Bagian 4: Basic Skill Konseling (2)

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bagian 4: Basic Skill Konseling (2).

 

Interpretasi

Dalam interpretasi, seorang konselor harus menggunakan teori teori konseling dan menyesuaikannya dengan permasalahan klien. Hal ini, dilakukan untuk menghindari adanya subjektivitas dalam hubungan konseling. Adapun tujuan utama teknik ini adalah untuk memberikan

 

rujukan dan pandangan atas perilaku klien agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dan hasil rujukan baru tersebut.

Contoh 1:

Klien : “Saya pikir lebih baik saya mati saja. Tidak ada gunanya lagi saya hidup. Semua orang mengucilkan saya.”

Konselor: “Hidup ini membutuhkan keberanian kita untuk menjalaninya. Kalau Anda berpikir Anda telah dikucilkan oleh semua orang, itu tidak benar. Anda sendirilah yang membuat Anda terkucil melalui pemikiran Anda yang seperti itu. Jika saja Anda berani menghadapi kenyataan bahwa Anda menyesal atas perbuatan Anda, dan Anda yakin Anda ingin berubah lebih baik, inilah saatnya Anda membuktikannya pada semua orang. Bukankah begitu?”

Contoh 2:

Klien: “Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang berarti bakti saya terhadap keluarga karena adik-adik saya banyak yang amat membutuhkan biaya.”

Konselor: “Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Terutama yang hidup di kota besar seperti Anda. Karena tantangan masa depan makin banyak, maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Membantu orang tua memang harus. Namun mungkin disayangkan jika orang seperti Saudara yang tergolong pandai di sekolah akan meninggalkan SMA.”

 Mengarahkan (Directing)

Kemampuan mengarahkan klien juga menjadi poin penting dalam teknik konseling. Konselor harus memiliki kemampuan ini agar dapat mengajak klien berpartisipasi secara penuh dalam proses konseling. Inti dari tujuan tersebut adalah agar klien bersedia melakukan sesuatu, misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor, atau mengkhayalkan sesuatu.

Contoh 1:

Klien : “Suami saya sering mengucapkan kata-kata yang kasar dan kotor pada saya. Itu membuat saya tersakiti.”

Konselor : “Bisakah Anda memperagakannya di hadapan saya bagaimana cara suami Anda ketika memarahi Anda.”

Contoh 2:

Klien : “Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Saya tidak dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.”

Konselor : “Bisakah Saudara mencobakan di depan saya bagaimana sikap dan kata-kata ayah Saudara jika memarahi Anda.”

Menyimpan Sementara (Summarizing)

Hasil percakapan antara konselor dan klien hendaknya disimpulkan sementara oleh konselor untuk memberikan gambaran kilas balik (feedback) atas hal-hal yang telah dibicarakan sehingga klien dapat menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap, meningkatkan kualitas diskusi, dan mempertajam atau memperjelas fokus pada wawancara konseling. Contoh:

Konselor: “Setelah kita berdiskusi beberapa waktu, alangkah baiknya

jika kita simpulkan dahulu agar jelas hasil pembicaraannya yang telah kita lalui. Dari materi pembicaraan yang kita diskusikan, kita sudah sampai kepada dua hal: Pertama, tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas; Kedua, namun hambatan yang akan Anda hadapi, seperti yang Anda kemukakan tadi, ada beberapa yaitu: sikap orangtua yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi, dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana dituntut oleh perusahaan yang akan Anda masuki. Benarkah demikian?”

Memimpin

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa adakalanya klien terlalu berbelit-belit menyampaikan permasalahannya bahkan melantur dari inti permasalahannya, dalam hal ini seorang konselor diharapkan memiliki keterampilan untuk memimpin percakapan agar tidak menyimpang dari permasalahan sehingga tujuan konseling yang utama dapat tercapai sesuai sasarannya. Contoh :

Klien : “Saya memang tidak lagi menyukainya. Itu mungkin salah…tapi bagaimana bila saya bekerja di tempat yang jauh? Yah..walaupun sebenarnya saya juga ingin menikah dalam waktu dekat.

Konselor : “Bagaimana bila kita membicarakannya satu persatu dahulu. Tadi Anda katakan bahwa Anda tidak lagi mencintainya. Mengapa Anda tidak menyukainya lagi.”

Konfrontasi

Konfrontasi adalah suatu teknik konseling yang menantang klien untuk melihat adanya diskrepansi atau inkonsistensi antara perkataan dan bahasa badan (perbuatan), ide awal dengan ide berikutnya, senyum, dengan kepedihan, dan sebagainya. Adapun tujuan teknik ini adalah untuk :

  1. Mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur.
  2. Meningkatkan potensi klien.
  3. Membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi, konflik, atau kontadiksi diri.

Namun seorang konselor harus melakukan dengan teliti yaitu dengan :

 

  1. Memberikan komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara tepat waktu.
  2. Tidak menilai apalagi menyalahkan.
  3. Dan dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Contoh :

Klien : “Sebenarnya dia tidak menyakiti saya (wajah murung, tangan digenggam, ekspresi sedih).”

Konselor: “Anda mengatakan bahwa dia tidak menyakiti Anda, tapi mengapa saya melihat wajah Anda begitu sedih ketika mengatakan itu?”

Menjernihkan (Clarifying)

Ketika klien menyampaikan permasalahannya dengan kurang jelas atau samar-samar bahkan dengan keraguan, maka tugas konselor adalah melakukan klarifikasi untuk memperjelas apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh klien. Konselor harus melakukannya dengan bahasa dan alasan rasional. Sehingga, mudah dipahami oleh klien.

Contoh:

Klien : “Saya tidak mengerti siapa sebenarnya yang harus saya ikuti? Ayah atau ibu saya?”

Konselor: “Bisakah Anda sampaikan kepada saya, siapakah di antara mereka berdua yang selalu mengambil keputusan dalam keluarga Anda?”

Adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran dan pengalamannya secara bebas. Sehingga, komunikasi dan partisipasi meningkat dan proses konseling berjalan efektif.

Klien : “Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.

 

Dalam proses konseling adakalanya seorang konselor perlu untuk bersikap diam. Adapun alasan konselor melakukan hal ini dapat dikarenakan konselor yang menunggu klien berfikir, bentuk protes karena klien bicara berbelit-belit atau menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien bebas bicara. Diam di sini bukan berarti tidak ada komunikasi akan melainkan tetap ada yaitu melalui perilaku nonverbal. Yang paling ideal, diam itu paling tinggi 5-10 detik dan selebihnya dapat diganti dengan dorongan minimal. Contoh:

Klien : “Saya tidak akan menemuinya lagi…dan saya…” (berfikir).

Konselor: “… “(diam)

Klien “Saya…saya harus bagaimana…saya tidak tahu…”

Konselor: “.. “(diam).

Mengambil Inisiatif (Initiative)

Konselor juga harus dapat mengambil inisiatif apabila klien kuang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang partisipatif. Konselor mengucapkan kata-kata yang mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Selain itu, inisiatif juga diperlukan apabila klien kehilangan arah pembicaraannya. Contoh :

Konselor: “Bukannya Anda sebelumnya mengatakan ingin segera menyelesaikan masalah Anda. Tetapi mengapa sekarang Anda lebih banyak diam…apa yang terjadi…?

Demikian referensi buku ajar dengan judul Bagian 4: Basic Skill Konseling , apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.

Sumber: Anwar, Z. (2014). Praktik Konseling. Malang: UMM Press