RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bab 6 Buku Teks Buku Ajar(2)
-
Langkah Mudah Menyusun Buku Teks Pelajaran yang Menarik
Topik ini merupakan bagian yang amat penting dalam pembahasan tata cara penyusunan buku teks. Sebab, substansi pembuatan bahan ajar buku teks pelajaran pada dasarnya ada pada tahap ini. Maka dari itu, agar kita bisa terampil menyusun buku teks pelajaran, kita mesti mengerti dan memahami langkah-langkah tersebut.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu kendala yang sering menghambat para pendidik untuk menyusun buku teks pelajaran adalah minimnya pengetahuan serta wawasan tentang langkah-langkah teknis dan praktis penyusunan bahan ajar yang aplikatif dan mudah dipahami. Pada hal, sebetulnya penyusunan buku teks pelajaran bukan hal yang sulit, bahkan kalau sudah terbiasa, hal ini sangatlah mudah.
Mempertimbangkan hal tersebut, maka dalam pembahasan kita kali ini, di tunjukkan langkah-langkah (yang mudah) untuk membuat buku teks pelajaran. Sehingga, kita tidak perlu bi ngung lagi gara-gara pekerjaan membuat buku teks pelajaran.
-
Pedoman atau Kaidah dalam Menyusun Buku Teks Pelajaran
Hal pertama yang perlu kita pahami dalam kaitannya dengan langkah-langkah penyusunan buku teks pelajaran adalah tentang kaidah dan ketentuan penyusunan buku teks pelajaran. Perlu diingat bahwa setiap kali kita akan menyusun buku teks pelajaran, ada pandangan yang dapat kita jadikan pedoman, yakni buku yang baik adalah buku yang memiliki tiga ciri, yaitu menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, penyajiannya menarik dan dilengkapi dengan gambar beserta keterangan keterangan yang komplet, isi buku menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisnya, dan isi atau kandungannya disusun berdasarkan kurikulum atau tafsiran tentang kurikulum yang berlaku.
Sementara itu, Surahman (2010) mencatat ada empat kaidah umum yang perlu diperhatikan dalam penyusunan buku teks pelajaran. Pertama, buku tidak boleh mengganggu ketenteraman sosial. Kedua, buku tidak boleh mengandung unsur SARA. Ketiga, buku tidak boleh menjadi bahan pro-kontra antara beberapa etnis, golongan, ras, suku bangsa, budaya, ataupun agama. Keempat, buku harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Di samping itu, setiap buku teks pelajaran harus memenuhi standar-standar tertentu. Standar yang dimaksud di sini meliputi persyaratan, karakteristik, dan kompetensi minimum yang harus terkandung di dalam suatu buku pelajaran. Standar penilaian dirumuskan dengan melihat tiga aspek utama, yaitu materi, penyajian, dan bahasa atau keterbacaan (Mohammad, 2010:16 dengan 35).
Standar materi dalam buku teks pelajaran meliputi kelengkapan materi, keakuratan materi, kegiatan yang mendukung materi, kemutakhiran materi, upaya untuk meningkatkan kompetensi peserta didik, pengorganisasian materi mengikuti sistematika keilmuan, materi mengembangkan keterampilan dan kemampuan berpikir, materi merangsang peserta didik untuk melakukan inquiry, serta penggunaan notasi, simbol, dan satuan.
Adapun standar penyajian dalam buku teks pelajaran meliputi organisasi penyajian umum, organisasi penyajian per bab, penyajian mempertimbangkan kebermaknaan dan kebermanfaatan, melibatkan peserta didik secara aktif, mengembangkan proses pembentukan pengetahuan, tampilan umum, variasi dalam cara penyampaian informasi, meningkatkan kualitas pembelajaran, anatomi buku pelajaran, memperhatikan kode etik dan hak cipta, serta memperhatikan kesetaraan gender dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara itu, standar bahasa atau keterbacaan dalam buku teks pelajaran meliputi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, peristilahan mematuhi EYD, kejelasan bahasa yang digunakan, kesesuaian bahasa, dan kemudahan untuk dibaca.
Selanjutnya, hal kedua yang juga mesti kita ketahui dalam penyusunan buku teks pelajaran adalah tentang susunan konten buku. Dalam buku Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar (Diknas, 2004), dikatakan bahwa sebuah buku dimulai dari latar belakang penulisan, definisi atau pengertian dari judul yang dikemukakan, penjelasan ruang lingkup pembahasan dalam buku, hukum atau aturan-aturan yang dibahas, contoh-contoh yang diperlukan, hasil penelitian, data dan interpretasinya, serta berbagai argumen yang sesuai untuk disajikan.
-
Langkah-Langkah Penyusunan Buku Teks Pelajaran
Setelah kita memahami susunan kontennya, maka hal ketiga yang perlu kita pahami dalam penyusunan buku teks pelajaran adalah langkah-langkah penyusunannya. Berkaitan dengan hal itu, setidaknya ada delapan langkah yang perlu kita perhatikan, sebagaimana diperinci satu per satu dalam uraian berikut.
-
Memperhatikan Kurikulum dengan Cara Menganalisisnya
Analisis kurikulum ini meliputi analisis terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang mesti dikuasai oleh peserta didik. Dari kompetensi dasar, kemudian dijabarkan ke dalam indikator-indikator pencapaian hasil belajar dan materi pokok. Selanjutnya, dengan menyusun peta bahan ajar, kita dapat menemukan materi-materi yang diperlukan untuk menyusun materi pokok. Dari materi-materi tersebut, baru dimulai proses penulisan.
Atau, secara sederhana dapat pula dijelaskan bahwa sebelum buku ditulis, terlebih dahulu kita menganalisis materi yang akan diajarkan. Dalam hal ini, kita harus menyesuaikan analisis materi dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, dengan mempertimbangkan aspek ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyajiannya.
Analisis materi yang telah diuraikan kemudian masih perlu dirinci lagi dan digabungkan dengan kajian kemampuan untuk dikemas sebagai buku teks pelajaran. Dari hasil kajian kemampuan yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi yang telah dianalisis dijabarkan dalam bentuk proses pembelajaran.
Contoh 1:
Peta Bahan Ajar Mata Pelajaran Al-Qur’an dan Hadits Kelas III Madrasah Ibtidaiyah
| Standar
Kompetensi |
Kompetensi
Dasar |
Materi Pokok/ Judul Bahan Ajar |
| Menghafal surat – surat pendek secara benar |
|
|
-
Menentukan Judul Buku yang Akan Ditulis Sesuai dengan Standar-Standar Kompetensi yang Akan Disediakan oleh Buku Kita
Untuk menentukan judul, pada umumnya berdasarkan materi pokok. Jadi, jika kita sudah menemukan materi pokok, maka itulah yang kita jadikan judul masing-masing bab dari buku yang kita susun. Sementara, judul bukunya disesuaikan dengan mata pelajaran.
Sebagai contoh, jika kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah “Membaca Surat al-Humazah secara benar dan fasih”, maka materi pokoknya adalah “Surat al Humazah”, begitu pula dengan judul babnya. Kemudian, untuk judul bukunya, karena mata pelajarannya adalah al-Qur’an Hadits untuk kelas III MI, maka bisa disusun dengan berbagai alternatif, seperti “Bina Belajar al Qur’an dan Hadits MI Jilid 3” atau “Belajar al-Qur’an dan Hadits MI Kelas III”, atau yang lainnya. Hal yang terpenting adalah substansi mata pelajaran, satuan pendidikan, dan kelas yang dituju (hendaknya) terdapat dalam judul buku.
-
Merancang Outline Buku agar Isi Buku Leng kap Mencakup Seluruh Aspek yang Diperlu kan untuk Mencapai Suatu Kompetensi
Menurut Bobbi DePorter dalam bukunya Quantum Writer, ada dua strategi yang bisa digunakan untuk mengatur curah gagasan yang akan kita tuliskan, yaitu dengan peta pikiran dan strategi kerangka (DePorter, 2009).
1) Peta pikiran
Peta pikiran digunakan untuk menata dan menghubungkan apa yang ingin kita tuliskan. Membuat peta pikiran dalam menyusun buku teks pelajaran dimulai dengan menelusuri serta mengidentifikasi berbagai materi pokok dan materi-materi penjelas yang akan ditulis. Adapun contoh peta pikiran untuk mata pelajaran al-Qur’an dan Hadits kelas III MI, dapat dilihat pada gam bar berikut.

Gambar 1. Contoh peta pikiran pelajaran Al-Qur’an dan Hadits Kelas III MI
Sekarang, mari kita coba amati peta pikiran pada Gambar 1. Perhatikan bagaimana peta tersebut dimulai dengan ide utama dan membuat cabang yang meliputi ide tambahan, detail, dan contoh. Kita bisa melingkari ide utama, menebalkan hurufnya, atau bahkan memberi gambar untuk menonjolkan maknanya. Gambarkan cabang dari tebal ke tipis, di mana cabang yang tebal untuk ide utama atau menekankan pentingnya, sedangkan cabang yang tipis untuk ide tambahan. Biasanya, pembuatan cabang ini memakai warna yang berbeda Namun, kita juga bisa menggunakan kembali warna tertentu, jika perlu (asalkan tidak ditaruh bersebelahan).
2) Strategi kerangka
Jika peta pikiran membantu kita melihat gambaran besar bagaimana ide-ide kita saling mendukung, maka strategi kerangka membantu kita membangun paragraf kuat yang tersusun secara rapi, membangun ide kita, dan menuntun pembaca (peserta didik) menjelajahi tulisan kita. Sebuah paragraf yang kuat mengandung ide utama, detail, contoh, dan kesimpulan.
Baris pertama adalah ide utama kita. Ini merupakan poin penting dari keseluruhan paragraf. Berikutnya adalah detail yang mendukung, diikuti oleh contoh, kemudian kesimpulan yang merangkum pesan utama paragraf dan beberapa kata yang mengantarkan pembaca (peserta didik) ke paragraf berikutnya.
Oleh karena itu, kita harus menempatkan keempat unsur tersebut-ide utama, detail pendukung, contoh, dan kesimpulan atau transisi-di setiap paragraf yang kita buat. Kita juga bisa menggunakan petunjuk visual, seperti warna atau jenis tulisan, tetapi jangan lupa untuk menghapus petunjuk-petunjuk ini sebelum kita mengubahnya menjadi draf.
| Ide Utama :…………………………………………………………………………………………………………………………….. | ||
| Detail Pendukung :…………………………………………………………………………………………………………… | ||
| Contoh :…………………………………………………………………………………………………………………. | ||
| Detail Pendukung :…………………………………………………………………………………………………………… | ||
| Contoh :…………………………………………………………………………………………………………………. | ||
| Kesimpulan :…………………………………………………………………………………………………………………………… | ||
| Transisis :……………………………………………………………………………………………………………………………….. | ||
Gambar 2. Bentuk strategi kerangka
(Diadaptasi dari DePorter, 2009)
Adapun contoh penggunaan bentuk strategi kerangka dari Gambar 2 adalah sebagai berikut:
Contoh 2:
|
Hari kiamat adalah hari kehancuran seluruh dunia (Ide Utama). Hari kiamat ditandai dengan ditiupnya sangkakala oleh Malaikat Jibril (Detail Pendukung). Contoh kejadian pada saat hari akhir, antara lain air laut meluap, gunung-gunung meletus, bumi berguncang dahsyat, dan planet-planet bertabrakan (Contoh). Hari kiamat adalah hari akhir, hari yang mengerikan (Kesimpulan). Manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk dihisab setelah kiamat (Transisi). |
Demikian referensi buku dengan judul Bab Bab 6 Buku Teks Buku Ajar(2) membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin Ruang Buku.
