Cara Menulis Buku Referensi Sesuai Pedoman Operasional PAK Jabatan Akademik/Pangkat 2019

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Cara Menulis Buku Referensi Sesuai Pedoman Operasional PAK Jabatan Akademik/Pangkat 2019.

Hallo, Sob!! Sebelum mengetahui bagaimana sih cara menulis buku referensi, Maka kita harus memahami terlebih dahulu apa itu buku referensi?. Istilah referensi biasanya mengacu pada sumber yang digunakan sebagai rujukan. Buku referensi disebut juga rujukan , dan salah satu jenisnya berbentuk buku, jadi tidak sepenuhnya salah juga. Namun, materi referensi yang dijelaskan di sini berbeda dan diedit atau dibuat oleh seorang dosen.

Buku referensi tulisan dosen adalah artikel dalam bentuk buku yang menyajikan hasil rangkaian upaya penelitian yang orisinal, terperinci, dan komprehensif dalam suatu bidang ilmu pengetahuan. Selanjutnya, referensi menggambarkan argumen dari hasil studi yang panjang. Penulis bibliografi ini biasanya adalah dosen yang memaparkan hasil penelitiannya sendiri maupun karya dosen lain dalam bidang keilmuan yang sama. Penggunaan atau penerapan bahan referensi yang dihasilkan guru harus berfungsi sebagai panduan untuk pengajaran dan penelitian.

Karena itulah buku referensi tersebut mendukung ketiga kegiatan hukum kedua dosen tersebut. yaitu, pengajaran dan penelitian. Tidak seperti buku referensi, buku ini digunakan sebagai buku referensi yang dapat diakses dan digunakan oleh siapa saja. Bahan Referensi Instruktur dibuat oleh dan digunakan oleh pendidik. Selain itu, siswa tidak menggunakan buku referensi ini untuk kegiatan belajar mereka.

Menurut Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen Buku referensi adalah suatu tulisan dalam bentuk buku (ber-ISBN) yang substansi pembahasannya pada satu bidang ilmu kompetensi penulis. Isi tulisan harus memenuhi syarat-syarat sebuah karya ilmiah yang utuh, yaitu adanya rumusan masalah yang mengandung nilai kebaruan (novelty/ies), metodologi pemecahan masalah, dukungan data atau teori mutakhir yang lengkap dan jelas, serta ada kesimpulan dan daftar pustaka yang menunjukkan rekam jejak kompetensi penulis. (Direktorat Jenderal Sumber Daya Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, 2019, hlm. 31).

Nah, jika Anda ingin menulis buku referensi yang diorientasikan untuk kenaikan jabatan akademik, dapat mengikuti pemaparan berikut ini. Jadi pada kesempatan kali ini kita akan mengulas lebih lanjut syarat-syarat tertentu.

Syarat- syarat Menulis buku referensi.

  1. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam sebuah penelitian, menjadi kerangka dasar untuk menemukan solusi atas apa yang hendak diteliti oleh penulis. Dalam sebuah penelitian, rumusan masalah menjadi penentu bahasan yang akan diolah. Begitu pun ketika Anda juga hendak menulis buku referensi, yang mengacu dari hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan. Karena rumusan masalah menjadi sangat mendasar, maka butuh dukungan dan bantuan dengan cara membuat metodologi. Fungsinya jelas, memudahkan penelitian dan menentukan rumusan masalah.

Dari bentuknya, rumusan masalah bisa berupa ‘pertanyaan’ dan ‘pernyataan’. Keduanya berupaya untuk mencari jawaban. Adapun upaya memperoleh jawaban dengan cara mengumpulkan data atau rumusan masalah. Adapun beberapa bentuk rumusan masalah, ada rumusan masalah deskriptif, komparatif dan rumusan masalah asosiatif. Dari ketiga rumusan masalah tersebut, setiap penulis memiliki gaya dan kesenangan sendiri, hendak menggunakan rumusan masalah yang seperti apa. Dalam konteks buku referensi penulis harus mendorong hadirnya nilai kebaruan dalam buku tersebut, dan seharusnya menghadirkan kebaruan pengetahuan. Sehingga penulis buku referensi wajib menjelaskan bagaimana dan apa yang membedakan buku tersebut dengan yang lain serta apa kebaruan yang akan dihadirkan penulis.

  • Metodologi pemecahan masalah

Metodologi pemecahan masalah dalam hal ini bagaimana seorang penulis mampu menemukan solusi terkait masalah yang ada. Sesuai dengan namanya, metodologi mengulas tentang bagaimana cara menemukan problem solving. Berbicara tentang metodologi, tentu saja setiap satu orang dengan orang yang lain berbeda-beda cara yang digunakan. Meskipun berbeda, prinsipnya jelas, yaitu menemukan sebuah jawaban atau solusi untuk masyarakat.

  • Dukungan data

Saat menjalankan metode pemecahan masalah, erat kaitannya dengan pengambilan data. Butuh data data tambahan agar menemukan solusi terkait hasil penulisan buku. Dukungan data sangat dibutuhkan dalam melakukan proses penulisan buku. Karena data dan informasi sudah pasti dibutuhkan. Penulis buku referensi sangat bergantung pada data dan informasi yang akurat, dan tentunya data tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Langkah mencari dukungan data membutuhkan proses rencana penyusunan, kemudian barulah dibuatlah penetapan rencana. Ketika sudah dilakukan penelitian atau penilaian perlu pengendalian pelaksanaan rencana serta evaluasi pelaksanaan rencana. Dukungan data bagi buku referensi adalah hal paling penting, sehingga penulis harus secara komprehensif dan lengkap menghadirkan data.

  • Kesimpulan

Membuat kesimpulan dari sebuah tulisan atau paragraf yang mengandung gagasan merupakan teknik lain dalam pengutipan tidak langsung sekaligus menjadi teknik lain untuk menghindari plagiarisme. Seperti arti katanya, menyimpulkan merupakan menarik suatu gagasan tertentu yang dilakukan pembaca dari informasi yang dinyatakan dalam teks yang ia baca. Gagasan yang didapat kemudian dituangkan secara presisi saat menulis buku. Menulis kesimpulan dapat dibuat dengan cara menarik minimal dua premis, yakni premis mayor dan premis minor.

Apa sih Premis itu ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan bahwa premis merupakan kalimat atau proposisi yang dijadikan sebagai landasan berpikir untuk menarik kesimpulan di dalam logika.

Lalu, apa itu premis mayor dan premis minor?

  • Premis Mayor adalah premis yang berisi term yang menjadi predikat kesimpulan.( Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI )
  • Premis minor adalah premis yang berisi term yang akan menjadi subjek sebuah kesimpulan.( Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI )

Agar kesimpulannya memiliki arti, dua kondisi yang berbeda harus dipenuhi (kamp & Reyle, 1993, hlm. 13) yakni:

  1. Premis yang akan digunakan untuk menarik kesimpulan harus dapat dipercaya keabsahannya,
  2. kesimpulan yang ditarik dari premis tersebut harus memiliki relasi yang menjamin keabsahan premis yang nantinya ditransfer ke kesimpulan.

Persyaratan berikut ini pun harus dipenuhi dalam rangka mengambil kesimpulan:

  • relasi antara premis dengan kesimpulan yang menjamin transfer kebenaran merupakan relasi formal, artinya relasi tersebut dapat dianalisis sebagai relasi antara bentuk-bentuk kalimat.

Contoh klasik tentang penarikan kesimpulan bisa dilihat di bawah ini:

Semua P adalah Q : Semua manusia akan mati

Semua Q adalah R : Aristoteles adalah seorang manusia

Maka semua P adalah Q : Maka Aristoteles akan mati.

Dari kedua contoh di atas, kita bisa melihat bahwa apa yang dinyatakan dalam kesimpulan tidak dituliskan secara eksplisit dalam kalimat sumber, namun dari kedua premis tersebut, sebuah kesimpulan bisa ditarik. Kesimpulan yang ditarik harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, sehingga kesimpulan berikut ini tidaklah valid menurut hukum logika berpikir yang ditetapkan oleh Aristoteles ini: ‘Ada R di dalam P’ atau “Aristoteles adalah manusia yang tidak akan mati”. Pengambilan kesimpulan dalam memahami suatu teks dan informasi juga mengikuti hukum pengambilan kesimpulan dalam logika. Sehingga kesimpulan yang bisa ditarik dari naskah asli dalam contoh 1 & 2 di atas adalah sebagai berikut:

Contoh 1:

Kesimpulan: Melakukan parafrase, ringkasan dan mencantumkan sumber asli tidaklah otomatis membebaskan seseorang dari aktivitas plagiasi, jika parafrase dan ringkasa tersebut sangat mirip dengan naskah aslinya.

Contoh 2:

Kesimpulan: Proses penulisan catatan menentukan seberapa banyak kutipan langsung yang akan dilakukan penulis/dosen saat menulis paper ilmiahnya.

Contoh paragraf yang menerapkan parafrase dan kesimpulan:

Sebagian besar penelitian dan aplikasi Sistem Dialog cenderung menggunakan inisiatif tunggal (Yang & Heeman, 2007). Penelitian-penelitian yang menggunakan inisiatif ganda berusaha keras untuk memecahkan persoalan pengelolaan inisiatif (Chu-Carol & Brown, 1997; Ramakhrisnan, 2002; Yang & Heeman, 2007). Sebagian dari penelitian ini melakukan eksperimen dengan pembuatan sistem secara nyata, namun ada juga yang didasarkan pada simulasi. Penelitian terdahulu yang dilakukan penulis (Krisnawati, 2007) berusaha mengimplementasikan sistem dialog dengan dialog inisiatif ganda namun masukan dan luaran masih berbentuk teks. Dengan demikian pengguna dan sistem berkomunikasi dalam sebuah konsul di mana pengguna mengetikkan masukan dengan bahasa alami melalui papan ketik dan sistem menampilkan luaran dalam bentuk teks juga.

  • Daftar Pustaka

Bagian terakhir adalah bagian daftar pustaka. Seperti ulasan pada artikel sebelum-sebelumnya. Bahwa penulisan daftar pustaka berperan untuk mencantumkan sumber data data yang digunakan sebagai referensi. Satu sisi sumber referensi yang dicantumkan di dalam daftar pustaka memberikan penghormatan dari karya-karya buku atau hasil penelitian dari penulis-penulis sebelumnya.

Adapula Etika Penuisan sebuah Buku. Apa saja itu ?

Sekilas Tentang Etika Penulisan Buku

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penulisan buku adalah (dikembangkan dari: R. Masri S.P., How to Write, KOLBU, 2007 dalam slide presentasi Syamsul Arifin, “Sukses Menulis Buku Pendidikan Tinggi”, 2015):

  1. Jujur pada sumber atau rujukan yang digunakan
  2. Mengutip yang persis sama tidak boleh lebih dari 10%
  3. Karya intelektual dianggap sebagai public domain setelah 50 tahun
  4. Penulis adalah ibarat koki, dimana bahan masakan (bahan tulisan) dapat bersumber dari mana-mana, namun hasil yang didapat adalah milik anda.
  5. Pengarang adalah designer & Developer (penggagas ide dasar dan yang mengembangkan gagasan, kemudian menuliskanya).
  6. Sistematika penulisan buku disusun sendiri oleh penulis
  7. Jangan merubah dalil, istilah, atau rumusan hanya untuk tidak dikatakan menjiplak (misal kata‘kemudian’ diganti ‘lalu’, sumbul F diganti G untuk menyatakan gaya, dll).

Cara Menulis Referensi

Berikut cara menulis referensi berdasarkan gayanya:

1. APA Style

Adapun cara menulis referensi berdasarkan karakteristik dari gaya penulisan APA Styles, meliputi beberapa poin berikut :

  • Saat dituliskan di halaman daftar pustaka, ditulis secara berurutan berdasarkan alfabetis. Ditulis dari nama belakang penulis (jika penulis memiliki nama panjang). Jika referensi tersebut tidak ada penulisnya, maka bisa dituliskan judulnya.
  • Nama depan penulis ditulis sebagai inisial.
  • Jika referensi berasal dari sumber penulis yang sama, maka diurutkan dari tahun yang paling lama.
  • Setelah penulisan tahun, dibelakang tahun dapat dituliskan huruf a, b dan c

2. MLA Style

Cara menulis referensi pada MLA Style, Anda perlu memperhatikan beberapa poin sebagai berikut ini.

  • Penulisan nama penulis ditulis secara lengkap. Jika penulis memiliki nama depan dan nama belakang tetap dituliskan.
  • Jika umumnya tahun terbit dituliskan setelah nama penulis, pada jenis MLA Styles tahun terbit justru diletakan di bagian akhir.
  • Menuliskan nomor halaman kutipan dan perlu juga menuliskan kutipan kata akhir.
  • Dibolehkan menambahkan media dan format. Misalnya bisa menambahkan web, cetak maupun online.
  • Jika sumbernya dari online, maka cukup ditulis tanggal-bulan dan tahun akses, dan Anda tidak perlu menyertakan sumber onlinenya.

3. Chicago dan Turabian Style

Cara menulis referensi chicago dan turabian styles, spesifiknya sebagai berikut.

  • Penulisan untuk kutipan, nama penulis ditulis seperti terdaftar dalam artikel yang mana dituliskan nama depan dan nama akhir. Sementara penulisan di daftar pustaka penulisan nama panjang penulis dibalik (nama akhir, nama depan).
  • menulis dalam bentuk footnotes atau endnotes di tiap kutipan penulisan footnotes didasarkan pada nomor secara urut.
  • Selalu menyertakan tanggal publikasi atau tanggal terakhir di update. Bagaimana jika tidak ada? Maka dapat menggunakan kode n.d.
  • Untuk tulisan pendek dapat ditempatkan dengan memberikan tanda (“) di antara judul. tetapi untuk judul karya tulisan panjang seperti buku, jurnal, film ditulis miring.
  • Chicago dan turabian styles ditulis dengan dua sistem pencatatan, yaitu notes-bibliography yang banyak digunakan di bidang humaniora. Ada juga gaya author-date yang lebih sering untuk jenis ilmu alam, ilmu sosial dan ilmu fisik.

4. AMA style

Cara menulis referensi menggunakan model AMA Styles didasarkan pada beberapa poin berikut.

  • Penulisan referensi di daftar pustaka ditulis berdasarkan urutan numerik.
  • Menggunakan aturan spasi tunggal dalam daftar pustaka
  • Penulis ditulis dari nama belakang terlebih dahulu. Kemudian nama depan cukup dituliskan inisialnya saja. Antara nama belakang dan depan cukup ditandai menggunakan tanda (,)

Itulah sistematika , etika dan cara menulis buku referensi berdasarkan gayanya yang sebenarnya penting dikuasai. Karena nantinya akan membantu Anda, yang memang ingin menulis buku referensi. Semoga dengan ulasan dan tulisan kali ini bermanfaat. Selamat mencoba dan selamat berkarya. Naskah dan buku Anda kami tunggu.

Demikian referensi tentang Cara Menulis Buku Referensi Sesuai Pedoman Operasional PAK Jabatan Akademik/Pangkat 2019 apabila anda membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.