Kenali Sistematika Menulis Buku Referensi

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Kenali Sistematika Menulis Buku Referensi

Pengertian Buku Referensi

Secara umum, Buku Referensi adalah suatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya fokus pada satu bidang ilmu. Buku tersebut membahas topik yang cukup luas (satu bidang ilmu).

Sehingga di dalam satu judul buku referensi akan membahas berbagai topik di suatu bidang keilmuan. Hal ini yang membuat isi dari buku ilmiah tersebut sangat kompleks dan jumlah halamannya bisa sangat lumayan dibandingkan dengan buku ajar maupun monograf. Pembahasan yang mencakup berbagai topik di satu rumpun ilmu kemudian disusun berdasarkan logika bidang ilmu tersebut. Artinya, urutan bab atau urutan pembahasan setiap topik disesuaikan berdasarkan logika bidang ilmu.

Secara sederhana, urutannya dimulai dari materi paling dasar dan dengan tingkat kesulitan paling ringan. Baru kemudian terus menanjak dan meningkat sampai ke materi lanjutan dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Membantu mempermudah proses penyusunannya, maka ada baiknya dosen rutin berkomunikasi dengan rekan sesama dosen yang lebih senior. Sekaligus rajin mengikuti workshop penulisan buku ilmiah, terutama jika membahas buku referensi.

Kenali Sistematika Menulis Buku Referensi

Pada kesempatan kali ini ada tips dan cara menulis buku referensi yang tersistematika. Bagaimana? Berikut sistematika menulis buku referensi yang wajib ada.

Judul Buku Referensi

Sistematika paling awal adalah membuat judul buku referensi. Buatlah judul yang menarik. Penulisan judul yang tepat ditulis dengan singkat, padat dan jelas. Upayakan untuk membuat judul sefokus mungkin dan sesuai dengan tema. Jika masih merasa kesulitan menulis judul, Anda bias menulis judul di bagian terakhir.

Tips mudah menulis judul dibagian akhir ketika menulis buku referensi paling di sarankan. Karena menentukan judul dibagian akhir akan lebih memudahkan penulis untuk memutuskan temuan yang paling menarik. Sebaliknya, ketika menentukan judul tulisan di bagian awal, akan lebih banyak orang yang merasa kesulitan menentukan.

Karena buku referensi salah satu jenis buku yang digunakan untuk buku referensi dan buku pegangan belajar, maka pembuatan judul pun juga perlu dan sangat diperhatikan. Dari segi isi tetap diperhatikan gaya bahasa yang tetap formal namun tetap informatif.

Pendahuluan

Pendahuluan adalah ditulis dengan cara mencuplik bab pertama dari hasil penelitian yang Anda lakukan. Di bab pendahuluan inilah tugas seorang penulis untuk menarik pembaca untuk tertarik dan penasaran ingin melihat hasil lebih banyak dan detail. Hal yang perlu diketahui saat menulis pendahuluan pada hasil penelitian dan pendahuluan yang diperuntukan menulis buku ilmu pengetahuan berbeda. Penulisan pendahuluan pada karya ilmiah lebih fokus ke objek yang diteliti atau pokok pembicaraan. Termasuk juga fokus pada wawasan, rencana pengembangan hingga tujuan. Berbeda ketika penulis menuliskan pendahuluan untuk menulis buku referensi khususnya ilmu pengetahuan.

Ketika Anda menulis pendahuluan buku referensi, ada empat elemen penting yang harus ada di bagian pendahuluan. Apa sajakah elemen-elemen tersebut meliputi beberapa hal sebagai berikut.

a. Data dan Fakta: Masukan data dan fakta dibagian pendahuluan. Keberadaan data dan fakta inilah berfungsi untuk menguatkan kalimat utama di setiap paragraf. Fungsi lain adannya data dan fakta akan menguatkan kepercayaan pembaca, dan tidak meragukan pernyataan penulis.


b. State of Art: Membandingkan secara singkat teori dengan hasil penelitian yang mutakhir. ATau bisa juga digunakan untuk menjelaskan fenomena. Intinya adalah, ada teori yang dihubungkan, dan tentunya setiap teori yang dihubungkan pun juga harus sarat akan data dan fakta. Cukup di singgung secara singkat di pendahuluan, sisanya di jelaskan di bagian latar belakang.


c. Mengemukakan posisi penelitian yang penulis Alami. Meskipun buku referensi ini bukanlah buku jurnal atau apa, melainkan hasil penelitian yang dikemas menjadi buku referensi. Maka, sumber dasarnya juga dari hasil penelitian, dimana setiap kali penelitian selalu ada celah yang belum bisa dijelaskan oleh literatur atau penelitian yang lain. JIka memang di lapangan ditemukan, tidak ada salahnya di singgung di sini sebentar.


d. Dilengkapi dengan alasan, cantumkan alasan kenapa Anda melakukan penelitian. Di sinilah penulis juga memberikan gambaran kepada pembaca terkait apa yang terjadi di lapangan.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam sebuah penelitian, menjadi kerangka dasar untuk menemukan solusi atas apa yang hendak diteliti oleh penulis. Dalam sebuah penelitian, rumusan masalah menjadi penentu bahasan yang akan diolah. Begitupun ketika Anda juga hendak menulis buku referensi, yang mengacu dari hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan. Karena rumusan masalah menjadi sangat mendasar, maka butuh dukungna dan bantuan dengan cara membuat metodologi. Fungsinya jelas, memudahkan penelitian dan menentukan ruusan masalah.

Dari segi bentuknya, rumusan masalah bisa berupa ‘pertanyaan’ dan ‘pernyataan”. Keduanya berupaya untuk mencari jawaban. Adapun upaya memperoleh jawaban dengan cara mengumpulkan data atau rumusan masalah. Adapun beberapa bentuk rumusan masalah, ada rumusan masalah deskriptif, komparatif dan rumusan masalah asosiatif. Dari ketiga rumusan masalah tersebut, setiap penulis memiliki gaya dan kesenangan sendiri, hendak menggunakan rumusan masalah yang seperti apa.

Karakteristik Buku Referensi

Buku referensi yang disusun oleh dosen kemudian wajib memenuhi karakteristik atau ciri khas dari buku referensi pada umumnya. Dimana karakteristik khas tersebut antara lain:

1. Bersumber dari Hasil Penelitian

Karakteristik yang pertama adalah bersumber dari hasil penelitian, khususnya penelitian yang dilakukan dosen yang bersangkutan. Meskipun begitu, dosen bisa tetap mengambil referensi dari hasil penelitian sebelumnya.

Sehingga buku yang disusun menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma, yakni melakukan penelitian dan menyebarluaskan hasilnya. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya diterbitkan ke dalam jurnal dan prosiding, tapi juga buku.

2. Pegangan Dosen untuk Mengajar

Buku referensi membahas seluruh topik di suatu bidang keilmuan sehingga bisa dijadikan referensi dalam penelitian maupun pendidikan. Buku ilmiah tersebut umum digunakan dosen untuk mendampingi kegiatan mengajar.

Sehingga bisa membantu dosen memahami materi perkuliahan dan memaparkannya kembali kepada mahasiswa dengan jelas dan runtut. Oleh sebab itu, buku jenis ini perlu disusun dengan seksama agar bisa menjadi pegangan dosen saat mengajar.

3. Isi Buku Sesuai Alur Logika Bidang Ilmu

Karakteristik berikutnya adalah isi buku yang alur penulisannya sesuai dengan logika bidang ilmu yang dibahas. Jadi seperti penjelasan sebelumnya urutan topik disesuaikan dengan alur logika bidang keilmuan, biasanya dari pembahasan dasar menuju ke pembahasan lanjutan.

4. Menggunakan Bahasa Formal

Buku referensi termasuk ke dalam jenis buku ilmiah sehingga terikat oleh struktur dan juga bahasa yang digunakan. Pada aspek bahasa, buku ilmiah jenis ini diwajibkan memakai bahasa formal yang didominasi oleh bahasa ilmiah.

Berhubung buku ini dibaca oleh dosen maka memakai bahasa ilmiah sesuai bidang keilmuan tidak menjadi masalah. Sebab dosen sendiri termasuk ke dalam masyarakat ilmiah yang tentu familiar dengan berbagai istilah ilmiah.

5. Diterbitkan dan Ber-ISBN

Buku hasil penelitian seperti referensi kemudian diwajibkan untuk diterbitkan secara resmi. Sehingga dosen yang menulisnya kemudian mengirimkannya ke penerbit agar bisa diterbitkan lengkap dengan ISBN atau bahkan diurus KI-nya.

6. Membahas Satu Bidang Keilmuan

Karakteristik lainnya dari buku jenis referensi ini adalah membahas satu bidang keilmuan dan mencakup seluruh topik di bidang keilmuan tersebut. Bagi dosen, wajib disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dosen tersebut.

Sehingga bisa dikatakan sesuai dengan bidang keilmuan yang dipelajari atau dikuasai oleh dosen yang bersangkutan. Misalnya dosen psikologi maka tidak bisa menyusun buku dari bidang keilmuan ekonomi, fisika, atau lainnya selain psikologi.

7. Minimal 40 Halaman

Buku yang disusun juga harus memenuhi syarat minimal jumlah halaman sesuai ketentuan. Dimana syaratnya adalah minimal sebanyak 40 halaman, dan bisa lebih.

8. Tidak Menyimpang dari Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila

Isi dari buku referensi yang disusun selain harus sesuai bidang keilmuan juga harus menjaga isinya. Supaya tidak melenceng atau menyimpang dari isi Undang-Undang Dasar 1945 dan juga Pancasila.

Cara Membuat Buku Referensi

Pembahasan selanjutnya adalah tata cara membuat buku referensi, yang tentunya wajib dipahami sebelum proses menulis mulai dilakukan. Jadi, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dosen. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Memahami Kode Etik Kepenulisan

Tahapan pertama adalah memahami kode etik kepenulisan agar bisa jujur dalam menulis, untuk memastikan isi tulisan adalah buah pikiran sendiri. Sekaligus bebas dari tindakan plagiarisme yang sanksinya berat bagi dosen.

2. Paham Pengertian Buku Referensi

Jika kode etik kepenulisan sudah dipahami, maka dosen bisa memahami juga pengertian buku referensi. Sehingga bisa tahu nanti isinya apa saja dan bagaimana menjabarkan isi berdasarkan hasil penelitian dan referensi tambahan lainnya.

3. Paham Struktur Isi Buku Referensi

Tahapan selanjutnya adalah mempelajari struktur isi buku referensi, karena buku jenis ini merupakan buku ilmiah. Sehingga ada aturan ketat yang menyertai kepenulisannya. Mulai dari gaya bahasa sampai bagian isinya ada apa saja.

Pemahaman ini penting agar isi dari buku yang disusun sudah memenuhi ketentuan. Apalagi jika ingin mendapatkan angka kredit dari penerbitannya, sudah tentu wajib sesuai yang dicantumkan di dalam PO PAK.

4. Mengumpulkan Data Sebanyak Mungkin

Tahap selanjutnya adalah mengumpulkan data dimana data utama adalah hasil penelitian. Meskipun begitu, dosen tentu tidak cukup hanya mengandalkan data penelitian sendiri.

Jadi, perlu mencari referensi sebanyak mungkin agar kualitas isi bisa terjamin dan pembahasannya juga bisa mendalam.

5. Menyusun Kerangka Karangan

Selama proses mengumpulkan referensi dan data, maka dosen bisa sekaligus menyusun kerangka karangan. Namun bisa juga dilakukan setelahnya, sebab isi setiap bab tentu perlu disesuaikan dengan data yang berhasil didapatkan.

Kerangka karangan akan membantu dosen memiliki peta dalam menulis buku referensi. Sehingga tetap sistematis sesuai urutan logika bidang keilmuan dan juga memudahkan dosen menulis setahap demi setahap tanpa resiko tersesat dan pembahasan melebar.

6. Mulai Menulis

Jika kerangka karangan sudah selesai dibuat dan data juga sudah dirasa lengkap. Maka dosen bisa mulai menulis dimana idealnya dimulai dari bab pertama menuju ke bab terakhir.

Pastikan menulis setiap hari meskipun hanya 30 menit atau 1 jam, karena dosen perlu meluangkan waktu untuk menulis. Bukan malah menunggu waktu luang yang tidak mungkin dimiliki saking sibuknya.

7. Dibaca Ulang

Setelah proses menulis selesai dilakukan, maka silahkan dibaca ulang untuk mengecek ada kesalahan atau tidak. Seperti kesalahan menyusun kalimat, penggunaan tanda baca, dan kesalahan ketik (typo).

8. Dikirim ke Penerbit

Jika sudah melakukan editing dan revisi mandiri, silahkan kirimkan naskah ke penerbit. Sebab buku referensi perlu diterbitkan secara resmi agar memiliki ISBN dan diganjar dengan 40 poin angka kredit.

Demikian beberapa mengenai referensi buku ajar dengan judul Kenali Sistematika Menulis Buku Referensi apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.