Bagian: Menjadi Konselor yang Efektif (3)

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bagian: Menjadi Konselor yang Efektif (3).

  1. Concreteness (Kekonkritan-Bersikap Konkrit)

Dalam hubungan konseling, sering klien datang dengan keluhan keluhan yang samar-samar (tidak jelas), dan kadang-kadang bermakna ganda. Tugas konselor yang intensional/efektif adalah memperjelas dan memahami ide-ide dan masalah yang samar-samar yang dikemukakan klien.

Wawancara konseling yang efektif bergerak dari deskripsi-deskripsi yang samar-samar tentang isu-isu global menuju diskusi yang konkrit, spesifik tentang apa yang telah terjadi dan yang terus terjadi dalam kehidupan keseharian klien. Sebagai contoh, seorang klien perempuan mengatakan tentang pacarnya, bahwa dia telah berkelahi dengan Doni dan dia yakin bahwa hubungan mereka akan putus.

Di sini digarisbawahi berkelahi dan hubungan putus, seolah-olah sudah jelas, sehingga konselor dapat meneruskannya. Padahal jika konselor teliti, dia belum pasti, sebab berkelahi dan hubungan putus itu masih samar-samar. Karena dialog berikut akan mengarah kepada yang lebih konkrit atau spesifik.

Konselor          : “Dapatkah saudara memberikan contoh konkrit/spesifik tentang apa yang telah terjadi antara anda dengan Doni?” Atau dapat juga berbunyi: “Anda tadi mengatakan bahwa saudara berkelahi dengan Doni. Dapatkah menjelaskan lebih khusus lagi tentang perkelahian itu?”

Contoh lain:

Klien               : “Suamiku marah-marah, setiap aku pulang dari pekerjaan. Antara kami ada perbedaan pendapat (samar-samar) yang mendasar soal pekerjaan saya.”

Konselor          : “Perbedaan soal pekerjaan anda. Bisakah anda memberi contoh lebih spesifik perbedaan-perbedaan tersebut?”

Untuk memahami keseluruhan event (peristiwa) dalam kehidupan klien, kita harus mengabstraksikan dan membuat pola-pola yang luas dan kompleks. Peristiwa konkrit kadang-kadang hilang dalam pola pola luas itu. Untuk memahami pola-pola kompleks kehidupan, perlu sesekali kita meminta contoh-contoh konkrit. Dari contoh-contoh konkrit tersebut, kita harus mengabstrakkannya dan mengangkat ke generalisasi. Saat itu kita mengangkat ke konsep tertentu.

Konselor menanya klien deskripsi yang jelas dengan pertanyaan pertanyaan, ikuti urutan kehidupannya dengan lebih jelas bagi anda dan klien anda. Contoh:

Klien               : “Saya mengalami minggu yang buruk” (samar-samar).

Konselor          : “Bisakah anda memberi contoh satu atau dua hal yang Klien buruk yang anda alami?” (konkrit)

Klien               :”Saya dan isteri bertengkar dan di kantor banyak kesalahan saya lakukan sehingga saya ditegur oleh boss saya.” (samar-samar)

Konselor          : “Bisa anda memberi contoh apa saja inti pertengkaran anda dengan isteri?” (konkrit).

Konkrit dalam menentukan perkembangan wawancara konseling akan lebih mempermudah membicarakan masalah klien.

  1. Konfrontasi

Konfrontasi di dalam proses konseling didefinisikan yaitu: menunjukkan adanya diskrepansi-diskrepansi (perbedaan) antara sikap sikap, pemikiran-pemikiran, atau perilaku-perilaku. Dalam teknik konfrontasi, individu/klien dihadapkan secara langsung dengan fakta, dimana klien mungkin mengatakan lain daripada yang dia maksud; atau melakukan yang lain/berbeda dari apa yang dia lakukan.

Suatu konfrontasi bukan bermaksud mengatakan bahwa klien itu orang yang salah atau orang yang jelek. Kritik dalam konfrontasi adalah mengemukakan dalam bentuk kata-kata tentang adanya incongruity (ketaksesuaian) dan discrepancy (perbedaan). Klien sering mengungkapkan cerita yang ganda (double messages) di dalam wawancara konseling. Sebagai contoh:

  • “Saya amat mencintai suami saya, tapi…”,
  • “Saya mau pekerjaan itu, tapi sayang saya harus pisah dengan keluarga.”

Dari kedua pernyataan tadi tampak bahwa klien mengemukakan pemikiran atau perasaan ganda. Seorang konselor yang empati akan menunjukkan kepada klien adanya ketidaksesuaian/diskrepansi, karena itu mengajak klien untuk mengkonfrontasinya atau menghadapi isu diskrepansi tersebut.

Pesan ganda, ketaksesuaian, dan diskrepansi mungkin juga tampak pada bahasa tubuh saat klien mengatakan sesuatu. Contoh: “Boss saya adalah orang yang hebat”, sambil kaki dan tangannya disilangkan kuat-kuat (sebagai tanda rasa takut). Perbedaan atau diskrepansi nyata adanya, yakni antara ucapan yang memuji sedang bahasa menunjukkan rasa takut. Contoh respon konselor dalam konfrontasi;

Konselor: “Di satu pihak saudara mencintai dia, tapi di pihak lain anda tidak mau menikah dengannya.” (fokus konfrontasi adalah pada perasaan yang mendua terhadap pacarnya: mencintai tapi tak mau diikat dalam satu pernikahan).

Konselor: “Anda merasa tidak aman jika dia mendekati wanita lain, tetapi anda punya kesanggupan dan bangkit dan lari dari dia” (fokus konfrontasi adalah pada perasaan tidak aman yang berkonfrontasi dengan kekuatan untuk meninggalkan pacarnya).

Konselor: “Saudara mengatakan bahwa tidak menyesal dia pergi dengan kekasih barunya, tapi saya lihat pada air muka, posisi duduk, dan tangan saudara yang dipangku, menandakan anda masih mencintainya” (konfrontasi terfokus pada perbedaan kata yang diucapkan dengan bahasa tubuh).

Ada bukti bahwa konfrontasi yang terlalu terbuka, keras, tanpa memperhatikan kondisi feeling klien, dapat merusak klien. Tapi ada pula bukti bahwa konfrontasi dapat memberi pertumbuhan klien.

Untuk meningkatkan keampuhan konfrontasi harus diimbangi dengan kualitas-kualitas lain yang mendorong, yaitu: empathy, warmth, positive regard, dan respect, serta adanya concreteness dalam strategi konselor.

  1. Genuineness, Congruence, Autheenticity (Keaslian, Jujur, Otentik)

Dalam hubungan konseling, seorang konselor harus tampil asli, jujur, pribadi yang terintegrasi. Dia tampil bebas dan mendalam, dan sadar atas dirirnya sendiri. Konselor adalah benar-benar dirinya (otentik). Perilaku verbal dan nonverbalnya adalah sesuai dan terintegrasi. Tidak menampilkan facade (permukaan, pura-pura, palsu) saja, tidak formal-formalan, tidak menampilkan informasi dengan cara defensif (menutup-nutupi diri) dan membuka diri dengan jujur.

Genuine berhubungan erat dengan keterbukaan diri (self-disclosure) konselor. Konselor berbagai rasa dan pengalaman dengan klien, yaitu kehidupan nyata yang pernah dialaminya. Namun harus diingat bahwa keterbukaan diri konselor dapat mengganggu hubungan konseling manakala dia lupa diri bahwa tujuannya adalah untuk membentuk kepercayaan klien terhadap konselor dan keterbukaan diri klien.

Sering terjadi konselor terlalu banyak bercerita mengenai dirinya, seolah-olah keadaan menjadi terbalik, yakni dia yang menjadi klien dan klien menjadi konselor. Karena itu kadar keterbukaan konselor harus ada batasnya, yakni untuk memancing agar klien membuka dirinya, dan mempercayai konselor seratus persen, sehingga klien. akan mengeluarkan semua perasaan, sikap, dan pengalamannya terus terang kepada konselor. Terkait dengan teknik konseling dan perilaku konselor yang efektif dapat dilihat pada tabel berikut;

Tabel 1. Teknik konseling dan perilaku konselor

No. Teknik Konseling Perilaku Komseling
1 Empati primer (primary empathy) –          Melihat dunia klien dari perspektif (klien) sendiri.

–          Menggunakan attending skills dan reflective listening untuk mendengar klien secara akurat

2 Empati tingkat tinggi (advanced accurate empathy) –          Menggunakan influencing skills dan attending sklills sharing diri konselor dan keahlian dengan diri klien, klien dapat menyerap
3 Positive regard –          Memberi perhatian terseleksi terhadap aspek-aspek positif dari verbal dan perilaku klien. Jadikan sebagai aspek positif klien.
4 Respek –          Mengemukakan pernyataan pernyataan positif yang dapat memperkaya klien dan mendorong klien untuk maju berkembang terus.

–          Bila ada perbedaan-perbedaan, konselor harus toleran dan menghargai perbedaan tersebut.

5 Warmth –          Menggunakan cara-cara nonverbal seperti nada suara, posture, air muka, untuk menyatakan melindungi menjaga klien. Senyum amat utama dalam komunikasi warmth.
6 Concreteness –          Berbuat spesifik, detail, jelas, dan faktual; dan juga jelas dalam pikiran dan perasaan klien.
7  Confrontation

 

–          Menunjukkan adanya diskrepansi, incongruence, dan pernyataan kabur/ganda. Beda antara kata dengan bahasa badan beda antara keinginan dan perbuatan, dan lain sebagainya. Konfrontasi bukan berarti menyatakan kejelekan klien.
8 Genuineness –          Jujur, asli terhadap diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain.
9 Dalam hubungan dengan diri sendiri –          Spontan dan menjadi dirinya sendiri. Mungkin menjadi asli.
10 Dalam hubungan dengan orang lain –          Sensitif terhadap kebutuhan kebutuhan klien, mampu menciptakan hubungan, jujur terhadap diri sendiri.

Demikian referensi buku ajar dengan judul Bagian: Menjadi Konselor yang Efektif (3), apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.


Sumber: Anwar, Z. (2014). Praktik Konseling. Malang: UMM Press