RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Psikologi Kepribadian
Pengantar
Terdapat pendekatan tambahan pada skala laporan diri yang digunakan oleh Personality Research Form (PRF) (Jackson & Mesick, 1967). PRF pada awalnya disusun untuk mengukur konsep kebutuhan dan motivasi dasar yang diajukan oleh Henry Murray (1938). Oleh sebab itu, tes tersebut diciptakan dari teori, namun dikembangkan dengan menggunakan teknik korelasional. Asesmen laporan diri lain yang berlandaskan langsung pada teori kepribadian adalah Myers-Briggs Type Indicator, atau MBTI (Hammer, 1996), yang disusun berdasarkan teori tipe dari Carl Jung (alat ini juga akan dibahas di Bab 8). Asesmen kepribadian selalu dihadapkan pada pertentangan antara pendekatan induktif yang berdasarkan pada data, dan pendekatan deduktif yang berdasarkan pada teori yang kuat. Seperti yang akan kita lihat, kedua pendekatan telah terbukti sama bergunanya.
Tes Q-Sort
Sebuah metode menarik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data laporan diri yang lebih aktif dibandingkan dengan kuesioner adalah Q-sort. Dalam Q-sort, seseorang dihadapkan pada setumpuk kartu yang berisi bermacam-macam nama karakteristik dan diminta untuk memilah kartu-kartu tersebut dalam tumpukan tumpukan yang masing-masingnya menggambarkan sebuah dimensi, sebagai contoh, “paling tidak sesuai” sampai dengan “paling sesuai dengan diri.” Sebuah kartu dapat bertuliskan “pada dasarnya penggugup” atau “pemikir.” Dengan memberi tahu peserta tes berapa banyak tumpukan yang harus dibuat dan berapa banyak kartu yang harus ada dalam setiap tumpukan, analisis tes dapat memastikan bahwa data laporan diri membentuk distribusi statistik yang diinginkan. (Jika distribusi yang dihasilkan membentuk kurva normal, akan terbentuk distribusi yang disebut distribusi normal buatan [forced normal distribution].) Perlu diingat bahwa peserta tes membuat perbandingan di antara karakteristik mereka sendiri, namun tidak membandingkan diri mereka dengan orang lain.
Keunggulan unik dari Q-sort adalah item (karakteristik) yang dipilah dapat dibuat konstan sementara konteksnya bisa diubah. Sebagai contoh, setelah me milah (mendeskripsikan) untuk dirinya sendiri, seseorang bisa diminta untuk menggunakan kartu Q-sort yang sama untuk menggambarkan istrinya, dirinya ketika masih kecil, atau dirinya yang ia idealkan. Perbandingan antara hasil-hasil Q-sort dapat mengungkapkan pendekatan seseorang pada karakteristik yang sedang dilihat (Ozer, 1993).
Q-sort juga dapat digunakan untuk mengodekan perilaku dalam situasi terstruktur (Funder, Furr, & Colvin, 2000). Sebagai contoh, perilaku seorang mahasiswa pria dapat diobservasi (entah secara langsung atau melalui kaset video) ketika ia sedang berada dalam situasi di mana ia bertemu mahasiswa wanita, dibandingkan dengan ketika ia berada dalam situasi di mana ia bertemu siswa pria. Pengamat dapat menggambarkan perilakunya dengan memilih kartu yang cocok dari sejumlah perilaku dasar, seperti “terlihat ramah,” “bertindak seperti tidak nyaman,” “berbicara dengan lancar,” dan seterusnya. Pilihan-pilihannya kemudian bisa dipilah dari yang paling menggambarkan dan relevan hingga yang paling tidak menggambarkan. Metode-metode semacam ini menggambarkan usaha modern untuk menangkap data perilaku yang lebih objektif dalam mempelajari kepribadian.
Penilaian Orang Lain
Pada tahun 1921, Lewis Terman mengadakan sebuah penelitian pada lebih dan 1500 anak laki-laki dan wanita cerdas di sekolah-sekolah di California. Terman, yang mengembangkan tes kecerdasan Stanford-Binet, tertarik melihat bagaimana pertumbuhan anak-anak yang sangat cerdas. Apakah mereka akan menjadi kutu buku yang anch dan tidak bisa bersosialisasi? Menancapkan tujuan yang tinggi Pemimpin yang persuasif? Untuk menelusuri masalah ini, Terman melakukan penelitian longitudinal pada anak-anak ini-memeriksa tidak hanya kecerdasan tinggi mereka, namun juga kepribadian dan keahlian sosial mereka (Terman, 1921).
Tes kepribadian laporan diri yang valid dan reliabel belumlah dikembangkan. Untungnya, Terman memiliki ide yang cerdas, sebuah ide yang harus diikuti lebih sering oleh penelitian kepribadian saat ini. Terman mengumpulkan berbagai jenis informasi lain mengenai anak-anak ini. Sebagai contoh, selama tahun ajaran 1921-1922, Terman meminta orang tua dan guru menilai anak-anaknya (yang berumur sekitar 11 tahun) dalam sejumlah dimensi, termasuk dimensi berikut:
Kewaspadaan (prudence/forethought)
Ketidaksombongan (freedom from vanity)
Keteraturan (conscientiousness) Kejujuran (truthfulness)
Secara bersama-sama, penilaian ini dengan jelas membentuk alat ukur yang baik terhadap keteraturan/ketergantungan sosial. Sangat masuk akal untuk mengharapkan orang tua dan guru dapat membedakan apakah seorang anak berumur 11 tahun memiliki sifat teratur dan ketergantungan sosial. Ternyata penilaian ini benar reliabel; sebagai contoh, koefisien alfa untuk keempat dimensi ini adalah 0,76. Dan ternyata pula, penilaian ini juga valid; mereka memperkirakan banyak perilaku lain yang dapat kita harapkan dari anak-anak seperti itu. Namun yang paling menarik adalah bahwa penilaian keteraturan/ketergantungan ini (dari tahun 1922) ternyata menjadi prediktor yang baik untuk umur yang panjang! Anak-anak yang dinilai lebih teratur, secara signifikan, cenderung hidup lebih lama dibandingkan mereka yang dinilai rendah dalam skala ini (Friedman dkk. 1993). Efeknya dapat dibandingkan dengan indikator kesehatan biologis yang umum, seperti tingkat kolesterol. Tentunya, suatu informasi penting mengenai individu sedang diukur oleh peringkat yang diberikan oleh orang tua dan guru pada item kuesioner seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.1. Singkatnya, penilaian dari orang yang lebih tahu terkadang dapat menjadi cara yang sangat efektif dalam lain penganalisisan kepribadian.
Sumber : Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern Howard S. Friedman & Miriam W. Schustack Erlangga 2006
