RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Skrip Praktek Konseling
Skrip praktik dialog konseling ini disusun agar mempermudah dalam melakukan praktik konseling. Petunjuk praktis ini dapat disesuaikan menurut situasi kondisi konselor, klien dan lingkungan selama konseling berlangsung.
Tabel 5. Skrip Mikrokonseling (Willis, 2009)
| Jenis
Keterampilan |
Bahasa Lisan | Bahasa Tubuh
|
| Attending (menghampiri, menyapa) | “wa’alaikum salam, selamat pagi. Silakan masuk, wah senang sekali bertemu dengan anda, apa kabar. Mari silakan masuk”
“maaf, saya memanggil anda” (saudara, sebut nama, kamu): mungkin panggilan ini mengaget- kan anda. Jangan cemas, saya hanya ingin bicara- bicara santai dengan anda, berhubung saya punya waktu terluang, boleh kan?” |
Kontak mata, ramah, menyapa, senyum, sikap badan terbuka, tangan mengarah ke kursi, suasana ceria.
Duduk cenderung agak membungkuk ke arah klien, tubuh santai bahasa badan penuh perhatian, muka ramah, menghadap klien dengan posisi terbuka.
|
| “terima kasih, saya. senang sekali bahwa anda mau berbincang bincang dengan saya, mungkinkah menurut anda ada topik-topik penting untuk kita diskusikan saat ini?”
“saya setuju dengan topik pembicaraan yang anda kemukaakan. Dan dengan senang hati saya akan mendengarkan” |
Suara rendah, tidak mendiskusikan topik yang dikemukakan klien. Konsisten mengikuti topic/ pernyataan klien.
Membolehkan dengan bebas menyatakan ide, peraaan, dan pengalaman. Respon konselor tidak terburu buru dan tidak mengintervensi, atau. memotong pembicaraan. Membolehkan klien untuk berpikir dan melanjutkan pembicaraan, konselor sabar, diam dan menunggu dengan perhatian. |
|
| Refleksi feeling (merefleksikan perasaan klien) | “saya melihat dan merasakan bahwa anda agak cemas dan gugup. Apakah begitu? | Kontak mata, perhatian, tenang ramah, sungguh sungguh, badan agak membungkuk ke arah klien, suara rendah, nada bertanya, sikap santai dan bersahabat. Membolehkan klien untuk tidak setuju/ menolak, konselor tegas dan jelas dalami memberikan pandangan. |
| Refleksi contect (ide, pikiran) | “saya perhatikan bahwa saudara memiliki beberapa alternative atau pemikiran. Apakah demikian?” | s.d.a
|
| Refleksi pengalaman | “tampaknya anda mempunyai pengalaman buruk unik dalam peristiwa itu. Dan amat senang jika dapat mendengarkannya” | s.d.a
|
| Eksplorasi feeling (menggali perasaan) | “saya memahami perasaan cemas saudara. Tapi alangkah baiknya jika anda dapat mengungkapkan perasaan itu dengan lebih rinci” | Menatap klien dengan tenang, penuh perhatian, posisi badan agak membungkuk, suar rendah, ramah, mensugesti / mendorong.
|
| Eksplorasi contect (menggali ide, pikiran) | “saya percaya bahwa saudara akan mampu mengembangkan minat| di bidang itu. Tapi alangkah baiknya jika saudara mengemukakan ide-ide yang mungkin untuk mengembangkan minat tersebut” | Meyakinkan, memperhatikan wajah sungguh-sungguh, tenang, tangan kanan memberi dorongan, suara rendah, mantap dan jelas.
|
| Eksplorasi pengalaman | “saudara begitu hebat, banyak pengalaman. Namun saya ingin mendengarkan pengalaman anda yang unik tadi” | s.d.a
|
| Menangkap pesan/ isu utama | “setelah beberapa saat kita berbincang-bincang, saya menghargai semua perasaan, pikiran, dan pengalaman yang anda | Kontak mata, ramah, tegas dan jelas. Kedua telapak tangan membantu peryataan agar meyakinkan, |
| kemukakan tadi. Dari pembicaraan itu saya tangkap bahwa saudara tengah mengalami konflik antara cita-cita keperguruan tinggi terbaik dengan keadaan ekonomi orang tua yang berkurang mendukung. Apakah pendapat saya ini benar atau keliru?” | santai. Suara rendah dan jelas. Badan agak membungkuk.
|
|
| Empati
|
“Saya memahami perasaan itu dan peristiwa itu telah membuat anda begitu kacau, kecewa dan tegang” | Mengosongkan subjektif dan perasaan tinggi diri, manatap mata klien, suara rendah serasa, masuk ke dalam perasaan klien dengan jujur, kedua tangan digenggam atau dilipat dengan sopan, ikhlas. |
| Pertanyaan terbuka (open question)
|
“Susi, adakah kemungkinan bagimu untuk memikirkan cara terbaik untuk mengembangkan kemamapuan di bidang seni gambarmu?” | Kontak mata, posisi badan agak membungkuk, suara jelas, rendah, ramah, dan senyum.
|
| Konfrontasi
|
“Saya melihat adanya perbendaan antara ucapan dan perasaan anda. Apakah anda menyadari akan hal itu.” | Serius, ramah, tegas, kontak matak, suara agak tinggi hingga rendah.
|
| Menjernihkan | “Bisahkah anda jelaskan permasalahan yang anda hadapi. Apakah masalah belajarnya dengan guru, atau hubungannya dengan keluarga sendiri?” | Kedua tangan membantu penjelasaan, serius, ramah, tenang, jelas, tegas, posisi badan agak lurus, kontak mata dan perhatian. |
| Menyimpulkan sementara | “Dari pembicaraan anda sejak tadi, saya pikir ada beberapa hal yang dapat kita peroleh sebagai kesimpulan sementara. Dapatkah anda mengemukakanya?” | Tenang, santai, suara agak datar sedikit menaik, kontak mata dan mendorong.
|
| Memimpin
|
“Menurut saya, alternative yang anda pilih tampaknya cukup realistis, karena anda telah memilih dari sekian banyak alterna tive melalui pertimbangan. Hanya alangkah, baiknya anda pertimbangkan lagi hambatan-hambatan kedepan. Bagaimana pendapat anda?”
|
Tenang, ramah, posisi tubuh agak membungkuk ke arah klien, suara jelas, tegas, kontak mata tangan disusun tergenggam. Kedua kaki dalam posisi biasa.
|
| Memfokuskan | “Dari sekian banyak hambatan sebagaimana yang saudara kemukakan, tentu ada yang terberat yang anda rasakan. Bisakah anda menjelaskannya?” | Serius, santai, mensugesti, suara rendah, mantap, dibantu oleh kedua tangan, untuk memfokuskan hal yang penting.
|
| Mendorong
|
“Walaupun kelihatannya saudara bersikap agak pesimistik, namun saya yakin, saudara mempunyai potensi besar yang belum anda gali. Coba saudara lihat lebih jauh kekuatan yang anda miliki, terutama dalam bakat studi” | Meyakinkan dengan wajah tenang tapi serius, ramah, suara mantap, jelas, kedua tangan dapat membantu meyakinkan klien, kontak mata, posisi tubuh agak condong ke arah klien.
|
| Mengambil inisiatif
|
“Kalau memang ingin segera bekerja, sebaiknya saudara memasuki sekolah yang kira-kira mengerjakan keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja, mungkin saudara membutuhkan banyak informasi, misalnya dari Depnaker. Disamping itu harap diingat bakat dan kemampuan saudara kira-kira di bidang apa? | Konselor bersikap logis, terarah, tenang dan ramah, suara rendah, sungguh sungguh, wajah senyum kontak mata. |
| Memberi nasehat
|
“Selaku pembimbing saya anggap wajar bila saudara meminta nasehat kepada saya. Namun permintaan anda belum pada tempatnya, karena saya melihat anda masih dapat berusaha lebih baik, dan anda punya potensi untuk hal itu”. | Penampilan terbuka, tenang, kontak mata, suara rendah, dan mantap.
|
| Memudahkan
|
“Tentu ada hal-hal yang harus anda lakukan sebagai tanggung jawab anda sebagai mahasiswa. Tapi hambatan pribadi tadi tidak mudah diabaikan begitu saja, karena itu perjelaslah tanggung jawab sebagai mahasiswa, dan buktikan. Saya melihat belum begitu jelas, karena itu berbelit dengan urusan. lain yang pribadi tadi”. | Kontak mata, suara rendah tegas dan jelas, bantuan tangan untuk penjelasan, ramah dan tenang.
|
| Memberi informasi
|
“Yang penting anda harus menyesuaikan kemampuan dengan keinginan memilih. perguruan tinggi atau jurusan bermutu. Sebab jika kemampuan terbatas ingin masuk ITB, apakah itu tidak berkhayal? Mengenai berbagai jenis perguruan tinggi dan jurusan-jurusannya, nanti akan saya berikan daftarnya dan bisa anda pelajari” | Penampilan terbuka, tenang, kontak mata, bersahabat, ramah, suara rendah dan jelas.
|
| Menafsirkan
|
“Anda seolah-olah berkeinginan untuk meraihnya, tapi sampai saat ini masih ragu dan belum mencoba untuk bertindak atau setidak tidaknya memiliki rencanan yang jelas dan tersusun.” | Menatap klien dengan serisu, tenang, santai, bicara tegas, dan suara rendah mantab.
|
| Diam
Dilakukan jika 1. Memberi kesempatan kepada klien untuk berpikir 2. Sebagai protes karena klien bicara bertele-tele keluar dari topik
|
(konselor diam)
|
Menatap wajah klien, tenang, bisa juga mata konselor hanya menatap jauh, tangan ke dagu.
|
| Merencanakan | “Berkaitan dengan pembicaraa kita tadi, apakah dalam pikiran ada rencana-rencana yang agak realistis? Setidaknya garis-garis besar saja”
|
Sikap badan terbuka, tenang dan santai, bersahabat. Meyakinkan suara rendah dan mantap, tangan kanan mendorong klien untuk yakin akan idenya.
|
| Sugesti
|
“Saya percaya bahwa saudara akan dapat membuat rencana yang realistik dan berguna bagi anda”
|
s.d.a
|
| Menyimpulkan (counclusion)
|
“Setelah kita berdiskusi lebih dari 45 menit. Saya harapkan anda dapat menyimpulkan apa yang kita peroleh” | Tenang, santai, terarah, suara rendah dan mantap, memberi dorongan dengan anggukan dan atau tangan.
|
| Mengevaluasi
|
“Adakah penilaian saudara tentang jalanya pembicaraan sejak awal hingga saat ini?” | s.d.a
|
| Mengakhiri sessi konseling
|
“Setelah saya memper hatikan rencana anda dan kelihatanya cukup baik, tinggal bagaimana melaksanakanya. Mungkin mulai minggu depan telah ada realisasi dan rencana itu. Berapapun yang dapat anda laksanakan. Barang kali ada baiknya kita bertemu lagi. Jika anda setuju, kapan kita bertemu lagi?”
“Jika ada lagi yang anda sampaikan apakah sesi ini sudah bisa diakhiri?” |
Sikap terbuka, tenang, santai, bersahabat, mendorong dan agak ke depan, kontak mata, tangan membantu untuk meyakinkan.
|
Tabel 6. Skrip Praktik Konseling (Willis, 2009)
| No | Verbatim | Ungkapan Nonverbal | Teknik |
| 1 | Klien:………(masuk) “Assalamu’alaikum” “Selamat Pagi” | Muka kecut, agak pucat, jalan perlahan, menunduk | – |
| 2 | Konselor:
“Wa’alaikumsalam….hai Oo.. Yahya, silahkan masuk” (duduk, bersalaman). “Senang sekali berjumpa denganmu Yahya, apa yang bisa saya bantu?” |
Ramah, santai, senyum, menghampiri, cerah, menjawab salam/ menyapa dengan senang dan mempersilahkan duduk | 1.Attending (menghampiri klien)
2. Empati 3. Bertanya. terbuka |
| 3 | Klien:……(diam)……. | Menunduk, cemas, tangan diremas, murung | – |
| 4 | Konselor:
“Kelihatannya kamu begitu cemas, murung, dan tidak begitu bersemangat ? apa demikian ?” |
Attending, menatap, serius, dan tenang
|
1. Refleksi perasaan 2. Bertanya terbuka 3. Attending
|
| 5 | Klien:……(mengangguk)
|
Melihat, memandang konselor sesaat lalu menunduk lagi | – |
| 6 | Konselor: “Dapatkah Yahya menjelaskan lebih jauh tentang kecemasan atau masalah yang anda hadapi?” | Tenang, attending, ramah, senyum, serius, menatap Yahya
|
1.Eksplorasi perasaan
2.Bertanya terbuka 3. Attending
|
| 7 | Klien:
“Saya merasa tertekan, saya merasa tidak berguna” |
Menatap konselor, menunduk lagi, muka mulai tenang | |
| 8 | Konselor:
“Saya memahami perasaanmu tertekan karena merasa tidak berguna. Dapatkah kamu menceritakan perasaan tak berguna itu ?
|
Empati, perhatian, menatap wajah klien, ramah
|
1. Empati primer
2.Refleksi pengalaman 3. Bertanya terbuka 4.Eksplorasi perasaan
|
| 9 | Klien:
“Saya merasa ayah, ibu, dan saudara saudara saya merendahkan, dan menghina saya. Sebab terakhir ini prestasi belajar saya hancur. Saya tidak mampu menjelaskan pada mereka padahal kehancuran prestasi belajar saya bersumber dari sikap orang tua”. |
Wajah murung, suara bergetar, melihat konselor kemudian menunduk, tangan diremas remas.
|
– |
| 10 | Konselor: “Kalau begitu kamu beranggapan sejauh ini hancurnya prestasi belajar bukanlah kesalahanmu sendiri, akan tetapi kesalahan orang tuamu. Karena itu sikap memojokkan dari orang tua membuat kamu terhina, apa demikian?” | Ramah, penuh perhatian, menatap wajah klien, tenang, kedua tangan menekankan ucapan
|
1. Menangkap isu utama
2. Refleksi ide
|
| 11 | Klien:
“Ya,,,bu..” (diam) |
Menunduk, masih cemas, kurang semangat | – |
| 12 | Konselor:
Apakah kamu berpendapat bahwa hancurnya prestasi di sekolah adalah sebagai akibat kelalaian, kekurangperha tian dari orang tua ?” |
Tenang, perhatian, ramah
|
1.Bertanya terbuka
2. Attending 3.Eksplorasi pengalaman
|
| 13 | Klien:
“Ya,,, karena saya merasakan demikian, dan saya merasa terhina dan malu juga di sekolah?” |
Mulai tenang. serius, menatap, tangan tetap diremas.
|
– |
| 14 | Konselor:
“Baiklah, jadi kalau begitu masalahmu adalah turunnya prestasi belajar bersumber dari orang tuamu dan orang tuamu tidak senang, lalu memojokkan dan kamu merasa terhina di rumah dan di sekolah. Bagaimana, apa demikian?” |
1. Menangkap isu utama
2. Penekanan 3. Penjernihan 4. Mendefinisikan masalah 5. Attending |
|
| 15 | Klien:
“Ya….bu, saya sependapat” |
Wajah tenang | – |
| 16 | Konselor:
“Baiklah, sekarang masalahmu sudah jelas. Namun saya ingin mengetahui lebih jauh bagaimana pandanganmu terhadap sikap orang tua yang telah kamu alami sehubungan dengan prestasi belajarmu ?” |
Tenang, ramah, tangan/ telapak tangan mengarah pada klien
|
1. Memimpin
2.Eksplorasi pengalaman 3. Bertanya terbuka 4. Attending
|
| 17 | Klien:
“Orang tua saya, benci kepada saya, tapi kepada adik saya, tampaknya mereka lebih menyayangi. Saya merasa dianaktirikan, padahal saya sudah berusaha untuk menye nangkan hati orang tua saya dengan belajar rajin. Karena kurang mendapat penghargaan, malas berusaha untuk jadi lebih maju lagi, dan jadi……”
|
Wajah cemas, serius, menatap, konselor, tangan diremas | |
| 18 | Konselor:
“Ya..terus bagaimana?” |
Mendorong, serius, ramah, menatap
|
1. Dorongan minimal
2. Eksplorasi pengalaman 3. Bertanya terbuka 4. Attending |
| 19 | Klien:
“Yah…….saya malas dan tidak belajar lagi seperti biasa dan nilai saya jadi buruk. Tapi saya tidak peduli” |
Wajah kesal, tegas, menatap serius, kepala menggeleng. | |
| 20 | Konselor:
“Ya.. saya memahami jalan pikiranmu. Nampaknya kamu seperti membalas dendam terhadap sikap pembicaraan, orang tuamu. Bagaimana pendapat terlihat pada anda ?” |
Tenang, santai, menatap/perhatian serius, kedua tangan Menekankan pembicaraan tetap ramah terlihat pada wajah. | 1. Empati primer
2.Refleksi pengalaman 3.Eksplorasi pengalaman 4. Konfrontasi |
| 21 | Klien:
“Habis pilih kasih dan tak menghragai” |
||
| 22 | Konselor:
“Jika orangtuamu tidak pilih kasih dan dapat menghargai, bagaimana pendapatmu ?”
|
Sungguh-sungguh, ramah, senyum, menatap klien | |
| 23 | Klien:
“Saya senang sekali, dan hal itulah yang. saya sangat harapkan. Tapi bagaimana caranya? Saya kurang yakin dengan pendapat itu”
|
Tenang,,wajah agak meragukan | |
| 24 | Klien:
“Saya senang sekali, dan hal itulah yang. saya sangat harapkan. Tapi bagaimana caranya? Saya kurang yakin dengan pendapat itu” |
Tenang, kedua tangan dipangku, muka serius, ramah
|
|
| 25 | Klien:
“Kurang tahu. Tapi bila saya berpikir, sulit merubah sikap negatif orang tua saya kepada saya. Kecuali jika ibu dapat berbicara dengan orang tua saya tentang tersebut”
|
Menatap dengan tenang, kedua tangan mengarah ke konselor, ramah, terbuka.
|
|
| 26 | Konselor:
“Bagus, saya senang dengan sikap keterbukaanmu. Tapi saya ingin tahu, apakah orang tuamu mungkin dapat bertemu saya ?” |
Gembira, duduk santai, badan agak condong kepada klien, menganggukkan kepala. | |
| 27 | Klien:
“Tentu bisa, orang tua saya cukup terbuka dan senang dengan orang- orang di luar keluarga- nya. Saya percaya kalau orang tua saya, mungkin dia akan hadir
|
Tenang, senang/ berseri, menunjukkan kepercayaan diri pada konselor.
|
|
| 28 | Konselor:
“Saya sangat menghargai pendapatmu. Tampaknya anda adalah seorang siswa yang cukup cerdas dan bijak. Namun apakah biasanya orang tuamu pernah hadir pada panggilan panggilan sekolah, misalnya tentang masalah studi/ belajar saudaramu ?” |
Menghargai, serius, ramah, mengarahkan tangan kepada klien, senang | 1. Empati primer
2. Refleksi content (ide pikiran) 3. Menghargai 4. Bertanya terbuka
|
| 29 | Klien:
“Tentu bu, mereka selalu ada perhatian jika ada panggilan seperti oleh kepala sekolah |
Menatap dengan perhatian, menekankan, tenang, senang, santai. | – |
| 30 | Konselor:
“Kalau begitu apa kesimpulan ini kamu setujui? Yaitu melalui kepala sekolah saya ingin bertemu dengan orang tuamu di sekolah pukul 10.00 wib ?” |
Tenang ramah, tangan dilipat di atas perut, menatap klien,senyum,santai | 1.Menyimpulkan sementara
2. Bertanya terbuka
|
| 31 | Klien:
“ya bu,,,saya setuju…” |
Mengangguk, tenang, menatap konselor | – |
| 32 | Konselor :
“Baik, saya hargai sampai saat ini. Bagai mana perasaanmu setelah kita berbincang- bincang?” |
Rasa empati, ramah, menghargai, menatap klien, penuh pengertian, tangan terlipat di atas paha. | 1. Empati primer
2. Eksplorasi perasaan 3. Bertanya terbuka
|
| 33 | Klien:
“Setelah mengikuti pembicaraan ini, perasaan cemas saya menurun, bahkan menghilang. Saya merasa senang sekali” |
Tenang, gembira, sikap sopan, menatap konselor, tangan dipangku di paha. | |
| 34 | Konselor:
“Kalau begitu apakah sudah ada kesimpulan pertemuan ini?
|
1. Mengarahkan
2.Upaya menyimpulkan 3.Upaya merencanakan |
|
| 35 | Klien:
“Ada, yaitu bahwa ibu akan mengadakan pertemuan dengan orangtua saya untuk memahami sikap orang tua terhadap saya. Kemudian mungkin ibu akan mengajukan usul tentang kebaikan saya” |
Menyimpulkan, tenang
|
|
| 36 | Konselor:
“Ya, mungkin pula ada pertemuan segitiga antara orang tuamu, kamu, saya dan mungkin pula saudara-saudaramu. Bagaimana?” |
1. Menjelaskan
2. Menyimpulkan 3. Merencanakan
|
|
| 37 | Klien:
“Ya bu, saya setuju. Terima kasih” |
Sopan, tenang, menatap konselor | |
| 38 | Konselor:
“kalau begitu, apakah pertemuan ini dapat kita akhiri?” |
Tenang, ramah
|
1.Bertanya terbuka
2.Eksplorasi ide |
| 39 | Klien:
“Ya, saya kira demikian” |
Ramah,tenang, mengangguk | |
| 40 | Konselor :
“Terima kasih” (bersalaman dengan klien) |
Demikian referensi buku ajar dengan judul contoh konseling apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
Sumber: Anwar, Z. (2014). Praktik Konseling. Malang: UMM Press
