Rezim Kebenaran dan Langkah Persiapan Menulis (1)

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Rezim Kebenaran dan Langkah Persiapan Menulis (1).

REZIM kebenaran dipercaya muncul pada tiap-tiap zaman. Wujudnya berupa pelbagai tipe wacana yang dipaksakan untuk difungsikan sebagai kebenaran umum.

Istilah “rezim kebenaran” itu sendiri dilansir oleh Michel Foucault (1926-1984), yang di kalangan filsuf postmodern dikenal sebagai pejuang kaum gila. Melalui bukunya, Madness and Civilization (1970), ia menyatakan bahwa orang gila selalu menjadi korban rezim kebenaran yang terkonteks dengan zamannya. Dampaknya, ia selalu dijadikan liyan (the other) oleh rezim kebenaran yang sedang berkuasa, karena kegilaan bagi rezim tersebut adalah tepi paling pinggir dari rasionalitas yang berpeluang mengancam kesatuan rasionalitas itu sendiri.

Di dalam masyarakat industri, sebagaimana dicerminkan dalam kehidupan modern, orang gila dikucilkan atau dijebak oleh rezim kebenaran dalam kondisi marjinal melalui suatu sistem pengucilan isomorfis (korespondensi). Dikatakan, misalnya, orang gila tidak punya kecakapan bekerja, karena aneh dan tidak berguna. Padahal, di dalam penelitiannya Foucault menemukan kegilaan bukan kodratnya sebagai penyakit, melainkan kekeliruan moral yang mereduksi manusia ke tingkat binatang. Dengan demikian, kegilaan tak lebih dari sekadar konstruksi sosial, yakni konstruksi yang dilakukan oleh rezim kebenaran yang tengah berkuasa berdasarkan prinsip penataan (episteme) terhadap ihwal yang boleh dan tidak boleh (Adian, 2006; Foucault, 2009). Itu sebabnya, Foucault armat geram terhadap rezim kebenaran pada waktu itu dan sejak 1970-an mulai meninggalkan model linguistik struktural (sebagai representasi rezim kebenaran pada saat itu) dengan mengadopsi model ekstralinguistik. Menurut Foucault, rezim kebenaran cenderung menggunakan taring kekuasaannya, padahal kekuasaan mestinya bersifat produktif dan tidak lagi bersifat represif.

Pengadopsian model ekstralinguistik yang dilakukan Foucault agaknya dipengaruhi oleh paradigma kritis Wittgenstein ketika mengoreksi paradigma strukturalisme Saussure dalam berbahasa (lihat lagi: Bab 1). Itu sebabnya, dalam kaitan ini saya harus menegaskan bahwa menulis buku ajar mestilah dipijakkan dari paradigma kritis alias jangan memercayai begitu saja suatu rezim kebenaran yang memang cenderung menelikung kehidupan akademik kita.

Paradigma Kritis Buku Ajar

            ISTILAH buku ajar dalam konteks ini adalah naskah yang ditulis oleh dosen dalam rangka menunjang materi pokok mata kuliah yang diajarkannya.

Istilah tersebut tentu berparadigma kritis, mengingat masih banyak di antara kita yang masih terbelenggu oleh paradigma lama bahwa buku ajar identik dengan diktat (lecture note), modul, monografi (monograph), dan buku referensi. Bahkan, tidak sedikit di antara kita yang masih kesulitan membedakan antara buku ajar dan buku umum (trade book). Dewasa ini, perkembangan bentuk buku ajar justru amat bervariasi, karena tidak hanya berbentuk cetakan tetapi juga berupa e-book, buku PDF, sistem tutor online, dan materi perkuliahan melalui video.

Belenggu suatu paradigma, akibat latar belakang sosial dan sejarah hidup seseorang, memang sulit dilepaskan begitu saja. Orang yang pernah bekerja sebagai karyawan berstatus rendah di kantornya, misalnya, akan tetap memegang paradigma lamanya (sebagai manusia “rendahan”) bahkan ketika ia sudah menjadi manajer di kantornya itu. Ia, misalnya, akan berperilaku sok kuasa terhadap bawahannya, namun sok baik kepada atasannya. Dalam paradigma lama yang dipegangnya erat-erat itu, “sok kuasa” dan “sok baik” hanya dikorelasikan dengan upayanya dalam menghapus penderitaan hidup masa lalunya sebagai karyawan berstatus rendah. Hal ini berarti, tidak ada hubungan sama sekali dengan sikap baiknya sebagai manajer di kantornya itu, karena ia mencampuradukkan antara sikap baik dan pamrih pribadi. Dari sudut pandang etika, sikap baik dan pamrih pribadi mestinya dipisahkan, karena sikap baik pada dasarnya sudah built ini di dalam diri seseorang dan harus diutamakan dalam rangka memenuhi kewajiban kewajibannya sebagai manusia. Akibat pencampuradukan itu, ia selalu bercuriga kepada para koleganya, menganggap para koleganya sebagai ancaman, dan “ganas” terhadap uang. Tidak percaya? Lihat ke sekeliling Anda.

Menurut Kuhn (1970), paradigma adalah kerangka referensi yang mendasari sejumlah teori dan seg-se praksisnya pada suatu zaman tertentu. Sementara itu, Foucaul menyebut paradigma dalam istilah episteme, yaitu struktur kognitif fundamental yang ada dalam diri seseorang. Dalam hubungan dengan penulisan buku ajar, paradigma tidak dapat dilepaskan dari dimensi epistemologis, karena asumsi-asumsi dasar seseorang tentang hakikat pengetahuan, bahkan tentang hakikat akal sehat, tergantung sepenuhnya pada latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, dan sejarah hidup seseorang tersebut. Oleh karena itu, hemat saya, tidak mengherankan jika menulis buku ajar selalu menjadi kendala terbesar bagi seorang dosen. Dalam ungkapan lain, tidak mungkin seorang dosen yang masih terbelenggu paradigma lamanya akan menghasilkan buku ajar yang berparadigma baru. Padahal, dewasa ini dosen lebih dituntut menulis buku ajar dengan paradigma kritis dalam rangka lebih membuka cakrawala pengetahuan mahasiswanya. atau episteme

Suatu paradigma atau episteme memang sulit terlihat secara eksplisit, kecuali kita menduganya dari ungkapan bahasa yang disampaikan seseorang kepada kita. Dengan demikian, dampak dari belenggu paradigma lama tentu mudah kita lihat. Sejak tahun 2000, yakni sejak DP2M Dikti Depdikbud meluncurkan Program Hibah Penulisan Naskah Buku Ajar, tidak sedikit buku ajar yang ditulis secara serampangan, misalnya penggunaan rujukan yang sudah usang, penyusunan bahasa yang tidak tertib, penyusunan bab yang kacau, dan tidak mengandung kebaruan pemikiran. Hal ini, sebagaimana telah dikatakan, adalah akibat belenggu paradigma lama bahwa menulis buku ajar boleh seperti menulis diktat atau modul.

            Pertanyaan berikutnya, mungkinkah paradigma dibongkar? Kuhn menawari kita suatu revolusi pengetahuan, yakni dengan cara menggeser paradigma dalam pengetahuan melalui pemutusan hubungan dengan bahasa dan cara pandang yang telah ketinggalan zaman. Dalam ungkapan lain, kita harus meyakini bahwa prinsip-prinsip epistemologis atau prinsip prinsip ilmu pengetahuan yang mendasari suatu zaman secara otomatis akan berhenti berfungsi ketika tidak lagi berguna untuk memahami realitas. Dengan demikian, pembongkaran paradigma menjadi relevan jika dikaitkan dengan upaya penulisan buku ajar mengingat paradigma atau episteme yang mendasari teori atau pemikiran Barat yang kita gunakan pasti tidak serta-merta bermanfaat sepenuhnya untuk memahami realitas di Indonesia.

Etos pembongkaran paradigma yang tersaji di dalam buku ajar, sejatinya merupakan cerminan sikap kritis kaum intelektual kampus kita dalam memerangi sifat pembeo atau pembebek terhadap asumsi perihal kehebatan ilmu pengetahuan Barat. Tanpa sikap kritis ini, ilmu pengetahuan Barat tetaplah berjaya sebagai kepanjangan tangan suatu rezim kebenaran. Apalagi, jika mengingat sejarahnya, ilmu pengetahuan dilahirkan oleh orang-orang Eropa dan koloni-koloni kulturalnya sehubungan dengan proses dominasi atas bangsa-bangsa yang mereka anggap lemah. Berimplikasi dengan hal ini, maka kita boleh memercayai pendapat Derrida (1977), filsuf postmodern Prancis, yang pemikirannya tentang dekonstruksi dipengaruhi oleh prinsip Filsafat Bahasa Biasa Wittgenstein. Dekonstruksi digunakan Derrida sebagai metode membaca teks atau tulisan dengan tujuan utama membersihkan teks dari anasir-anasir yang masih berbau-bau kebenaran tunggal, kebenaran hierarkis struktural, logika oposisi dalam teks, atau penghebatan suatu rezim kebenaran atas suatu paradigma, sebab siapa tahu makna sesungguhnya dari teks tersebut justru tidak termuat.

Dalam pernyataan lain, dekonstruksi berupaya keras membongkar kealamiahan suatu perbedaan yang terdapat di dalam teks, karena teks pada dasarnya adalah konstruksi penulisnya atas sesuatu. Dalam konteks ini, Derrida menegaskan bahwa teks semata-mata hanyalah jejak belaka dari bentuk permainan bebas unsur-unsur bahasa dan komunikasi, sehingga untuk menangkap maknanya kita harus menelusuri terus menerus hingga ke pemilik jejak itu. Itu sebabnya, dekonstruksi menolak ide tentang struktur bahasa sebagai sesuatu yang given, atau yang secara objektif dikatakan telah muncul di dalam teks, sebagaimana keyakinan kaum linguistik struktural. Itu sebabnya pula, menurut Derrida, tulisan mendahului tuturan. Hal ini tentu berkebalikan dengan prinsip kaum linguistik struktural yang mengatakan bahwa tuturan mendahului tulisan, karena tuturan merupakan kesatuan petanda dan penanda yang terlihat, dan oleh karena itu dianggap istimewa, dalam rangka mewujudkan tanda.

Keistimewaan tuturan itulah yang ditolak oleh Derrida. Pasalnya, tulisan yang biasanya dianggap sebagai perekam pemikiran penulisnya, ternyata hanyalah saksi dari sesuatu yang tidak hadir dan belum terkatakan. Oleh karena itu, Derrida menekankan bahwa tuturan adalah makna yang tertunda, mengingat makna tersebut sebenarnya sudah ada di dalam tulisan (Norris, 2006). Dikatakan tertunda, karena tulisan dibatasi oleh bahasa atau dibatasi oleh keterbatasan berbahasa seseorang. Dalam kaitan dengan penulisan buku ajar, hemat saya dengan demikian mudah kita pahami mengapa masih banyak kaum intelektual kampus kita yang lebih senang berbicara daripada menulis. Mudah kita pahami pula, mengapa tulisan mereka itu sering kali tersaji tidak lengkap, tidak akurat, tidak utuh, dan tidak mengandung suatu kebaruan. Selain terkendala oleh keterbatasan berbahasa, tulisan tersebut pada dasarnya masih menyisakan saksi dari sesuatu yang tidak hadir dan belum terkatakan.

Agar dalam menulis buku ajar tidak terbelenggu terus-menerus pada anasir-anasir yang masih berbau-bau kebenaran tunggal, kebenaran hierarkis-struktural, atau agar tidak menghamba pada suatu rezim kebenaran, ada baiknya kita juga meyakini bahwa bahasa adalah aktivitas jiwa dan sekaligus otak. Kedua aktivitas ini, yang oleh Foucault diberi kata kunci “seni hidup”, dikatakan selalu berujung pada tarik menarik antara pengetahuan dan kekuasaan. Foucault memang merisaukan daya tarik-menarik ini, mengingat di situlah “seni hidup” mewujudkan diri sebagai ajang representasi dari figur-figur yang mengatur atau menguasai kebenaran pengetahuan melalui bahasa mereka. Di situ pula paradigma atau episteme bisa berjaya, karena cara kerjanya yang halus namun tidak bisa dilihat membuat kita tidak pernah menyadari cengkeramannya, sekalipun penuh kepalsuan. Bahkan, dengan cara-cara yang kompromistis dan terstruktur, paradigma yang telah mengokohkan diri sebagai rezim kebenaran selalu berhasil membredel kemunculan paradigma alternatif yang lebih kritis.