Bagian 5 Panduan praktik konseling 3

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bagian 5 Panduan praktik konseling

Mengungkapkan tentang perasaan diri sendiri

Konselor yang efektif dalam kerjanya sebagian besar ditentukan oleh bagaimana kemampuannya mengenal perasaannya sendiri sebagaimana adanya dan memanfaatkan perasaan-perasaan itu dalam tindakan konselor untuk membantu klien. Contoh kalimat yang dapat dipakai adalah;

Konselor: Saya merasa senang saudara begitu berterus terang tentang apa yang saudara rasakan dan perkirakan tentang saya, hal ini akan membuat saya lebih mengoreksi diri saya.

Melakukan refleksi

Penggunaan refleksi secara efektif dilakukan apabila konselor benar benar sedang berusaha untuk memahami apa yang klien katakan, maksudkan dan menerima klien apa adanya. Ada dua macam refleksi yaitu refleksi isi dan refleksi perasaan. Refleksi isi pembicaraan klien dilakukan dengan menyimpulkan atau mengambil intisari informasi yang diberikan klien. Sedangkan refleksi perasaan adalah bagaimana pernyataan klien yang mengandung pesan emosional. Seringkali apa yang dikatakan klien tidak mengkomunikasikan maksud klien yang sesungguhnya. Refleksi perasaan hanya tertuju pada pengungkapan pesan yang mendasari pernyataan klien akan tetapi tidak dicetuskan oleh klien. Keterampilan refleksi dapat digunakan pada setiap tahap proses konseling. Contoh kalimat yang dipakai untuk membuat refleksi misalnya;

Konselor:  – Baru saja saudara mengatakan bahwa masalah saudara ini bersumber dari konflik orang tua saudara ……… maksud saudara?…(refleksi isi)

– Saudara tampak panik….. apakah ada suatu hal yang membuat saudara panik?……(refleksi perasaan)

Kemampuan memahami dengan cermat

Memahami tidak hanya sekedar mendengarkan klien berbicara, sebab usaha memahami itu menuntut kegiatan mendengarkan secara teliti dan memahami semua hal yang dikomunikasikan

oleh klien baik secara verbal (tersurat) maupun non-verbal (tersirat). Kemampuan ini dapat dilatihkan dengan memperhatikan beberapa kunci, yaitu;

  • Menyadari sikap diri sendiri, bagaimana konselor merasakan keadaan klien dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi pemahaman konselor terhadap klien.
  • Memperhatikan dengan cermat tentang apa yang tersurat dan apa yang tersirat.
  • Konsentrasikan perhatian konselor pada apa yang sedang dikemukakan klien bukan apa yang rnungkin akan dikatakan oleh konselor dalam menanggapi klien atau bagaimana agar dapat menyelesaikan masalah klien.
  1. MacamKeterampilan Mengarahkan adalah
  2. Memberikan informasi

Sebaiknya informasi hanya diberikan jika klien memang meminta dan memerlukan informasi yang sebenarnya yang secara langsung berhubungan dengan masalah yang dihadapinya. Konselor sebaiknya memberikan informasi dengan cepat, tepat, jelas dan sesederhana mungkin. Contoh kalimat yang dapat dipakai misalnya;

Klien : Bagaimana pendapat bapak tentang apa yang harus saya lakukan?

Konselor: Saya tidak tahu persis, dan saya juga tidak tahu yang saudara harapkan akan saya katakan.

Klien : Apakah bapak seorang perokok?……

Konselor : Bukan….. dan saya belum pernah dan tidak akan mau mencobanya.

  1. Memberikan nasehat

Nasehat hendaknya hanya diberikan jika klien memang memintanya dan telah melalui usaha mendengarkan klien secara aktif. Keterampilan ini mudah disalahgunakan oleh klien, apalagi jika ia gagal mengatasi masalahnya atau ingin menghindarkan diri dari tanggung jawab pribadinya. Apabila konselor memang akan memberikan nasehat, hendaklah konselor memberikan semua alasan mengapa nasehat itu yang dipilih untuk klien bukan yang lain. Nasehat sering dipakai konselor untuk membantu klien membuat keputusan bagi pemecahan masalahnya.

  1. Bertanya secara langsung

Ini merupakan keterampilan dalam mengarahkan pembicaraan kepada pokok-pokok persoalan tertentu. Keterampilan ini digunakan untuk membantu memperjelas hal-hal yang dirasakan konselor perlu digali lebih lanjut. Pertanyaan sebaiknya dibuat dalam bentuk terbuka untuk memberikan kesempatan kepada klien untuk banyak berbicara, dan menghindarkan konselor dari kesan sebagai penyidik. Contoh percakapan misalnya;

Klien : Ibu memang yang berkeras mendorong saya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Hubungan kami sangat menyenangkan. Ibu memang penuh pengertian dan sangat memahami saya.

Konselor : Anda sungguh beruntung mempunyai ibu penuh pengertian. Tampaknya anda kurang begitu membicarakan ayah, bagaimana sebenarnya hubungan anda dengan ayah?

  1. Mempengaruhi dan mengajak

Keterampilan ini bertujuan untuk dapat mengubah keyakinan, sikap dan tingkah laku klien, sebab adakalanya klien memerlukan paksaan untuk dapat memulai sesuatu atau membuat keputusan. Seperti juga dengan pemberian nasehat maka keterampilan ini sering disalahgunakan oleh klien untuk melarikan diri dari tanggung jawab pribadinya. Contoh kalimat yang digunakan misalnya ;

Konselor :  Saya yakin saudara akan mampu mengatasi masalah saudara jika saudara mencoba memakai cara-cara yang telah kita bicarakan tadi. Saya khawatir saya akan gagal membantu jika anda tetap bertahan pada pendirian yang kaku.

  1. Menggunakan contoh pribadi

Contoh pribadi dapat lebih memberikan keyakinan kepada klien bahwa ada orang lain yang sependeritaan dengannya. Di sini unsur sugesti besar perannya bagi kemajuan klien. Penggunaan keterampilan ini perlu berhati-hati agar klien tidak merasa diabaikan karena konselor larut dalam bercerita tentang pengalaman pribadinya selama proses konseling berlangsung. Contoh percakapannya adalah ;

Klien : Saya selalu takut jika harus maju ke muka kelas. Badan rasanya lemas dan berkeringat dingin.

Konselor: Ya, saya dapat memahami perasaan itu, saya juga

pernah mengalami hal yang sama. Keadaan ini hampir membuat saya gagal untuk menjadi seorang dosen. Tetapi saya memaksakan diri untuk selalu mencobanya sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi lagi. Saya yakin jika anda mau mencobanya, anda juga bisa seperti saya.

  1. Memberikan tafsiran

Penafsiran adalah sejumlah penjelasan atau pengertian tentang suatu hal, yang bertujuan untuk membantu klien agar dapat memahami arti dari sejumlah kejadian dengan menyajikan beberapa pandangan konselor yang kiranya mungkin dapat membantu klien mengatasi masalahnya. Tafsiran hendaknya didasarkan atas informasi yang disajikan oleh klien sendiri, bukan atas pengetahuan yang bersifat teoritis. Konselor hendaknya tetap menawarkan penafsirannya kepada klien secara terbuka dan memberikan kesempatan kepada klien jika mungkin untuk mengubahnya. Contoh kalimat yang dapat dipakai ;

Konselor: Dari apa yang saudara katakan tentang istri saudara, tampaknya saudara memang sungguh-sungguh ingin berpisah secara resmi dengannya, benarkah demikian?

  1. Melakukan konfrontasi

Konfrontasi dilakukan atas inisiatif konselor yang merupakan kemampuan menunjukkan secara terus terang dan langsung kepada klien bahwa apa yang dikemukakan tentang diri dan masalahnya jelas-jelas tidak sesuai dengan apa yang dilihat oleh konselor dalam kenyataan yang sama. Ketika melakukan konfrontasi, konselor harus memusatkan perhatian pada perasaan perasaan dan tingkah laku yang ada pada saat itu bukan pada apa yang telah dikatakan atau dilakukan oleh klien pada masa lampau. Betapapun klien masih diberi kesempatan untuk memberikan tanggapannya tentang konfrontasi yang dilakukan oleh konselor. Contoh kalimatnya;

Konselor: Saudara selalu mengatakan bahwa tidak akan menyianyiakan kesempatan hidup di dunia yang hanya satu

kali ini, akan tetapi saya melihat saudara belum juga bersedia untuk menjauhkan diri dari minuman beralkohol itu, tentunya saudara sudah tahu akan akibatnya.

  1. Keterampilan mengajak klien untuk memikirkan sesuatu yang lain

Keterampilan ini dilakukan bila konselor merasa perlu mengalihkan pokok persoalan ke hal lain yang belum terpikirkan akan tetapi berguna bagi klien dalam usaha memecahkan masalahnya. Contoh kalimat yang dapat dipakai konselor misalnya;

Konselor : Pikiran untuk selalu menjadi pegawai negeri nampaknya begitu kuat menguasai pikiran saudara, dan menurut saudara pula hal inilah yang menimbulkan masalah bagi saudara. Melihat kenyataan ini mungkinkah jika saudara mencoba beralih memikirkan bidang pekerjaan lain di sektor wiraswasta, apalagi saudara memiliki keterampilan di bidang kerajinan kayu…… Bagaimana jika pembicaraan kita beralih ke masalah kemungkinan (tunggu respon klien).

i.Mengupas masalah

Memerlukan langkah-langkah tertentu untuk sampai kepada hasil kupasan masalah yang mendekati kebenaran. Langkah-langkah tersebut adalah ;

  • Bertujuan untuk mengenali masalah, yaitu merinci masalah yang masih bersifat umum ke dalam masalah-masalah khusus dan berkaitan dengan tingkah laku tertentu.
  • Memilih kemungkinan-kemungkinan yaitu suasana yang bagaimana yang lebih disenangi klien.
  • Mendorong klien untuk menggali sangkut-paut dan akibat yang ditimbulkan oleh berbagai kemungkinan yang ada, dan selanjutnya memilih yang paling sesuai dari kemungkinan itu.
  • Klien hendaknya diusahakan mengenali perubahan atau keterampilan baru yang diperlukan dalam rangka menetapkan kemungkinan pilihan.
  1. MENGAKHIRI KONSELING

Pada dasarnya konseling tidak pernah dinyatakan berakhir secara langsung dan terbuka kepada klien. Biasanya ketika akan menutup pertemuan konseling, konselor bersama-sama dengan klien membuat kesimpulan dari jalannya konseling yang telah berlangsung. Menyimpulkan adalah proses menyatukan semua yang telah dikomunikasikan selama bagian tertentu atau seluruh pertemuan konseling. Dengan menyimpulkan itu, konselor dan klien bersama sama berusaha mengangkat; pokok-pokok utama dari masalah yang dibicarakan dengan mengemukakan apa yang sudah dikerjakan, digali dan apa yang belum. Secara alami menyimpulkan adalah merupakan cara untuk mengakhiri atau menutup satu bagian atau tahap pembicaraan tertentu atau untuk memulai sesuatu yang baru. Membuat kesimpulan tidak harus dilakukan oleh konselor, tetapi malah sering lebih efektif jika dilakukan oleh klien. Ketika menyimpulkan, konselor harus berusaha menggarisbawahi hal-hal yang sangat menonjol, menyatakannya dalam bahasa yang mudah dimengerti dan sederhana dan akhirnya memberikan tanggapan sampai sejauh mana ketepatan kesimpulan yang telah dibuat itu, misalnya ;

Konselor : Coba bersama-sama kita membuat kesimpulan atau menyatukan semua yang telah kita bicarakan. Inti masalah saudara adalah………, dst………., benarkah demikian?

Menutup pertemuan konseling dengan klien dapat digunakan kalimat sebagai berikut;

  1. Apabila pertemuan masih berlanjut

Konselor :  Saudara telah bercerita kepada saya tentang diri dan masalah saudara selama satu setengah jam pertemuan yang kita lakukan ini, sangat tidak terasa barangkali, waktu berlangsung demikian cepat. Sayang sekali waktu yang saya persiapkan untuk saudara memang sampai jam…….(sebutkan) selanjutnya saya sudah menjanjikan untuk suatu pertemuan dengan yang lain. Bagaimana jika pertemuan dengan saudara kita teruskan pada……….(buat janji untuk pertemuan lanjutan). Beberapa hal yang dapat saya simpulkan dari pertemuan kali ini ialah…….(sebutkan)

  1. Apabila klien sudah menunjukkan keberhasilannya mengatasi masalahnya dan ingin mengakhiri pertemuan

Konselor:  Banyak sudah yang telah saya dengar tentang saudara dan masalah saudara. Dalam beberapa hal saudara telah mengambil langkah-langkah yang ternyata memang banyak membantu saudara meringankan beban masalah yang saudara alami. Saya yakin untuk selanjutnya saudara lebih mampu mengatasi masalah saudara dengan lebih baik. Namun jika saudara masih memerlukan saya, barangkali untuk bertukar pikiran, saudara boleh datang lagi pada saya kapan saja saudara memerlukannya dengan senang hati saya akan menyediakan waktu untuk saudara, asalkan saya dihubungi terlebih dahulu. Saya ucapkan selamat dan sampai jumpa……

Demikian referensi buku ajar dengan judulBagian 5 Panduan praktik konseling 1 apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.


Sumber: Anwar, Z. (2014). Praktik Konseling. Malang: UMM Press