Bagian 2 Menjadi konselor yang efektif (1)

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Menjadi konselor yang efektif.

Proses konseling yang intensional (mendalam) dan efektif akan membantu klien untuk berkembang secara optimal. Sebaliknya jika proses konseling berjalan tidak efektif dan kurang mendalam, maka sudah dapat dipastikan akan gagal mencapai tujuan dan bahkan dapat merusak klien.

Dimick (1970) (dikutip dari Latipun, 2006) mengemukakan bahwa kesadaran konselor terhadap personalnya akan menguntungkan klien. Dimensi personal yang harus disadari konselor dan perlu dimiliki agar menjadi konselor yang efektif, yaitu spontanitas, fleksibelitas, konsentrasi, keterbukaan, stabilitas emosi, berkeyakinan akan kemampuan untuk berubah, komitmen pada rasa kemanusiaan, kemauan membantu klien mengubah lingkungannya, pengetahuan konselor, dan totalitas.

Selain itu, Halgin dan Caron (1991) (dikutip dari McLeod, 2008) mengetengahkan bahwa serangkaian pertanyaan kunci yang harus ditanyakan kepada diri konselor sendiri ketika mempertimbangkan untuk menerima atau menolak klien agar menjadi konselor yang efektif, yaitu :

  • Apakah orang ini membutuhkan konseling/terapi?
  • Apakah saya mengetahui orang ini?
  • Apakah saya kompeten untuk menangani orang ini?
  • Apa reaksi pribadi saya pada orang ini?
  • Apakah saya kapabel secara emosional dalam menangani orang ini?
  • Apakah klien merasa nyaman dengan saya?
  • Dapatkah klien mampu membayar saya?

Adakalanya hasil wawancara penilaian ini adalah klien dirujuk kepada konselor lain. Proses ini dapat membangkitkan perasaan yang sangat kuat baik dalam diri konselor maupun penilai (Wood dan Wood, 1990).

Menurut hasil penelitian Hadley dan Stupp (1976) (dikutip dari Willis, 2009) faktor-faktor penyebab yang bisa merusak klien adalah:

Terlalu Dalam Konselor Menggali Klien

Hal ini sampai melampaui batas toleransi. Konselor terlalu dalam menggali diri klien, sehingga cenderung terburu-buru dan menekan pribadi klien. Akibatnya konselor kehilangan informasi kunci atau isu sentral. Sebagai contoh, sering konselor terlalu asyik menggali pribadi klien yaitu tentang usia, situasi kehidupan pribadi seperti seks, faktor ras, lingkungan budaya dan sebagainya.

Di samping itu konselor terjebak diskusi dengan klien mengenai latar belakang kesulitan klien, menjelaskan nilai-nilai fungsional konseling, menjelajahi tingkat motivasi, dan juga tentang kekuatan ego klien.

Konselor Terlalu Hati-hati dalam Menggali Klien

Hal ini menyebabkan konselor gagal membuat perubahan diri klien. Karena inti masalah atau isu sentral tak pernah tersinggung oleh konselor.

Kehati-hatian konselor mungkin karena dia kurang dalam penguasaan teknik atau lemah dalam memahami etika konseling. Mungkin pula kepribadian konselor kurang mantap atau cenderung tidak stabil, jadi tak mampu menggali klien.

Aplikasi Teknik

Sering seorang konselor terlampau percaya diri karena merasa mengetahui banyak mengenai apa saja tentang teknik konseling. Padahal dia sebenarnya kurang terampil menggunakan teknik-teknik konseling. Juga kekurangan pengetahuan atau teori konseling dat tentang klien.

Ada lagi seorang konselor mungkin mampu menggunakan teknik yang baik namun kurang tepat dalam menggunakannya terhadap klien.

Hubungan Konseling

Di dalam hubungan konseling mungkin saja konselor terlalu banyak atau terlalu sedikit rapport. Tambahan lagi terjadi transferensi dan countertransferensi di mana terjadi suasana emosional pribadi yang kuat antara konselor dan klien. Klien mungkin merasakan konselor sebagai pacarnya atau sebaliknya, atau klien merasakan konselor sebagai ayahnya atau ibunya. Atau sebaliknya terjadi countertansferensi yaitu klien diserang habis-habisan oleh konselor.

Terjadinya hal-hal itu disebabkan:

  1. Kurangnya respek atau penghargaan terhadap klien
  2. Konselor gagal mengarahkan klien untuk memilih pengalaman
  3. Konselor terlalu bersemangat menyerang self-defense klien
  4. Konselor kurang menghargai keberhasilan klien
  5. Egoistic konselor terlalu besar (kesombongan ilmiah-scientific arrogance).

Masalah-masalah yang berhubungan dengan komunikasi adalah:

Masalah Komunikasi

(a) ketakmampuan konselor untuk berkomunikasi dengan jelas dan tidak mampu menangkap apa yang dikatakan klien;

(b) konselor gagal mengenali generalisasi dan distorsi (penyimpangan).

Fokus

Dalam hal fokus terdapat masalah yaitu:

  1. Konselor gagal membuat fokus masalah atau mengembangkan isu sentral.
  2. Kadang-kadang fokus tidak ada atau kebanyakan membuat fokus yang sempit dan kaku dengan topik tunggal.
  3. Terdapat fokus yang eksklusif tentang klien akan tetapi mengabaikan konteks lingkungan dan sosial-budaya.
  4. Hasil wawancara konselor dengan klien merupakan hasil kekurangan pengertian dan kelemahan struktur konseling.

 Kelemahan Konselor

  1. Konselor terikat pada teori sendiri sehingga gagal melihat pendekatan lain yang mungkin lebih efektif.
  2. Kesalahan proses konseling berasal dari perilaku konselor.
  3. Penafsiran konselor tidak correct (tidak cermat) sehingga tidak menjangkau kebutuhan dan sensivitas klien.
  4. Konselor tidak mepunyai beragam alternatif, sehingga tidak mampu merespon perilaku klien yang beragam.

Konselor yang efektif mempunyai kemampuan melihat bagaimana keadaan klien saat ini, dan dapat memilih intervensi yang sesuai (strategi dan teknik). Untuk menunjang kemampuan dan keterampilan konselor perlu kepribadian yang empati. Empati merupakan kunci menjadikan hubungan konseling berkualitas.

Empati diartikan oleh Carl Rogers (1961) sebagai kemampuan merasakan dunia pribadi klien, merasakan apa yang dirasakannya tanpa kehilangan kesadaran diri. Empati mempunyai subkomponen yaitu: (1) positive regard (penghargaan positif); (2) respect (rasa hormat); (3) warmth (kehangatan); (4) concreteness (kekonkritan); (5) immediacy (kesiapan, kesegaran); (6) confrontation (konfrontasi); (7) congruencelge eness (keaslian).

Zimmer (1967) menjelaskan bahwa konselor yang menggunakan empati cenderung menggunakan attending dimana komponen komponennya termasuk di dalam empati (kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan). Empati dekat dengan perilaku attending, para phrasing, dan refleksi feeling. Bahkan komponen-komponen attending amat besar perannya dalam empati.

Dengan perkataan lain bahwa jika kita ingin memahami empati secara mendasar haruslah melalui perilaku attending. Sebab dengan perilaku attending maka konselor akan mudah melakukan empati. Dengan adanya empati dan attending maka klien akan terlibat dan terbuka dalam hubungan konseling.

Bagaimana kata Rogers konselor membantu klien dengan sikap empati? Ikutilah hal-hal berikut ini.

  1. Dalam hubungan konseling, konselor merasakan hubungan yang sejajar dan terintegrasi dengan klien.
  2. Konselor bersikap unconditional positive regard terhadap klien.
  3. Komunikasi yang empati dengan klien.

Berdasarkan empati yang dikemukakan Rogers, Egan (1975) mengembangkan dua jenis empati yakni: (1) empati primer (primary empathy-PE), yaitu suatu perasaan bagaimana masuk ke dunia dalam

klien merasakan apa yang dirasakannya, dan dengan perilaku attend ing, (2) empati tingkat tinggi yang lebih akurat (advanced accurate empathy-AAE) yaitu konselor memberi empati yang lebih mendalam dan mengena sehingga pengaruhnya terasa lebih mendalam pada diri klien, dan pada gilirannya lebih membangkitkan suasana emosional klien.

Empati dilaksanakan konselor dengan menggunakan keterampilan mempengaruhi (influencing skill) dengan komponen-komponennya, keterbukaan diri (self-disclosure), pengarahan (directive), dan penafsiran (interpretation). Dengan adanya komponen-komponen itu maka empati akan menjadi mendalam dan akurat serta nilainya tinggi sehingga segera dapat mengubah perilaku klien.

Berikut ini adalah sebuah contoh dialog konselor dengan klien

Klien.              : “Yaah… keadaan saat ini telah membuat saya sangat gugup dan tegang. Setiap kami berdua pergi keluar, selalu saja pacar saya itu menemui wanita lain. Hal itu menimbulkan perasaan tidak aman pada diri saya. Kadang kadang saya mau memukulnya. Kami sering bertengkar. Akan tetapi dia selalu menolak tuduhan saya. Suatu malam di sebuah klub malam saat kami minum berdua, dia menemui seorang wanita, sampai saya putuskan pulang sendirian.”

Konselor          :”Anda merasa tidak aman ketika melihat dia. Saya merasakan perasaan anda. Akan tetapi anda mempunyai kekuatan untuk bangkit dan pergi meninggalkannya.” (Primary Empathy-PE)

Konselor          : “Saya merasakan perasaan cemas yang anda alami. Saya ikut terluka dengan peristiwa tersebut. Namun saya terkesan dengan kekuatan anda untuk bangkit meninggalkan dia.” (Advanced Accurate Empathy-AAE)

Dalam PE yang ditampilkan di atas adalah kombinasi dengan menangkap inti permasalahan dan membahasakan dengan bahasa konselor sendiri (paraphrasing), refleksi perasaan (feeling), dan interpretasi (interpretation) yang sesuai.

Penjelasan:

  • Klien terluka tapi masih bisa bangkit-menangkap inti permasalahan (paraphrasing);
  • Memahami perasaan klien yang terluka, cemas, akan tetapi memiliki kekuatan mental, direfleksikan kepada klien-refleksi perasaan (reflection of feeling);
  • Mengatakan bahwa klien punya kekuatan untuk bertindak dan pergi meninggalkan pacarnya yang menyeleweng. interpretasi konselor (interpretation).

Dengan empati PE dan AAE konselor akan mampu menggali keterbukaan diri klien (self-disclosure). Hal ini membuat perasaan klien terbuka lalu menyatakan perasaan dengan bebas dan terus bergerak ke arah pemahaman dan penyadaran diri. Akibatnya klien menjadi rasional dalam menghadapi masalahnya sehingga melahirkan rencana-rencana yang realistis untuk mengatasinya.

Carkhuff (1989) mengemukakan lima tingkat empati. Level 1-3 adalah empati untuk menyalurkan perasaan-perasaan negatif atau destruktif klien. Level 4-5 adalah pati tambahan (additive empathy) yang bersifat akurat, mendalam, dan self-disclosure yang lebih kuat.

Secara ideal, empati merupakan suatu arus atau aliran antara konselor dan klien, dan kebanyakan merupakan proses bantuan yang diberikan seperti berikut ini.

(1) Mendengar, memperhatikan dengan penuh hati-hati, teliti terhadap klien dengan menggunakan keterampilan-keterampilan attending dalam berkomunikasi, sehingga klien merasakan bahwa dia didengar dan diperhatikan.

Pada level ini konselor menggunakan empati primer (primary empathy-PE) di mana respon konselor masih kasar dan belum begitu tajam.

(2) Mendengarkan dengan hati-hati terhadap klien lalun menilai ketepatan komunikasi konselor dengan menggunakan keterampikan mempengaruhi (influencing skill) dengan teknik teknik mengarahkan secara halus (directing), self-disclosure, dan interpretasi.

Jika menggunakan keterampilan-keterampilan tersebut, sehingga dapat menyentuh dunia dalam klien maka empati konselor meningkat menjadi advanced accurate empathy (AAE) yaitu empati tingkat tinggi yang akurat. Menggunakan AAE adalah jika emosi klien begitu mendalam, sehingga membutuhkan empati yang tajam dan mendalam.

(3) Konselor mengecek teknik yang digunakan dengan bertanya seperti “Apakah saya cukup akurat dalam mendengarkan (keluhan) anda?” atau “Bagaimana kedengarannya oleh anda apakah saya benar?”

Terjadilah hubungan konselor-klien yang timbal balik, dan jika hubungan itu efektif yakni membuat klien lebih self-disclosed, maka empati konselor makin akurat dan bergerak maju dengan lancar.

Empati amat dekat dengan dimensi-dimensi konselor lainnya yaitu menghargai dengan positif (positive regard), menghormati (respect), hangat (warmth), ketelitian (concreteness), konfrontasi (confrontation), kesegaran (immediacy), dan genuine atau congruence (jujur, asli).

Demikian referensi buku ajar dengan judul Menjadi konselor yang efektif apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.


Sumber: Anwar, Z. (2014). Praktik Konseling. Malang: UMM Press