RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Psikologi Pendidikan .
Pendahuluan
Pikirkan tentang nilai akhir yang Anda peroleh selama bertahun tahun. Apa yang mereka katakan tentang prestasimu di kelas? Apa yang tidak mereka katakan tentang prestasimu di kelas? Apakah menurutmu rata rata nilaimu di SMA dan perguruan tinggi merupakan indikator yang baik tentang seberapa banyak Anda belajar? Mengapa dan mengapa tidak?
Sebagai guru, kita kehilangan banyak informasi ketika kita merangkum pembelajaran siswa sebagai satu nilai pelajaran, dan kita bahkan kehilangan lebih banyak informasi ketika kita menggabungkan nilai setiap siswa kedalam satu nilai rata-rata (Delandshere & Petrosky, 1998). Namun untuk tujuan pembuatan keputusan-dengan memutuskan siswa mana yang naik ke kelas selanjutnya, siswa mana yang layak memperoleh ijazah SMA, siswa mana yang masuk ke universitas-universitas terpilih, dan sebagainya-kita harus merangkum prestasi siswa dalam beberapa cara. Mendaftar semua hal yang diketahui dan dapat dilakukan siswa sangat tidak praktis, karena kita akan menghabiskan sebagian besar waktu untuk membuat catatan dan tidak memiliki banyak waktu untuk membantu siswa belajar.
Di bab ini, kita akan meneliti beberapa cara merangkum prestasi siswa, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apa saja jenis-jenis skor yang mungkin Anda gunakan untuk merangkum performa siswa di sebuah asesmen kelas? Manakah dari skor-skor ini yang sering digunakan dalam melaporkan performa siswa di tes-tes terstandarisasi, dan apakah artinya?
- Panduan apa yang harus Anda ingat ketika menentukan nilai akhir?
- Apa saja bentuk-bentuk portofolio siswa? Apa tujuan portofolio-portofolio tersebut?
- Dalam cara apa tes-tes prestasi dan kecakapan yang terstandarisasi dapat membantumu?
- Bagaimana penggunaan ujian penentu kelulusan (high stakes test) membuat siswa dan guru bertanggung jawab terhadap pembelajaran di kelas? Di Amerika Serikat, apa implikasi dari “No Child Left behind Act” (Undang-Undang Persamaan Pendidikan bagi Anak-anak) tahun 2001 bagi akuntabilitas guru?
- Siapakah yang seharusnya mengetahui nilai prestasi dan nilai akhir siswa? Bagaimana Anda mengomunikasikan hasil tersebut?
Meninjau Kembali Self-Regulation dan Karakteristik RSVP
Meskipun Ellie tahu bahwa dia melakukan beberapa kesalahan dalam kuis dan tugas-tugas sejarah, tampaknya dia tidak sadar bahwa kesalahan tersebut mengakibatkan nilai B. Dan dengan catatan nilai A-nya di masa lalu, dia menerapkan standar yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri. Baginya, hanya nilai sempurna yang dianggap baik-suatu standar yang tidak realistis yang mungkin dimiliki oleh 25 persen anak kelas enam yang berprestasi tinggi (Parker, 1997). Selain itu, Bu Davidson mengumumkan ketidaksempurnaan Ellie ke seisi kelas. Sebagai seorang remaja, Ellie tidak yakin manakah yang lebih buruk: Bahwa teman-temannya menjadi tahu dia memperoleh nilai tertinggi di kelas ataukah bahwa mereka menjadi tahu dia tidak sempurna di mata pelajaran Sejarah. Pengumuman Bu Davidson tidak hanya membuat Ellie sangat tidak nyaman, melainkan juga melanggar haknya untuk menjaga kerahasiaan nilai-nilainya. Dalam kenyataannya, seperti akan kita temukan di bagian selanjutnya bab ini, mengumumkan nilai siswa ke hadapan umum adalah sesuatu yang ilegal, paling tidak di Amerika Serikat.
Apakah Anda penasaran kalau-kalau orangtua Ellie mungkin memberikan konsekuensi (hukuman) yang keras terhadap nilai B? Meskipun beberapa orangtua yang sangat perfeksionis mungkin melakukan hal demikian, orangtua Ellie cukup nyaman dengan nilai B putri mereka. (Mereka jauh lebih memperhatikan adik laki-laki Ellie, siswa kelas dua yang masih kesulitan dengan kemampuan dasar membaca dan mungkin mengalami kesulitan belajar.) Standar tinggi Ellie terhadap prestasi ditetapkan oleh dirinya sendiri (self-imposed), yang mungkin sebagian karena dia mampu memenuhinya dalam beberapa tahun terakhir, ketika materi pelajaran kurang menantang. Meskipun menetapkan tujuan-tujuan yang tinggi adalah hal yang baik, tujuan-tujuan tersebur harus dapat dicapai alias realistis. Kesempurnaan jarang dapat tercapai, dan hal tersebut cenderung mentabukan kesalahan yang justru merupakan bagian tak terpisahkan dari penguasaan tugas-tugas yang rumit.
Dengan menetapkan tujuan bagi dirinya sendiri, Ellie menunjukkan unsur penting dalam self-regulated learning, yang penting bagi perkembangan jangka panjangnya di sekolah dan dunia profesional selanjutnya. Namun elemen yang sama pentingnya dalam self-regulated learning adalah self-monitoring-menilai kemajuan ke arah tujuan dan di sinilah kekurangan Ellie, mungkin karena dia tidak memiliki informasi yang dibutuhkannya untuk melacak prestasinya. Sebagai guru, kita seharusnya melibatkan siswa dalam proses asesmen prestasi mereka sendiri secara keseluruhan-paling tidak. membagi kriteria asesmen kita dan membantu siswa melacak kemajuan mereka sendiri untuk memenuhi kriteria tersebut. Dan saat melakukan hal-hal ini, kita dapat mendorong siswa menetapkan tujuan yang tinggi bagi diri mereka sendiri bukan kesempurnaan, melainkan tujuan yang mencerminkan kemajuan yang signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan.
Melibatkan siswa dalam asesmen prestasi secara menyeluruh bukan berarti kita harus menyerahkan nilai akhir dan rangkuman prestasi lainnya ke tangan mereka. Sebagai guru, kita harus menjadi satu-satunya orang yang menentukan apa yang telah dicapai siswa. Dan dalam proses merangkum serta menjelaskan kemampuan mereka. kita harus mengingat empat karakteristik RSVP. Secara khusus, suatu indikator prestasi secara menyeluruh harus reliabel, artinya mencerminkan pola prestasi secara konsisten. Indikator tersebut juga harus terstandarisast. Kriteria ini harus diterapkan ke setiap orang, kecuali untuk kondisi-kondisi khusus (mis., kebutuhan khusus para siswa yang mengalami hambatan khusus/cacat). Selain itu, rangkuman prestasi harus valid, artinya, harus mencerminkan secara akurat apa yang telah dipelajari dan dicapai oleh siswa. Dan terakhir, harus praktis dalam hal waktu dan usaha yang dibutuhkan.
Urutan pembahasan kita di bab ini adalah mempertimbangkan bagaimana kita dapat merangkum performa siswa dalam satu instrumen asesmen. Setelah itu, kita akan mempertimbangkan cara-cara merangkum pencapaian siswa pada skala yang lebih besar.
Merangkum Hasil Suatu Asesmen Tunggal
Salah satu cara merangkum hasil instrumen asesmen tunggal adalah memadatkannya ke dalam satu deskripsi verbal singkat tentang hal-hal yang lah dikerjakan siswa dengan baik dan hal-hal yang masih perlu terus dilakukan siswa. Penjelasan tersebut dapat menangkap sifat multidimensi dari performa siswa dan menyediakan umpan balik yang dibutuhkan siswa untuk memperoleh penguasaan yang lebih besar atas suatu mata pelajaran. Meski demikian, jika dilakukan secara rutin, menulis rangkuman performa setiap siswa di setiap asesmen kelas akan sangat memakan waktu (masalah praktikalitas).
Biasanya, guru menggunakan nilai angka atau huruf untuk merangkum bagaimana performa siswa dalam suatu asesmen kelas individual. Untuk menyederhanakan pembahasan kita, kita akan berfokus pada angka, yang akan kita sebut sebagai skor. Namun harus kita ingat bahwa para guru sering menggunakan skor untuk menetapkan nilai huruf (letter grades), dan mereka terkadang menerjemahkan nilai huruf menjadi angka yang kemudian dapat digunakan untuk menghitung nilai akhir kelas. Skor pada asesmen individual, baik instrumen yang dikembangkan guru maupun tes-tes terstandarisasi, biasanya menggunakan salah satu dari ketiga bentuk ini: skor mentah, skor acuan kriteria, dan skor acuan norma.
Skor Mentah
Terkadang sebuah skor hanya merupakan angka atau presentase item-item yang direspons siswa secara benar. Di lain waktu, skor adalah jumlah poin yang dihasilkan siswa untuk berbagai macam item (2 poin untuk satu item, 5 poin untuk item lainnya, seorang dan lain-lain). Sebuah skor yang hanya berdasarkan pada angka atau nilai poin dari jawaban yang benar disebut skor mentah (raw score).
Skor mentah mudah dihitung, dan tampaknya mudah dipahami. Namun terkadang kita kesulitan mengetahui apa sesungguhnya skor mentah itu. Apakah 75 skor yang baik atau skor yang persen adalah buruk? Tanpa mengetahui jenis tugas yang tercakup dalam instrumen asesmen atau bagaimana performa siswa-siswa lain dalam asesmen yang sama, kita tidak dapat menentukan seberapa baik atau buruk skor 75 persen tersebut. Untuk alasan inilah, skor mentah tidak selalu seberguna skor acuan kriteria atau skor acuan norma.
Skor Acuan Kriteria
Seperti mungkin telah Anda duga, skor acuan kriteria dan acuan norma digunakan masing-masing dengan instrumen acuan kriteria dan instrumen acuan norma. Secara lebih spesifik skor acuan kriteria (criterion-referenced score) mengindikasikan apa yang telah dicapai siswa dalam kaitannya dengan tujuan atau standar pengajaran tertent Beberapa skor acuan kriteria merupakan skor yang mengindikasikan bahwa siswa telah bulus atau gagal dalam sebuah unit, menguasai atau tidak menguasai suatu keterampilan atau memenuhi atau tidak memenuhi suatu tujuan. Yang lainnya mengindikasikan berbagai tingkat kompetensi atau pencapaian. Misalnya, ketika menskor karangan komposisi siswa kelas lima dalam sebuah asesmen menulis se-wilayah kecamatan, dina pendidikan kecamatan mengidentifikasi empat tingkat keahlian menulis, masing-masing dengan karakteristik-karakteristik tertentu:
Dalam kemajuan: Adalah pesan yang belum berkembang dan/atau tidak terfokus.
Esensial: Adalah serangkaian ide yang deskriptif cukup tepat dan layak.
Pandai: Memenuhi kriteria Tingkat Esensial dan mengandung kemajuan ide-ide yang logis. Pola pengaturan dan transisi ide-ide mengalir. Pilihan kata meningkatkan penulisan.
Maju: Memenuhi kriteria Tingkat Pandai dan memiliki salah satu atau beberapa hal berikut ini: wawasan, kreativitas, kefasihan, pemikiran kritis, atau gaya.
Jika suatu instrumen asesmen tertentu dirancang untuk menilai hanya satu sasaran atau standar pengajaran saja, instrumen tersebut mungkin menghasilkan hanya skor acuan kriteria tunggal. Jika dirancang untuk menilai beberapa area prestasi secara bersamaan, performa seorang siswa mungkin dilaporkan sebagai sebuah daftar berbagai macam keterampilan yang dikuasai dan tidak dikuasai.
Kita seringkali ingin menggunakan suatu pendekatan acuan kriteria untuk merangkum apa yang telah dipelajari siswa, khususnya ketika menilai kemampuan dasar yang merupakan prasyarat penting bagi pembelajaran selanjutnya. Hanya melalui asesmen acuan kriteria, kita dapat menentukan sasaran spesifik mana yang telah dicapai siswa, keterampilan khusus apa yang telah mereka kuasai, dan kesenjangan apa yang masih ada dalam pengetahuan dan keterampilan mereka.
Demikian referensi buku ajar dengan judul Psikologi Pendidikan apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
Sumber: Psikologi Pendidikan Jeanne Ellis Ormrod ( Erlangga 2008)
