RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bab 6 Buku Teks Buku Ajar(3)
-
Mengumpulkan Referensi sebagai Bahan Penulisan
Dalam mengumpulkan referensi, sebaiknya kita usa hakan untuk menggunakan referensi terkini dan relevan dengan bahan kajiannya. Referensi-referensi yang bisa digunakan, misalnya buku ilmiah, jurnal penelitian, kabar, majalah, laporan-laporan hasil penelitian, internet, dan sebagainya. Adapun jika kita merujuk pada suatu sumber referensi tertentu, maka harus disebutkan sum ber tersebut dalam tulisan kita. Gunakan catatan kaki atau catatan dalam teks sesuai selera kita masing-masing. Namun, yang umum digunakan dalam penyusunan buku teks pelajaran adalah catatan dalam teks. Contohnya sebagai berikut.
Contoh 3:
| Di dalam teks ditulis: “Manusia diberi kemampuan memimpin dan memelihara bumi (Shihab, 2004).” Dalam penulisan di daftar pustaka adalah sebagai berikut: Shihab, M. Quraish. 2004. Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Rizki Pandawa. |
-
Menulis Buku Dilakukan dengan Memperha tikan Penyajian Kalimat yang Disesuaikan De ngan Usia dan Pengalaman Pembacanya
Sebagai contoh, untuk peserta didik yang duduk di bangku Madrasah Aliyah (setingkat SMA), upayakan membuat kalimat yang tidak terlalu panjang, maksimal 25 kata per kalimat dan dalam satu paragraf terdiri atas 3-7 kalimat. Sedangkan untuk jenjang pendidikan di bawah atau di atasnya, kita dapat memperkirakan sendiri berapa panjang kata atau jumlah kalimat per paragrafnya. Namun, secara lebih detail, untuk langkah ini, kita dapat merujuk pada formula yang dibuat oleh Bobbi DePorter (2009) dalam Quantum Writer yang ia tulis, yaitu dengan menggunakan dua strategi untuk memfokuskan tulisan kita dan menjadikan poin utama kita menjadi sebuah produk buku teks pelajaran. Kedua strategi tersebut adalah target dan draf.
1) Target
Target di sini merupakan sebuah singkatan. Setiap huruf mewakili ide penting yang pasti ingin kita ingat. Huruf “T” mewakili kata Time (waktu), “A” mewakili kata Audience (pembaca), “R” mewakili kata Reason (alasan), “G” mewakili kata Goal (tujuan), “E” mewakili kata Excitement (semangat), dan “T” mewakili kata Tone (nada).
Kelima kata kunci tersebut akan membantu kita mengingat enam cara untuk memfokuskan poin utama kita dan menghubungkannya dengan pembaca (peserta didik). Dengan membuat target, tulisan kita menjadi lebih jelas dan kita semakin percaya diri dalam membuat draf buku teks pelajaran yang menarik.
Adapun cara kerja dari strategi ini adalah sebagai berikut:
| a)Time (waktu) | : | Buatlah batasan waktu. Sebagai ukuran, banyak penulis profesional bekerja selama 50 menit dan beristirahat selama 10 menit. |
| b)Audience (pembaca atau peserta didik) | : | Putuskan siapa yang kita ajak bicara dan menulislah untuk mereka. |
| c)Reason (alasan) | : | Buatlah manfaat yang jelas dari tulisan kita. |
| d) Coal (tujuan) | : | Temukan tujuan yang ingin kita capai dengan buku teks pelajaran yang kita buat. |
| e) Excitement (semangat) | : | Tanyakan kepada diri kita masing- masing apa yang membuat kita sangat bersemangat mengerjakan buku ini dan apa manfaatnya bagi kita. |
| f) Tone (nada) | : | Pikiran perasaan yang ingin kita timbulkan dalam diri pembaca (peserta didik) saat mereka membaca tulisan kita. |
Itulah lima cara kerja dari strategi target. ada dasarnya, strategi target ini merupakan cara yang ce pat, cerdas, dan tidak membuat kita stres dalam rangka memfokuskan tulisan kita, serta menghemat waktu saat kita melangkah ke tahap selanjutnya. Sekarang, lihatlah kerangka paragraf yang telah kita buat. Kemudian, gu nakan strategi target ini untuk memutuskan bagaimana kita akan menuliskan drafnya.
2) Draft
Setelah menyusun fokus tulisan dengan strategi target, langkah berikutnya yaitu menuliskan draf. Untuk menuliskan draf, sebaiknya kita merujuk pada pera pikiran atau kerangka paragraf yang sudah kita buat (atau keduanya). Berilah nomor pada ide yang kita tuliskan di peta dengan urutan yang kita inginkan di draf, kemudian tuliskan di atas selembar kertas. Jika membuat kerangka paragraf untuk setiap ide utama, kita akan bisa menggunakannya dalam draf kita. Lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.
Setelah draf dari peta pikiran dan kerangka paragraf selesai kita buat, berarti tulisan kita hampir rampung. Sebelum melangkah ke tahap akhir, perbaiki dahulu draf kita dengan menggunakan lima teknik memoles draf yang dikemukakan oleh DePorter. Kelima teknik tersebut akan membantu kita untuk lebih mengembangkan ide serta memperluas sasaran dan makna di hasil akhir tulisan. Berikut ini adalah kelima teknik tersebut.
- Bahasa yang alami. Maksudnya, tuliskan draf buku teks yang kita buat seperti cara orang berpikir dan berbicara.
- Suara aktif. Maksudnya, buat tokoh dalam tulisan kita “bertindak” akan mewujudkan sesuatu. Dengan demikian, tulisan kita akan memegang kendali dan menciptakan momentum.
- Kata kerja aktif kuat. Maksudnya, gunakan kata kerja yang kuat untuk menghidupkan tulisan kita. Sebagai contoh, “Selama berabad-abad, puisi Rumi menyihir dunia.” Kata kerja aktif yang ditulis miring itu lebih bertenaga daripada penggunaan kata sejenisnya, seperti dalam kalimat, “Selama berabad-abad, puisi Rumi membuat dunia kagum.
- Bahasa spesifik. Maksudnya, tambahkan sentuhan personal dengan detail, seperti nama (nama orang, institusi, jalan, kegiatan, dan sebagainya) dan angka (nomor urut, jumlah uang, nomor halaman, jumlah berat, dan sebagainya). Menggunakan bahasa spesifik juga berarti tujuan penulisan kita harus dinyatakan secara jelas, bukan membiarkan pembaca berusaha memahaminya sendiri. Harus kita ingat bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita harapkan dengan menulis, namun kita harus mengatakannya dengan jelas.
- Jelas, singkat, dan sederhana, Maksudnya, buat semua kata dan kalimat itu penting. Caranya, gunakan kalimat yang terdiri atas 20 kata atau kurang. Ragamkan jumlah katanya agar tulisan kita menarik dan baru. Pilih kata-kata yang pendek dan bukan panjang, serta buat paragraf pendek dan langsung.
-
Mengevaluasi atau Mengedit Hasil Tulisan dengan Cara Membaca Ulang
Pada saat membaca ulang, jika ada kekurangan, maka segera kita lakukan penambahan dan perbaikan. Berkaitan dengan hal itu, Bobbi DePorter menyarankan untuk memperhatikan tiga aspek berikut ini.
1) Akurasi
Untuk memeriksa tingkat akurasi tulisan kita, maka lakukan dengan tiga cara sebagai berikut:
- Membaca dengan nyaring. Dengan membaca menggunakan suara nyaring, kita akan dengan mudah menemukan kekeliruan, kesalahan eja, ser ta mengoptimalkan pemakaian kata.
- Langkah ini dapat dilakukan dengan menjauh sebentar dari tulisan kita. Dengan cara ini, akan memberi waktu bagi ego kita untuk pergi, memberikan lebih banyak ruang bagi akal sehat dan pikiran-pikiran cerdas kita. Jika kita bisa beristirahat sejenak, peluang kita untuk membaca hasil tulisan kita akan semakin besar, dan kita tidak hanya meyakini apa yang sudah kita tuliskan saja.
- Menukarkan tulisan ke teman. Dengan menukar kan tulisan kita kepada teman yang kita percaya dan kita hormati adalah salah satu cara memecah kan masalah ini. Gunakan umpan baliknya untuk melihat dan atau jika sekiranya perlu diperbaiki maka dapat untuk memperbaiki draf tulisan kita.
2) Detail dan contoh
Dalam langkah ini, baca kembali semua paragraf tu lisan yang telah kita buat. Apakah semua detail pendu kung dan contoh-contohnya sudah mampu mengomu nikasikan maksud yang mau kita berikan? Untuk lebih memudahkan langkah ini, periksa kembali peta pikiran dan kerangka paragraf.
3) Kesempatan memoles tulisan
Pada bagian ini, disarankan agar draf yang telah kita tulis agar diperiksa kembali. Apabila ada kemungkinan dan kesempatan untuk memolesnya, maka segera poles tulisan yang kita buat itu dengan teknik memoles draf yang telah dijelaskan di muka.
-
Memperbaiki Tulisan Menjadi Menonjol
Langkah ini bisa dilakukan dengan strategi “hebat kreatif” yang dicetuskan oleh Bobbi DePorter berikut.
1) Menunjukkan, bukan memberi tahu Cara ini dilakukan dengan menciptakan gambaran di benak pembaca buku kita. Untuk itu, terapkan kete rampilan mengamati yang kita miliki (lihat, katakan, dan gambarkan) ke dalam tulisan kita dengan menunjukkan kepada pembaca apa yang kita ingin mereka lihat mela lui bahasa deskriptif.
2) Gerak lambat
Gerak lambat dilakukan dengan mengamati dan mengikutsertakan secara lebih rinci, dengan mem bayangkan segalanya dalam gerakan lambat, kemudian kita gambarkan ke dalam tulisan kita. Dengan demikian, pengalaman dan pengetahuan yang kita tuliskan terasa lebih hidup.
3) Ungkapan, pengejawantahan, aliterasi, dan kiasan
- Pertama, ungkapan, yaitu perumpamaan yang membandingkan satu hal dengan hal lain, biasanya menggunakan kata-kata “seperti” atau “bak”. Contohnya, “Kecerdasan dan kepiawaian Rossi seperti mengguncang dunia olahraga balap sepeda motor”.
- Kedua, pengejawantahan. Maksudnya, dalam penulisan buku teks pelajaran, digunakan pengejawantahan kuat dengan memberi sifat manusiawi pada benda, sifat, atau ide. Contohnya, “Angin bertiup di atas pasir”.
- Ketiga, aliterasi, yaitu pengulangan suara yang sama sebagai awal dari rangkaian kata. Contohnya, “Kosakata kita kampungan”.
- Keempat, kiasan, yaitu gaya bicara yang membanding kan dua hal atau ide yang biasanya tidak saling terkait. Namun, kiasan tidak menggunakan kata “seperti” atau “bak”. Contohnya, Dunia adalah panggung sandiwara.
4) Ganti klise
Klise adalah ungkapan biasa yang digunakan ber ulang-ulang karena sudah dikenal. Contohnya, “Meng ungkapkan ide itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang, klise berguna, tetapi jika digunakan dalam penulisan, sering kali membuat pembaca merasa kita tidak cukup merasa percaya diri dan tidak orisinal. Maka, sebaiknya gunakan kata-kata sendiri, karena itu jauh lebih baik.
-
Berikan Ilustrasi Gambar, Tabel, Diagram, atau Sejenisnya secara Proporsional
Dengan memberikan ilustrasi gambar, tabel, diagram, dan atau sejenisnya secara proporsional, maka dapat mendukung penjelasan materi yang disajikan. Namun, harus diingat pula untuk tidak menampilkan gambar yang berbau SARA, bias gender, ataupun rasisme. Karena, hal tersebut bisa menimbulkan kontraproduktif terhadap manfaat dari gambar itu sendiri.
Itulah delapan langkah yang akan membuat upaya penyusunan buku teks pelajaran tidak lagi menjadi sulit. Bahkan, buku teks yang kita buat tersebut bisa menjadi buku teks pelajaran yang menarik dan dahsyat. Peserta didik bisa terkesan dengan tulisan maupun gaya bahasa yang kita pakai. Jika sudah demikian, prestasi belajar bukanlah hal yang sulit untuk diwujudkan.
Demikian referensi buku dengan judul Bab 6 Buku Teks Buku Ajar(3) membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin Ruang Buku.
