RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bab 12 Pemilihan Dan Penggunaan Bahan Ajar Dalam Proses Pembelajaran 4
Pendahuluan
pembelajaran. Jenis musik yang tepat cenderung men gendurkan sekaligus menggugah otak dan seluruh sistem saraf peserta didik. Jadi, musik yang dimanfaatkan se cara tepat dapat mengaktifkan kemampuan total peserta didik lebih banyak, karena mereka mengerahkan pikiran sepenuhnya untuk belajar.
Berikut ini, Meier (2003) menunjukkan sebagian ke cil dari cara memanfaatkan musik untuk proses pembe lajaran di kelas.
- Sebagai pendahuluan untuk pembelajaran. Me mainkan musik ketika peserta didik tiba di suatu peristiwa pendidikan dapat memberi pengaruh menggembirakan, menghangatkan lingkungan, menggugah minat, dan menenangkan pikiran.
- Digunakan saat istirahat. Musik pada saat istirahat membantu mempertahankan lingkungan belajar yang menyenangkan, sehingga membuat peserta didik tetap santai sekaligus bersemangat.
- Sebagai skenario kiasan mental. Jika kita menggu nakan kiasan mental untuk memecahkan masalah, melatih keterampilan, melahirkan gagasan, atau menentukan sikap, maka musik meditatif khusus dapat membantu menciptakan suasana hati yang tepat.
- Untuk pratinjauan konser. Materi yang harus dipelajari peserta didik dapat ditinjau lebih dahulu dengan iringan musik.
- Untuk tinjauan konser. Kita dapat menggunakan musik untuk mengiringi tinjauan materi belajar via OHP, slide, poster, atau pertunjukan hasil olahan komputer.
- Untuk presentasi. Musik dapat digunakan sebagai latar belakang pembacaan cerita, pembacaan dra matis, demonstrasi, atau presentasi dengan slide, OHP, video, atau komputer.
- Untuk berlatih belajar. Musik latar belakang yang tepat dapat digunakan selama berlangsungnya lati han belajar individual, berpasangan, atau berke lompok (tes, pemecahan masalah, pengungkapan gagasan, penyusunan model, belajar tanpa berbi cara, dialog kelompok, dan sebagainya).
- Untuk nyanyian dan lagu. Semua ini dapat kita ciptakan sebagai metode agar peserta didik meng ingat gagasan, istilah, konsep kunci, dan proses, serta untuk merayakan pembelajaran.
- Untuk tema. Apabila program belajar memiliki tema, musik yang berhubungan dengan tema dapat digunakan untuk menyesuaikan suasana hati dan melengkapi pembelajaran.
- Untuk penutup. Musik selamat jalan yang tepat dapat menciptakan lingkungan yang ramah dan menggugah semangat untuk menutup program atau pertemuan dan bertukar salam perpisahan.
Sementara itu, jenis musik terbaik yang bisa kita gunakan dalam proses pembelajaran adalah yang dapat meningkatkan keefektifan belajar peserta didik. Musik seperti apa itu? Hal ini bisa bervariasi, bergantung pada kebudayaan dan selera peserta didik kita. Untuk para praktisi Accelerated Leaning di Barat, mereka menyarankan menggunakan musik barok klasik. Musik “New Age” yang berkualitas tinggi juga cocok untuk
berbagai situasi. Begitu pula jenis musik jazz, Mars Sousa atau gendang Afrika, dan musik dansa berirama dari Amerika Selatan, semuanya bagus untuk menghasilkan situasi pembelajaran yang menyenangkan.
-
Bahan Ajar Audio-Video
Anderson (1987) mengungkapkan bahwa dalam proses pembelajaran, bahan ajar video dapat digunakan untuk tiga tujuan utama, yakni kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Pertama, untuk tujuan kognitif. Melalui penggunaan video, beberapa tujuan ranah kognitif dapat dikembangkan pada peserta didik, di antaranya sebagai berikut:
a.Mengenal kembali dan kemampuan memberikan rangsangan berupa gerak yang serasi. Misalnya, pengamatan terhadap kecepatan relatif suatu benda yang bergerak, serta penyimpangan dalam gerak interaksi antara objek dan benda.
- Mengajarkan kepada peserta didik pengetahuan tentang hukum-hukum dan prinsip-prinsip tertentu.
- Menunjukkan daftar kata yang dianggap penting, walaupun dianggap kurang ekonomis.
- Menunjukkan contoh cara bersikap atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang me nyangkut interaksi manusiawi.
- Peserta didik dapat langsung mendapat koreksi terhadap penampilan yang belum memenuhi per syaratan, jika mereka mencobakan keterampilan atau kemampuan itu untuk menerapkan hukum dan prinsip tertentu.
Kedua, untuk tujuan psikomotorik. Dalam hal ini, video merupakan bahan ajar yang tepat untuk memperli hatkan contoh keterampilan yang ini, dapat diperjelas, baik dengan cara diperlambat maupun di percepat. Tujuannya adalah me ngajarkan koordinasi antara alat tertentu, seperti memanjat, ber enang, dan lain sebagainya. De ngan video pula, peserta didik bisa langsung mendapat umpan balik secara visual ter hadap kemampuan mereka mencobakan keterampilan yang menyangkut gerakan tadi. menyangkut gerak. Dengan alat Dengan video, kita dapat mengajarkan kepada peserta didik pengetahuan tentang hukum hukum dan prinsip-prinsip. tertentu.
Ketiga, untuk tujuan afektif. Pada tujuan ini, dengan menggunakan berbagai teknik dan efek, video dapat menjadi media yang sangat ampuh untuk mempengaruhi sikap dan emosi. Video adalah media yang sangat baik untuk menyampaikan informasi dalam ranah afektif.
-
Bahan Ajar Interaktif
“Orang-orang di mana saja akan mampu mengikuti kursus terbaik yang dipandu oleh guru terbaik”, kata Bill Gates. Pernyataan itu tidaklah mustahil terjadi. Namun, siapakah yang dimaksud “guru terbaik” versi Bill Gates ini? Sesungguhnya, jawabannya tidak jauh-jauh dari kehidupan dan bisnis yang dikelola Bill Gates saat ini, yaitu komputer.
Komputer sangat canggih yang mampu berperan sebagai tutor maupun perpustakaan menyediakan infor
masi dan umpan balik kepada peserta didik secara cepat. Teknologi “realitas maya” (virtual reality) memungkinkan setiap peserta didik berpartisipasi dalam berbagai pe ngalaman, seperti perjalanan sejarah dan luar angkasa. Teknologi pembelajaran seperti ini memungkinkan se tiap peserta didik untuk mengikuti pembelajaran. Tele visi, video, satelit, komputer, dan bahan ajar interaktif, bahkan juga memberikan katalis bagi terjadinya peruba han mendasar terhadap peran pendidik, dari informasi ke transformasi.
Sementara itu, pemakaian bahan ajar berbasis komputer dalam proses pembelajaran juga meliputi tiga tujuan pokok pembelajaran. Pertama, untuk tujuan kognitif. Dalam hal ini, komputer yang menggunakan bermacam-macam tipe terminal dapat mengontrol interaksi pengajaran, langkah dalam proses, dan kalkulasi yang kompleks. Digabungkan dengan media lain, komputer dapat digunakan untuk mengajarkan pengenalan atau diksriminasi dari stimulus visual dan stimulus audio yang relevan. Kemampuan komputer untuk kegiatan pengajaran individual, terutama disiarkan pada kemampuan pengembangan dan keterbatasan media yang digunakan.
Kedua, untuk tujuan psikomotorik. Pada bagian ini, terminal komputer adalah alat tentang dunia nyata yang sangat bagus untuk mengajarkannya programming dan kecakapan yang serupa, bila peserta didik mau bekerja dengan terminal-terminal kerja. Jika digunakan dengan peralatan yang distimulasikan, maka menjadi alat yang sangat bagus untuk menciptakan kondisi dunia yang
sebenarnya. Beberapa contoh yang khas adalah simulasi pendaratan pesawat terbang, melabuhkan kapal laut, dan berbagai latihan darurat lainnya. Dalam beberapa hal, seperangkat model atau barang tiruan dapat digunakan agar peserta didik dapat melihat hasilnya.
Ketiga, untuk tujuan afektif. Dalam hal ini, bahan ajar berbasis komputer sangat berguna bila digunakan seperti yang diungkapkan dalam tujuan psikometer atau digunakan untuk mengontrol bahan-bahan video.
-
Langkah-Langkah Penyesuaian Bahan Ajar yang Sudah Ada
Dalam institusi, sekolah, madrasah, atau kampus kita mungkin sudah tersedia bahan ajar. Kita tentunya tidak bisa mengesampingkan dan membiarkan begitu saja bahan-bahan ajar tersebut. Karena, sungguh sebaik apa pun bahan ajar baru yang bisa kita kembangkan, tentunya tidak terlepas dari kekurangan. Itulah sebabnya, bahan ajar yang ada, sesudah dipilih dengan hati-hati, mungkin tidak cocok dalam hal tertentu. Bahan ajar tersebut hendaklah diubah agar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah kita tentukan.
Untuk menyesuaikan bahan ajar yang sudah tersedia dan kita miliki ini agar lebih relevan, akomodatif, dan adaptif sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pembelajaran saat ini, Arif dan Napitupulu (1997) menyarankan sembilan langkah berikut ini.
Pertama, tambahkan media lain pada bahan ajar yang ada. Media-media seperti gambar-gambar, film, film
strip, transparansi, karya wisata, dan pameran, dapat ditambahkan pada bahan bacaan yang kita miliki agar bisa lebih menarik dan memikat hati peserta didik.
Kedua, kembangkan lembar bahan ajar mandiri tam bahan untuk melengkapi bahan ajar yang telah tersedia. Lembaran-lembaran seperti ini harus membantu peserta didik belajar memahami lebih lanjut. Dan, latihan-lati han seharusnya diberikan bersama-sama dengan bagian diskusi.
Ketiga, sesuaikan gambar-gambar yang ada. Gambar gambar yang ditampilkan pada bahan ajar yang ada barangkali berisi terlalu banyak rincian dan mungkin terlalu sulit dimengerti. Bagian tertentu dari gambar boleh dipotong atau disalin dan diperbesar dengan tambahan uraian di bawahnya serta nama-nama yang disederhanakan, untuk menolong peserta didik agar memahami dengan lebih mudah dan juga lebih baik. bisa
Keempat, sesuaikan bagian audio dari film. Ada kalanya beberapa film berisi narasi asing atau narasi yang teramat sulit, sehingga tidak mudah dimengerti. Hal ini bisa diantisipasi dan diatasi dengan menunjukkan gam bar, sedangkan untuk narasinya dapat kita buat sendiri dengan menggunakan mikrofon tam tontonkan sedikit demi sedikit waktu saat film berhenti untuk berdiskusi.
Kelima, terjemahkan ke dalam “bahasa ibu” peserta didik, seandainya bahan ajar asli ditulis dalam bahasa asing, semisal bahasa Inggris. Karena peserta didik adalah warga negara Indonesia dan memang asli orang Indonesia, bahan ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa ibu mereka, yaitu bahasa Indonesia. Selain itu, bahan ajar dapat pula dikembangkan menurut dialek yang digunakan di suatu negara, kota, desa, atau daerah, dan dapat pula diterjemahkan ke dalam dialek lain dengan alasan yang tidak berbeda.
Keenam, sesuaikan gambar-gambar untuk meng ungkapkan keadaan sesungguhnya dari lingkungan peserta didik. Hal penting yang harus diingat bahwa bahan ajar yang dikembangkan pada suatu lingkungan mungkin tidak sesuai di lingkungan yang lain. Semisal, bahan ajar yang dikembangkan dan diproduksi di lingkungan kota besar (metropolitan) atau tanah datar mungkin tidak sesuai dengan kenyataan di pelosok desa pada sebuah lembah, gunung, atau perbukitan. Menyesuaikan gambar, terutama dikaitkan dengan pakaian atau kostum, rumah, pertanian, pepohonan, dan pemandangan alam, mungkin akan membantu peserta didik pada suatu lingkungan untuk memahami secara lebih jelas hubungan hal-hal tersebut dengan mereka sendiri.
Ketujuh, sesuaikan bahasa yang dipakai dengan tingkat pemahaman peserta didik. Bahan ajar yang disusun untuk daerah perkotaan atau kelompok manusia tertentu umumnya berisi kata-kata, ungkapan, dan kalimat-kalimat yang melampaui tingkat pemahaman
peserta didik, terutama di daerah terpencil. Hal ini disebabkan oleh realitas bahwa kelompok yang berbeda memperoleh kesempatan yang berbeda dalam penggunaan bahasa nasional. Oleh sebab itu, kita perlu membuat penyesuaian dari versi yang lebih sulit ke yang lebih mudah dan sederhana.
Kedelapan, sesuaikan cara penyajian dengan meng gunakan media campuran. Penggunaan kombinasi lebih dari satu media dalam penyajian bisa membuat bahan ajar lebih menarik. Contohnya, gambar putaran yang menggambarkan suatu set (susunan) peristiwa dengan deskripsi huruf-huruf dapat dibuat lebih menarik dengan menggunakan rekaman dialog yang disertai iringan musik latar.
Kesembilan, gunakan bahan ajar berbiaya ringan dan murah sebagai alternatif bahan ajar dengan harga yang lebih mahal. Dalam kegiatan pembelajaran, tujuan nyata tidak mungkin ditunjukkan kepada peserta didik, karena biaya tinggi. Misalnya, sangat tidak praktis jika membawa kereta api, kapal terbang, kapal laut, traktor, truk kontainer, dan sejenisnya ke ruang kelas. Penggantinya mesti ditampilkan dengan bahan-bahan lebih yang murah dan yang terdapat di daerah setempat.
Itulah sembilan hal yang bisa kita lakukan untuk menyesuaikan bahan ajar yang sudah tersedia dan kita miliki ini agar lebih relevan, akomodatif, dan adaptif sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pembelajaran saat ini. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung di muka, bahwa tidak ada alat tunggal yang menjadi alat bantu terbaik dalam semua kegiatan pembelajaran.
Bahkan dalam hampir semua hal, bahan ajar pelengkap dibutuhkan untuk mendorong sekaligus menstimulasi tingkat efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Bahan ajar orisinal pun bisa dimodifikasi agar cocok dan pas dengan berbagai tingkat peserta didik dalam memasuki program pembelajaran. Intinya, sebagai pendidik, kita harus bijak dan kreatif dalam menggunakan bahan ajar yang telah ada.
Demikian referensi buku ajar dengan judul Bab 12 Pemilihan Dan Penggunaan Bahan Ajar Dalam Proses Pembelajaran apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
Sumber Prabowo A. (2013) PanduanKReatif Membuat Bahan Ajar Inovatif (DIVA Press)
