RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bab 7 LKS Buku Ajar(2)
-
Langkah-Langkah Aplikatif Membuat LKS
Keberadaan LKS yang inovatif dan kreatif menjadi harapan semua peserta didik. Karena, LKS yang inovatif dan kreatif akan menciptakan proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Peserta didik akan lebih terbius dan terhipnotis untuk membuka lembar mi lembar halamannya. Selain itu, mereka akan mengalami kecanduan belajar. Maka dari itu, sebuah keharusan bahwa setiap pendidik ataupun calon pendidik agar mampu menyiapkan dan membuat bahan ajar sendiri yang inovatif.
Di bagian awal telah disinggung dan dijelaskan tentang struktur dan format LKS. Lalu, bagaimana cara membuat LKS? Untuk bisa membuat LKS sendiri, maka kita perlu memahami langkah-langkah penyusunannya. Berikut adalah langkah-langkah penyusunan lembar kegiatan siswa menurut Diknas (2004).
-
Melakukan Analisis Kurikulum
Analisis kurikulum merupakan langkah pertama dalam penyusunan LKS. Langkah ini dimaksudkan untuk lam menentukan materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar LKS. Pada umumnya, dalam menentukan materi, langkah analisisnya dilakukan dengan cara melihat materi pokok, pengalaman belajar, serta materi yang akan diajarkan. Selanjutnya, kita juga harus mencermati kompetensi yang mesti dimiliki oleh peserta didik. Jika semua langkah tersebut telah dilakukan, maka kita harus bersiap untuk memasuki langkah berikutnya, yaitu menyusun peta kebutuhan lembar kegiatan siswa.
-
Menyusun Peta Kebutuhan LKS
Peta kebutuhan LKS sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis serta melihat sekuensi atau urutan LKS-nya. Sekuensi LKS sangat dibutuhkan dalam menentukan prioritas penulisan. Langkah ini biasanya diawali dengan analisis kurikulum dan analisis sumber belajar.
-
Menentukan Judul-Judul LKS
Perlu kita ketahui bahwa judul LKS ditentukan atas dasar kompetensi-kompetensi dasar, materi-materi pokok, atau pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum. Satu kompetensi dasar dapat dijadikan seba gai judul LKS apabila kompetensi tersebut tidak terlalu besar. Adapun besarnya kompetensi dasar dapat dideteksi, antara lain dengan cara apabila diuraikan ke dalam materi pokok (MP) mendapatkan maksimal 4 MP, maka kompetensi tersebut dapat dijadikan sebagai satu judul LKS. Namun, apabila kompetensi dasar itu bisa diurai kan menjadi lebih dari 4 MP, maka harus kita pikirkan kembali apakah kompetensi dasar itu perlu dipecah, contohnya menjadi dua judul LKS. Jika judul-judul LKS telah kita tentukan, maka langkah selanjutnya yaitu mulai melakukan penulisan.
-
Penulisan LKS
Untuk menulis LKS, langkah-langkah yang di lakukan adalah sebagai berikut.
Pertama, merumuskan kompetensi dasar. Untuk merumuskan kompetensi dasar, dapat kita lakukan dengan menurunkan rumusannya langsung dari kurikulum yang berlaku. Contohnya, kompetensi dasar dari KTSP 2006. yang diturunkan
Kedua, menentukan alat penilaian. Penilaian kita lakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja peserta didik. Karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, di mana penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensi, maka alat penilaian yang cocok dan sesuai adalah menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced Assessment. Dengan demikian, pendidik dapat melakukan penilaian melalui proses dan hasilnya.
Ketiga, menyusun materi. Untuk menyusun materi LKS, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Berkaitan dengan isi atau materi LKS, perlu kita ketahui bahwa materi LKS sangat tergantung pada kompetensi dasar yang akan dicapainya. Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umum atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber, seperti buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian, dan sebagainya. Supaya pemahaman peserta didik terhadap materi lebih kuat, maka dapat saja di dalam LKS kita tunjukkan referensi yang digunakan agar peserta didik bisa membaca lebih jauh tentang materi tersebut. Selain itu, tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan dari peserta didik tentang hal-hal yang seharusnya peserta didik dapat melakukannya. Contohnya, tugas diskusi. Agar peserta didik paham betul mengenai tugas yang diberikan kepada mereka, judul diskusi harus diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi, dan berapa lama waktu diskusinya.
Keempat, memperhatikan struktur LKS. Ini adalah langkah terakhir dalam penyusunan sebuah LKS. Ibarat akan membangun sebuah rumah, maka kita harus paham benar tentang struktur rumah. Ada fondasi di bagian dasarnya, kemudian di atasnya ada tembok dan beton, dan di bagian paling atas adalah atap. Jika sampai bagian-bagian itu salah satunya tidak ada atau terbalik dalam penyusunannya, maka bangunan rumah tidak mungkin terbentuk. Hal yang sama juga terjadi dalam penyusunan LKS. Kita mesti memahami bahwa struktur LKS terdiri atas enam komponen, yaitu judul, petunjuk belajar (petunjuk siswa), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas-tugas dan langkah-langkah kerja, serta penilaian. Ketika kita menulis LKS, maka paling tidak keenam komponen inti tersebut harus ada. Apabila salah satu komponennya tidak ada, LKS pun tidak akan pernah terwujud dan terbentuk. Kalaupun terwujud, itu hanyalah sebuah kumpulan tulisan dan tidak bisa disebut sebagai LKS.
-
Mengembangkan LKS agar “Kaya Manfaat”
Untuk membuat sebuah LKS yang kaya manfaat, maka kita harus menjadikannya sebagai bahan ajar yang menarik bagi peserta didik. Sehingga, dengan keberadaan LKS tersebut, peserta didik menjadi tertarik untuk belajar keras dan belajar cerdas. Lantas, bagaimana caranya? Dalam rangka mengembangkan LKS yang “kaya manfaat”, maka kita perlu memperhatikan desain pengembangan dan langkah-langkah pengembangannya.
-
Menentukan Desain Pengembangan LKS
Seperti halnya bahan ajar yang menggunakan media cetak, desain LKS pada dasarnya tidak mengenal pembatasan. Batas yang ada hanyalah imajinasi kita sebagai pendidik. Meski demikian, ada dua faktor yang perlu kita perhatikan pada saat mendesain LKS, yaitu tingkat kemampuan membaca peserta didik dan pengetahuan peserta didik.
Kita tentu sudah tahu bahwa LKS didesain untuk digunakan peserta didik secara mandiri. Artinya, kita sebagai pendidik hanya berperan sebagai fasilitator, dan peserta didiklah yang diharapkan berperan secara aktif dalam mempelajari materi yang terdapat di dalam LKS. Apabila desain yang kita buat terlalu sulit dan rumit bagi peserta didik, maka mereka akan kesulitan dalam memahami materi.
Adapun batasan umum yang dapat kita jadikan pedoman pada saat menentukan desain LKS adalah sebagai berikut:
-
Ukuran
Gunakanlah ukuran yang dapat mengakomodasi kebutuhan pembelajaran yang telah ditetapkan. Contohnya, kita menginginkan peserta didik kita untuk mampu membuat bagan alur (sebagai salah satu tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan). Maka, ukuran LKS yang dapat mengakomodasi hal ini adalah A4 (kuarto), karena dengan ukuran kuarto peserta didik akan mempunyai cukup ruang untuk membuat bagan. Apabila kita menentukan ukuran kertas LKS adalah A5 (setengah kuarto), peserta didik akan kesulitan membuat bagan, karena ruangan yang tersedia sangat terbatas.
-
Kepadatan Halaman
Dalam hal ini, kita harus mengusahakan agar halaman tidak terlalu dipadati dengan tulisan. Sebab, halaman yang terlalu padat akan mengakibatkan peserta didik sulit memfokuskan perhatian. Sekarang, coba perhatikan dua contoh desain LKS berikut ini. Bagaimana kesan Anda setelah melihat dua contoh tersebut?
-
Penomoran
Penomoran materi juga tidak boleh dilupakan dalam mendesain LKS. Sebab, dengan adanya penomoran, bisa membantu peserta didik, terutama bagi yang kesulitan untuk menentukan mana judul, mana subjudul, dan mana anak subjudul dari materi yang kita berikan dalam LKS. Hal ini akan menimbulkan kesulitan bagi peserta didik untuk memahami materi secara keseluruhan. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan huruf kapital atau penomoran. Lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut.
Contoh penomoran dan penggunaan huruf kapital pada Gambar 4 bukanlah satu-satunya struktur pengorganisasian yang bisa kita gunakan. Kita juga dapat menggunakan struktur lainnya. Namun, yang perlu diingat adalah konsistensi penggunaan struktur yang sudah kita pilih itu harus selalu kita jaga.
-
Kejelasan
Pastikan bahwa materi dan instruksi yang kita berikan dalam LKS dapat dengan jelas dibaca oleh peserta didik. Sesempurna apa pun materi yang kita siapkan, tetapi jika peserta didik tidak mampu membacanya dengan jelas, maka LKS tidak akan memberi hasil yang maksimal. Misalnya saja hasil cetakan LKS yang kita buat tembus sampai halaman sebaliknya. Hal ini tentu saja mengganggu kenyamanan saat membacanya. Oleh karena itu, pastikan bahwa cetakan di halaman yang satu tidak menembus ke halaman sebaliknya.
-
Langkah-Langkah Pengembangan LKS
Untuk mengembangkan LKS yang menarik dan dapat digunakan secara maksimal oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, ada empat langkah yang dapat ditempuh, yaitu penentuan tujuan pembelajaran, pengumpulan materi, penyusunan elemen atau unsur unsur, serta pemeriksaan dan penyempurnaan.
-
Menentukan Tujuan Pembelajaran yang Akan Di-breakdown dalam LKS
Pada langkah pertama ini, kita harus menentukan desain (lihat penjelasan tentang Desain LKS) menurut rujukan pembelajaran yang kita acu. Perhatikan variabel ukuran, kepadatan halaman, penomoran halaman, dan kejelasan. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah “Mahasiswa dapat melakukan penyusunan teknik instrumen penilaian pembelajaran X”. Sebagai simulasi, mari kita tentukan bahwa berdasarkan tujuan tersebut, ukuran LKS adalah A4 (karena dalam rencana penelitian, diperlukan bagan). Untuk memaksimalkan penggunaan halaman, maka desain LKS akan dibuat dengan outline agai berikut.
-
Pengumpulan Materi
Dalam pengumpulan materi ini, hal yang perlu kita lakukan adalah menentukan materi dan tugas yang akan kita masukkan ke dalam LKS. Oleh karena itu, pastikan bahwa materi dan tugas yang kita tentukan sejalan dengan tujuan pembelajaran. Kumpulkan bahan atau materi dan buat rincian tugas yang harus dilaksanakan oleh peserta didik kita. Bahan yang akan dimuat dalam LKS dapat kita kembangkan sendiri atau kita dapat memanfaatkan materi yang sudah ada. Selain itu, tambahkan pula ilustrasi atau bagan yang dapat memperjelas penjelasan naratif yang kita sajikan.
Contoh konkretnya sebagai berikut. Berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan pada langkah pertama, kita memasukkan materi “Konsep Dasar Penilaian” dalam LKS. Dari materi tersebut, tentukan rincian tugas yang harus dikerjakan peserta didik, contohnya seperti berikut ini.
-
Penyusunan Elemen atau Unsur-Unsur
Pada bagian inilah, saatnya kita mengintegrasikan desain (hasil dari langkah pertama) dengan tugas (sebagai hasil dari langkah kedua). Sebagai hasilnya, kita dapat lihat pada contoh berikut.
-
Pemeriksaan dan Penyempurnaan
Apabila kita berhasil melakukan langkah ketiga di atas, tidak berarti kita dapat langsung memberikan LKS tersebut kepada peserta didik kita. Sebelum memberikannya kepada peserta didik, kita perlu melakukan pengecekan kembali terhadap LKS yang sudah kita kembangkan tersebut. Ada empat variabel yang harus kita cermati sebelum LKS dapat dibagikan ke peserta didik. Keempat variabel itu adalah sebagai berikut:
- Kesesuaian desain dengan tujuan pembelajaran yang berangkat dari kompetensi dasar. Pastikan bahwa desain yang kita tentukan dapat mengakomodasi pencapaian tujuan pembelajaran.
- Kesesuaian materi dan tujuan pembelajaran. Pastikan bahwa materi yang dimasukkan dalam LKS (baik materi yang kita kembangkan sendiri maupun materi yang kita dapatkan dari bahan yang sudah ada) sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditentukan.
- Kesesuaian elemen atau unsur dengan tujuan pembelajaran. Pastikan bahwa tugas dan latihan yang kita berikan menunjang pencapaian tujuan
- Kejelasan penyampaian. Pastikan apakah LKS mudah dibaca dan tersedia cukup ruang untuk mengerjakan tugas yang diminta.
Memang sudah semestinya-dan idealnya-kita melakukan evaluasi terhadap LKS yang sudah kita kembangkan, yang telah kita bagikan kepada peserta didik. Adapun caranya adalah dengan mengevaluasi komentar peserta didik setelah menggunakan LKS. Masukan dari peserta didik dapat kita gunakan untuk menyempurna kan LKS tersebut.
Bagaimana sekarang? Apakah Anda sudah cukup jelas atau mungkin masih bingung tentang prosedur pembuatan LKS ini? Jika Anda sudah jelas, segera cobalah untuk membuat sebuah LKS untuk peserta didik Anda. Dengan sering berlatih dan membiasakan diri membuat LKS sendiri untuk peserta didik Anda, maka hal ini akan menjadikan kemampuan dan keterampilan Anda dalam membuat LKS terasah. Semakin lama, Anda akan semakin mahir. Dan, LKS yang Anda hasilkan pun akan semakin baik dan menarik. Namun, jika Anda masih ada beberapa hal yang belum paham mengenai pembuatan LKS ini, maka sebaiknya Anda baca ulang langkah langkah di depan sekali lagi.
Demikian referensi buku dengan judul Bab 7 LKS Buku Ajar(2) membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin Ruang Buku.
