Bab 5 Modul Buku Ajar(3)

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bab 5 Modul Buku Ajar(3).

  • Memahami Langkah-Langkah Penyusunan Modul

Dalam banyak kasus, para pendidik enggan membuat modul untuk kegiatan pembelajaran mereka disebabkan mereka tidak mengerti dan tidak tahu benar bagaimana langkah-langkah penyusunannya. Maka dari itu, pemahaman terhadap langkah-langkah penyusunan modul penting untuk kita pelajari.

Dalam menyusun sebuah modul, ada empat tahapan yang mesti kita lalui, yaitu analisis kurikulum, penentuan judul-judul modul, pemberian kode modul, dan penulisan modul.

  1. Analisis Kurikulum

Tahap pertama ini bertujuan untuk menentukan materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar. Dalam menentukan materi, analisis dilakukan dengan cara melihat inti materi yang diajarkan serta kompetensi dan hasil belajar kritis yang harus dimiliki oleh peserta didik (critical learning outcomes).

  1. Menentukan Judul Modul

Setelah analisis kurikulum selesai dilakukan, tahapan berikutnya yaitu menentukan judul-judul modul. Untuk menentukan judul modul, maka kita harus mengacu kepada kompetensi-kompetensi dasar atau materi pokok yang ada di dalam kurikulum. Satu kompetensi dapat dijadikan sebagai judul modul apabila kompetensi itu tidak terlalu besar. Sedangkan besarnya kompetensi dapat diseleksi, antara lain dengan cara, apabila diuraikan ke dalam materi pokok (MP) mendapatkan maksimal 4 MP, maka kompetensi itu telah dapat dijadikan sebagai satu judul modul. Namun, jika kompetensi diuraikan menjadi lebih dari 4 MP, maka perlu dipertimbangkan kembali apakah akan dipecah menjadi dua judul modul atau tidak.

  1. Pemberian Kode Modul

Perlu kita ketahui bahwa dalam tahapan penyusunan modul, untuk memudahkan kita dalam pengelolaan modul, maka sangat diperlukan adanya kode modul. Pada umumnya, kode modul adalah angka-angka yang diberi makna. Contohnya, digit pertama, angka satu (1) berarti IPA, angka dua (2) berarti IPS, angka tiga (3) berarti Bahasa, dan seterusnya. Selanjutnya, digit kedua merupakan kelompok utama kajian, aktivitas, atau spesialisasi pada jurusan yang bersangkutan. Misalnya, untuk jurusan IPA angka 1 (satu) pada digit kedua berarti Fisika, angka dua (2) berarti Kimia, angka tiga (3) berarti Biologi, dan seterusnya.

  1. Penulisan Modul

Ada lima hal penting yang hendaknya kita jadikan acuan dalam proses penulisan modul, sebagaimana di jelaskan berikut ini.

  • Perumusan Kompetensi Dasar yang Harus Dikuasai

Rumusan kompetensi dasar pada suatu modul adalah spesifikasi kualitas yang semestinya telah dimiliki oleh peserta didik setelah mereka berhasil menyelesaikan modul tersebut. Kompetensi dasar yang tercantum dalam modul diambil dari pedoman khusus kurikulum 2006. Jika peserta didik tidak berhasil menguasai tingkah laku sebagaimana yang dirumuskan dalam kompetensi dasar tersebut, maka kompetensi dasar pembelajaran dalam modul itu harus dirumuskan ulang.

Hal ini mungkin karena bahan ajar yang gagal, bukan peserta didik yang gagal. Kemudian, kembali pada terminal behaviour, apabila terminal ini diidentifikasi secara tepat, maka apa yang harus dikerjakan untuk mencapainya dapat ditentukan secara tepat pula.

  • Penentuan Alat Evaluasi atau Penilaian

Poin ini adalah mengenai criterion items, yaitu sejumlah pertanyaan atau tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam menguasai suatu kompetensi dasar dalam bentuk tingkah laku. Kemudian, karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, di mana sistem evaluasinya didasarkan pada penguasaan kompetensi, maka alat evaluasi yang cocok adalah dengan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Criterion Referenced Assessment.

Evaluasi dapat langsung disusun setelah ditentukan kompetensi dasar yang akan dicapai, sebelum menyusun materi dan lembar kerja atau tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hal tersebut bertujuan agar evaluasi yang dikerjakan benar-benar sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh peserta didik.

  • Penyusunan Materi

Materi atau isi modul sangat bergantung pada kompetensi dasar yang akan dicapai. Apabila yang digunakan dalam materi modul adalah referensi referensi mutakhir yang memiliki relevansi dari berbagai sumber (contohnya buku, internet, majalah, atau jurnal hasil penelitian), maka ini akan sangat baik. Untuk penulisannya, materi modul tidak harus ditulis secara lengkap. Kita dapat menunjukkan referensi yang digunakan agar peserta didik membaca lebih jauh tentang materi tersebut. Tugas-tugas juga harus ditulis secara jelas dan tidak membingungkan guna mengurangi pertanyaan. dari peserta didik tentang hal-hal yang semestinya dapat mereka kerjakan. Sebagai contohnya, tugas diskusi. Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi, serta berapa lama waktunya. Itu semua mesti diterangkan secara gamblang.

Kemudian, kalimat yang disajikan pun tidak boleh terlalu panjang. Intinya sederhana, singkat, jelas, dan efektif. Dengan demikian, peserta didik akan mudah memahaminya. Untuk pe serta didik di tingkat Madrasah Ibtidaiyah yang atau sederajat, misalnya. Upayakan untuk membuat kalimat yang tidak terlalu panjang. Dalam satu paragraf kira-kira 3 hingga 7 kalimat saja dan menggunakan huruf huruf kapital.

Sementara itu, gambar-gambar yang dapat mendukung dan memperjelas isi materi juga sangat dibutuhkan. Karena, di samping memperjelas uraian, juga dapat menambah daya tarik dan mengurangi kebosanan peserta didik untuk mempelajarinya.

  • Urutan Pengajaran

Perlu kita ketahui bahwa dalam kaitannya dengan urutan pengajaran, maka urutan pengajaran dapat dibe rikan dalam petunjuk menggunakan modul. Contohnya, dibuat petunjuk bagi dosen yang akan mengajarkan materi tersebut dan petunjuk bagi mahasiswa. Pe tunjuk mahasiswa diarahkan ke pada hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa, sehingga maha siswa tidak perlu banyak berta nya, guru juga tidak perlu banyak menjelaskan atau dengan kata lain guru berfungsi se penuhnya sebagai fasilitator.

  • Struktur Bahan Ajar (Modul)

Seperti telah disinggung di muka bahwa secara umum, modul paling tidak harus memuat tujuh komponen utama. Namun, harus kita mengerti bahwa dalam kenyataan di lapangan, struktur modul dapat bervariasi. Hal tersebut terutama tergantung pada karakter materi yang disajikan, ketersediaan sumber daya, dan kegiatan belajar yang bakal dilaksanakan.

 

  • Mengembangkan Modul Menjadi Bahan Ajar yang “Hebat”

“Hebat”, itulah kata yang paling tepat untuk meng ungkapkan sebuah modul yang inovatif dan dibangun secara kreatif, sehingga modul mampu menjadi bahan ajar yang menarik dan memotivasi peserta didik untuk belajar dan belajar. Kita semua tentu berharap modul pembelajaran yang kita buat tidak sekadar modul yang biasa-biasa saja, namun yang istimewa. Lantas, bagaimana mewujudkannya?

Pertanyaan di atas mungkin menjadi pertanyaan yang paling banyak muncul di benak kita. Sebagai jawabannya, Andriani menjelaskan bahwa hal utama yang harus diperhatikan adalah prosedur, fakta, kejadian, dan ide harus disusun sedemikian rupa, sehingga didapat kesinambungan berpikir. Hal ini dilakukan dengan tujuan supaya pembaca bisa secara mudah mengikuti ide yang diungkapkan, yang pada akhirnya bisa mengartikan apa yang dibacanya. Pada saat menulis, kita harus mengingat apa yang akan membaca, karena hal ini akan mempengaruhi pemilihan kosakata, kalimat, dan paragraf yang digunakan, serta jenis contoh dan latihan yang diberikan.

Ada sembilan aspek yang harus kita perhatikan pada saat mengembangkan modul, sebagaimana dijelaskan oleh Rowntree. Kesembilan aspek tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, membantu pembaca untuk menemukan cara mempelajari modul, contohnya dengan mengulangi bagian-bagian yang sulit. Kedua, menjelaskan hal-hal yang perlu pembaca persiapkan sebelum mempelajari modul. Ketiga, menjelaskan hal-hal yang diharapkan dari pembaca setelah mereka selesai mempelajari modul. Keempat, memberi pengantar tentang cara pembaca menghadapi atau mempelajari modul, contohnya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bagian tertentu atau bagaimana mempersiapkan diri untuk mengerjakan tugas yang diminta dalam modul.

Kelima, menyajikan materi sejelas mungkin, sehingga pembaca dapat mengaitkan materi yang dipelajari dari modul dengan apa-apa yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Keenam, memberi dukungan kepada pembaca agar berani mencoba segala langkah yang dibutuhkan untuk memahami materi modul. Ketujuh, melibatkan pembaca dalam latihan serta kegiatan yang akan membuat mereka berinteraksi dengan materi yang sedang dipelajari. Dan, menghindarkan pembaca dari aktivitas yang hanya sekadar membaca materi. Kedelapan, memberikan umpan balik (feedback) pada latihan dan kegiatan yang dilakukan pembaca. Hal ini penting bagi pembaca untuk menilai tingkat keberhasilannya dalam memahami materi dalam modul. Kesembilan, membantu pembaca untuk meringkas dan merefleksikan apa yang sudah mereka pelajari dari modul.

Di samping itu, Rowntree juga mengungkapkan empat tahapan dalam pengembangan modul yang “hebat”, yaitu mengidentifikasi tujuan pembelajaran, memformulasikan garis besar materi, menuliskan materi, dan menentukan format serta tata letaknya. Keempat tahap tersebut akan kita pelajari secara lebih terperinci pada pembahasan berikut.

 

  1. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran

Sebagai langkah pendahuluan dalam tahapan pengembangan materi belajar, termasuk pengembangan modul adalah melakukan identifikasi terhadap tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, usaha untuk mencermati secara mendalam tentang tu dak dicapai dalam modul yang akan dikembangkan sangatlah lam kalimat yang mengandung aspek ABCD (Audience, Beha viour, Condition, dan Degree).

Audience merujuk pada siapa yang menjadi target, sasaran, atau peserta didik. Contohnya, petatar, siswa, mahasiswa, murid, dan sasaran didik lainnya. Behaviour menjelaskan tentang kompetensi yang diharapkan akan dikuasai setelah mempelajari modul, atau dengan kata lain, perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar.

Sementara itu, condition merujuk pada situasi di mana tujuan diharapkan akan dicapai, atau dalam pengertian, persyaratan yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai. Sedangkan degree adalah tingkat kemampuan yang kita inginkan dikuasai oleh pembaca, atau dapat pula dimaknai sebagai tingkat penampilan yang dapat diterima.

 

Demikian referensi buku dengan judul Bab 5 Modul Buku Ajar(3) membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin Ruang Buku.