatnya sulit memahami bacaan-dicemooh oleh seorang temannya:
“Kesabaran saya habis saat salah seorang anak menghampiri saya dan mengatakan sesuatu mengenai kemampuan saya membaca. Ia berkata, “Wow, kamu pasti anak bodoh” dan, ya, setelah itu situasi menjadi ribut karena saya langsung berpaling dan menghantamnya.” (Zambo & Brem, 2004, hlm. 6).
Fenomena kedua yang patut dicermati selama masa remaja awal adalah munculnya fabel pribadi (personal fable): Para remaja muda umumnya meyakini bahwa diri mereka sungguh-sungguh tidak memiliki padanannya di dunia ini (Elkind, 1981; Lapsley, 1993). Mereka cenderung berpikir bahwa perasaan mereka unik, bahwa orang-orang di sekelilingnya tidak pernah merasakan emosi seperti yang mereka rasakan. Akibatnya, mereka terkadang bersikukuh bahwa tidak seorang pun bisa memahami apa yang mereka rasakan (terutama orangtua dan para guru mereka). Selain itu, mereka mungkin meyakini bahwa mereka aman dari bahaya-bahaya yang lazim dalam kehidupan; bahwa mereka tidak bisa dilukai dan tidak bisa mati. Akibatnya, banyak remaja mengambil risiko yang tampaknya bodoh, seperti bereksperimen dengan obat-obatan dan alkohol, melakukan hubungan seks tanpa pengaman, atau mengemudi dengan kecepatan tinggi (Arnett, 1995; DeRidder, 1993; Jacobs & Klaczynski, 2002; P. Thomas, Groër, & Droppleman, 1993). Taktik yang bersifat menakut-nakuti-seperti menceritakan tentang para remaja yang tewas akibat overdosis obat-obatan, mengalami AIDS akibat hubungan seks yang tidak aman, atau yang tewas akibat kebut-kebutan-seringkali tidak memiliki dampak signifikan terhadap perilaku mereka. “Itu tidak akan terjadi padaku,” demikian ujar mereka.
Sekalipun audiens imajiner dan fabel pribadi secara perlahan memudar setelah masa remaja awal, sisa-sisa fenomena tersebut masih bertahan sepanjang masa SMU. Beberapa remaja, terutama anak laki-laki, terus ngotot melakukan perilaku-perilaku berisiko. Akibatnya, remaja laki-laki berisiko mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau kematian akibat overdosis obat, dua kali lebih besar dari remaja putri (Frankenberger, 2000; Lapsley, 1993; Nell, 2002).
Masa Remaja Akhir Mayoritas remaja akhir telah melampaui masa-masa pubertas yang sarat kebingungan dan naik-turunnya emosi dan juga telah melampaui pengalaman bersekolah yang tidak selalu menyenangkan, sehingga mampu menikmati konsep diri dan kesehatan mental yang positif (Harter, 1999; S. I. Powers, Hauser, & Kilner, 1989). Meski demikian, mereka semakin memikirkan berbagai karakteristik dan keterampilannya dan mulai bergulat dengan ketidakkonsistenan dalam persepsi-diri mereka. Seorang siswa kelas sembilan menjelaskannya seperti ini:
Saya benar-benar tidak memahami bagaimana saya dapat berubah sedemikian cepat, dari gembira bersama teman-teman saya, kemudian pulang ke rumah merasa cemas, dan kemudian merasa marah dan menjadi sarkastik dengan orangtua saya. Yang manakah saya yang sesungguhnya? (Harter, 1999, hlm. 67)
Pada akhirnya, mungkin di kelas sebelas, sebagian besar siswa mampu mengintegrasikan beragam persepsi-dirinya menjadi suatu perasaan diri yang kompleks dan beraneka-segi (multifacet) yang mampu mendamaikan berbagai kontradiksi yang ada. Sebagai contoh, mereka mungkin menyimpulkan bahwa emosi-emosi yang berbeda menunjukkan bahwa mereka moody, dan bahwa perilaku mereka yang tidak sama dalam beragam peristiwa menunjukkan sikap yang fleksibel (Harter, 1999).
Demikian referensi buku ajar dengan judul Psikologi Pendidikan apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
Sumber: Psikologi Pendidikan Jeanne Ellis Ormrod ( Erlangga 2008)
