RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Psikologi Pendidikan .
TABEL 16,4 SISWA DALAM KONDISI INKLUSIF
Menggunakan Tes Terstandarisasi bagi Siswa-siswa Berkebutuhan Pendidikan Khusus
| Kategori | Karakteristik yang Mungkin Anda Amati | Strategi yang Disarankan di Kelas |
| Siswa yang mengalam masalah kognitif atau akademik yang spesifik | Kemampuan mendengarkan, membaca, dan/ atau menulis yang buruk (pada beberapa siswa)Kecenderungan skor tes meremehkan (under estimatel tingkat prestasi keseluruhan jika siswa memiliki kemampuan membaca yang buruk.Performa yang tidak konsisten karena perilaku off-task (mis., hiperaktivitas, ketidakacuhan), yang memengaruhi reliabilitas dan validitas skor (pada beberapa siswa yang mengalami kesulitan belajar belajar atau ADHD)Kecemasan akan tes yang lebih tinggi dari rata-rata | Modifikasilah prosedur pelaksanaan tes untuk mempermudah hambatan khusus yang teridentifikasi dalam IEP siswa (mis ketika melaksanakan sebuah tes esai se-gugus sekolah, izinkan siswa yang mengalami hambatan khusus dalam menulis untuk menggunakan pengolah kata dan pemeriksa ejaan).Mintalah siswa mengerjakan tes di sebuah ruangan yang tidak banyak distraksinya.Pastikan siswa memahami apa yang harus mereka lakukan.Pastikan siswa termotivasi untuk bekerja sebaik mungkin namun tidak terlalu cemas.Gunakan asesmen kelas (formal dan informal) untuk meng confirm atau men-disconfirm hasil tes terstandarisasiCatat dan laporkan semua modifikasi terhadap prosedur prosedur terstandarisasi. |
| Siswa yang mengalami masalah sosial atau perilaku | Performa yang tak konsisten yang disebabkan perilaku off-task atau kurangnya motivasi, yang memengaruhi reliabilitas dan validitas skor (pada beberapa siswa) | Modifikasilah prosedur pelaksanaan tes untuk mengako modasi hambatan khusus yang teridentifikasi dalam IEP siswa (mis, ketika siswa mudah terganggu, laksanakan tes secara perorangan di ruangan yang sepi).Gunakan asesmen kelas (formal dan informal) untuk meng confirm atau disconfirm hasil tes terstandarisasi.Catat dan laporkan semua modifikasi terhadap prosedur prosedur terstandarisasi. |
| Siswa yang mengalami keterlambatan umum dalam fungsi kognitif dan sosial | Pembelajaran dan pengolahan/pemrosesan kognitif yang lambat.Keterampilan membaca yang terbatas atau tidak punya keterampilan membaca sama sekaliKemampuan mendengarkan yang buruk | Pilihiah instrumen yang tepat bagi kemampuan kognitif serta keterampilan membaca dan menulis siswa.Minimalkan penggunaan instrumen yang dijalankan untuk seisi kelas sekaligus pada saat bersamaan; usahakan untuk lebih mengandalkan instrumen yang diterapkan ke satu siswa dalam satu waktu.Pastikan siswa memahami apa yang harus mereka lakukan. |
| Siswa yang mengalami masalah fisik atau sensori | Masalah mobilitas pada beberapa siswa yang mengalami hambatan fisik)Kecenderungan muda lah pada beberapa siswa yang mengalami hambatan fisikKemampuan bahasa yang kurang berkembang, yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis (pada beberapa siswa yang mengalami masalah pendengaran) | Dapatkan materi-materi tes yang dimodifikasi bagi para siswa yang mengalami gangguan visual imis, buklet tes bercetak besar atau buklet tes Braille).Modifikasi prosedur pelaksanaan tes untuk mengakomodasi kebutuhan unik siswa (mis., mintalah seorang penerjemah bahasa isyarat untuk mengarahkan siswa yang tuli, mintalah siswa dengan kendali otot yang terbatas untuk mendikte jawaban mereka).jika kemampuan membaca dan menulis lemah, bacakan soal tes ke siswaBagilah tes yang panjang menjadi beberapa segmen yang dapat dilaksanakan dalam kesempatan secara terpisah. Jadwaikan tes pada saat-saat di mana siswa merasa santai siap.Catat dan laporkan semua modifikasi terhadap prosedur prosedur terstandarisasi.jangan bandingkan performa seorang siswa dengan kelompok norma jika modifikasi yang signifikan telah dibuat. |
| Siswa yang perkembangan kognitifnya tinggi | Minat dan keterlibatan yang lebih besar dalam tes-tes yang menantangKecenderungan pada beberapa siswa untuk me nyembunyikan bakat guna menghindari ejekan temanPada beberapa contoh, tingkat kemampuan melampaui jangkauan tes yang biasanya ditujukan untuk tingkat kelasnya. | Tetap rahasiakan hasil asesmen.Ketika siswa selalu menghasilkan skor yang sempurnya atau nyaris sempurna (mis,, rangking persentil 99), mintalah ujian yang terindividualisasi yang dapat menilai secara lebih akurat tingkat kemampuan mereka yang sangat tinggi. |
Mengomunikasikan Hasil Asesmen ke Siswa dan Orangtua
Mari kita kembali ke studi kasus pembuka di Bab 15, di mana Bu Ford mengembalikan hasil tes matematika yang mengecewakan ke para siswanya. Perhatikan pendekatan yang digunakannya untuk mengomunikasikan skor tes ke orangtua siswa:
Bu Ford: Baiklah, anak-anak, ssshh. Saya mau mengatakan, pada tes ini khususnya, jika kalian mendapat nilai di bawah 75 kalian harus memperbaikinya. Saya berharap kuis ini dikembalikan dengan tandatangan orangtuamu di kertas itu. Saya ingin orangtuamu tahu apa yang sedang kita lakukan.
Siswa: Tidak!
Siswa: Apakah kami harus menunjukkan kepada orangtua kami? Apakah ini syarat untuk lulus?
Bu Ford: Jika kalian tidak mengembalikannya dengan tandatangan, saya akan menelepon ke rumah. (J. C. Turner, Meyer et. al., 1998, hlm. 741)
Bu Ford ingin orangtua mengetahui bahwa anak-anak mereka tidak bekerja dengan baik di kelas matematikanya. Namun, ada tiga kelemahan pendekatan ini. Pertama, banyak siswa mungkin menganggap lebih mudah memalsukan tandatangan daripada menyampaikan berita buruk ke orangtua mereka. Kedua, orangtua yang melihat hasil tes anak-anak mereka tidak akan memiliki banyak informasi untuk membantu mereka menafsirkan hasil tes tersebut (apakah skor yang rendah disebabkan oleh kurangnya usaha? strategi belajar yang buruk? kesulitan belajar yang tidak terdiagnosa? cara mengajar guru yang buruk?). Dan ketiga, Bu Ford berfokus sepenuhnya pada masalah tersebut-prestasi yang rendah—tanpa menawarkan saran apa pun untuk memecahkan masalah itu.
Pada akhirnya, kita harus berketetapan untuk bekerja sama dengan siswa dan orangtua demi mencapai sesuatu yang diinginkan oleh kita semua: Kesuksesan 14 akademik siswa. Tujuan utama kita dalam mengomunikasikan hasil asesmen adalah membagi informasi yang akan membantu kita mencapai akhir tersebut-sesuatu yang diabaikan Bu Ford. Selain itu, karena hampir semua siswanya bekerja dengan buruk pada tes tersebut, Bu Ford seharusnya mempertimbangkan apakah sesuatu yang telah dilakukannya atau tidak dilakukannya-mungkin bertanggungjawab terhadap skor yang rendah tersebut. Misalnya, mungkin waktu yang dialokasikannya untuk konsep dan kemampuan tertentu tidak memadai, menggunakan strategi yang tidak efektif dalam mengajarkannya, atau membuat tes yang sangat sulit.
Ketika kita harus melaporkan hasil tes terstandarisasi, kita menghadapi tantangan yang berbeda. Bagaimana kita menjelaskan tes terstandarisasi dan hasil tes ke siswa dan orangtua yang kemungkinan besar tidak pernah membaca bab tentang asesmen di buku psikologi pendidikan? Berikut ini beberapa panduan umum yang ditawarkan oleh para ahli bertahun-tahun yang lalu namun masih relevan saat ini Ricks, 1959).
- Pastikan Anda sendiri memahami hasil itu. Ketika Anda memberitahu orangtua tentang performa siswa di tes terstandarisasi, kita harus mengetahui reliabilitas dan validitas tes untuk situasi di dalamnya kita telah menggunakannya. Kita juga harus tahu bagaimana skor tes diperoleh. Misalnya, kita harus tahu apakah skor tersebut menggunakan acuan kriteria atau acuan norma. Jika acuan norma, kita juga mengetahui kelompok norma yang digunakan.
- Ingat bahwa di banyak kasus, menggambarkan tes dan performa tes siswa dalam istilah yang luas dan umum itu sudah cukup. Untuk mengilustrasikannya, kita mungkin menggambarkan suatu tes prestasi (achievement test) sebagai ukuran umum tentang seberapa banyak seorang siswa telah mempelajari matematika, dibandingkan dengan yang dipelajari oleh siswa-siswa lain di seluruh negeri, atau menggambarkan tes kemampuan/bakat skolastik sebagai sesuatu yang memberikan gambaran garis besar tentang seberapa baik performa seorang siswa dalam program pengajaran tertentu. Kadang kita mungkin saja menggambarkan performa tes seorang siswa tanpa menyebutkan skor tes sama sekali. Misalnya, kita dapat berkata, “Skor putri bapak/ibu sama baiknya dengan skor mahasiswa yang bekerja dengan baik di mata kuliah matematika,” atau “Putra bapak/ibu memiliki kesulitan di atas rata-rata pada bagian ejaan di tes prestasi; ini adalah area di mana dia mungkin membutuhkan bantuan ekstra dalam beberapa tahun ke depan.” Namun, jika orangtua ingin mengetahui skor tes spesifik anak mereka, di Amerika Serikat FERPA mengharuskan kita untuk mengungkapkan skor-skor tersebut dan membantu orangtua memahami apa maksud angka atau huruf yang tertera di situ.
- Ketika melaporkan skor tes tertentu, gunakan peringkat persentil dan stanine ketimbang skor setara kelas atau skor IQ. Banyak orangtua secara keliru meyakini bahwa skor setara kelas mencerminkan nilai sebenarnya dari anak tersebut; akibatnya, mereka mungkin mengusulkan penempatan tingkat lanjur (advanced placement) bagi anak-anak berprestasi tinggi di kelas atau merasa sedih karena anak yang berprestasi rendah tidak bisa mengatasi kesulitan mereka. Dan banyak orangtua menafsirkan skor IQ sebagai skor yang mencerminkan kemampuan permanen yang tidak dapat diubah, bukan perkiraan kasar tentang fungsi kognitif anak saat ini. Dengan melaporkan skor tes sebagai peringkat persentil atau stanine, kita cenderung kurang mengarahkan orangtua ke kesimpulan yang salah tersebut. Banyak orangtua cukup akrab dengan peringkat persentil, dan banyak orangtua lain dapat dengan mudah memahami konsep persentil jika dijelaskan ke mereka. Namun karena peringkat persentil kurang merepresentasikan perbedaan aktual antarsiswa (melebih-lebihkan perbedaan dalam kisaran tengah dan meremehkan perbedaan di titik ujung), kita mungkin juga perlu menyediakan skor stanine.
- jika Anda mengetahui kesalahan standar pengukuran, berilah orangtua interval kepercayaan untuk sebuah skor tes. Dengan melaporkan interval kepercayaan bersamaan dengan skor tes tertentu, kita mengomunikasikan sebuah poin penting tentang tes yang kita berikan: Skor tes apa pun memiliki kesalahan tertentu yang diasosiasikan dengan skor itu.
Kapan pun kita menilai prestasi dan kemampuan siswa, kita harus ingat bahwa tujuan utama kita adalah membantu siswa belajar dan berprestasi secara lebih efektif (Stiggins, 2001). Ketika siswa bekerja dengan baik dalam asesmen kelas dan tes terstandarisasi, kita memiliki alasan untuk bangga, karena kita tahu bahwa strategi pengajaran kita bekerja sebagaimana mestinya. Namun ketika siswa bekerja dengan buruk, perhatian utama kita, dan juga perhatian utama siswa dan orangtua, seharusnya adalah bagaimana memperbaiki situasi tersebut.
Demikian referensi buku ajar dengan judul Psikologi Pendidikan apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
Sumber: Psikologi Pendidikan Jeanne Ellis Ormrod ( Erlangga 2008)
