Pengantar Pendidikan Pancasila 1

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Pancasila.

pendahuluan

Pancasila merupakan sebuah pernyataan yang lahir dari ide dan gagasan secara lahiriah dan batiniah sebagai tujuan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa. bernegara, serta merupakan sifat-sifat pokok dari kehalusan dan budi manusia. Hakikat Pancasila, sebagai keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang merupakan fondasi dasar moral yang kuat. Pancasila adalah dasar filsafat negara republik Indonesia. yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, serta diundangkan dalam Berita Republik Indonesia Tahun II Nomor 7 bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945 (Sulaiman, 2015).

Mata kuliah pendidikan Pancasila adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar mahasiswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki pengetahuan, kepribadian, dan keahlian, sesuai dengan program studinya masing-masing.. Mata kuliah Pendidikan Pancasila merupakan mata kuliah yang termasuk dalam kelompok mata kuliah wajib nasional (MKWN). Mata kuliah wajib nasional merupakan mata kuliah. secara umum di Indonesia yang harus ditempuh mahasiswa tanpa terkecuali di Kampus atau Universitas, sebagai syarat untuk lulus dan menjadi Sarjana, Diploma, dan lain sebaginya. Pemerintah dan DPR telah menyepakati dan menegaskan posisi empat mata kuliah utama di jenjang pendidikan tinggi (diploma dan S-1).

Mahasiswa merupakan potensi investasi terbesar bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sangat diharapkan kesadarannya untuk bisa mendukung keberhasilan penerimaan dari investasi sehingga perlu bagi para mahasiswa diberikan mata kuliah MKWN (Mata Kuliah Wajib Nasional). Pasal 35 ayat (5) UU no 12 tahun 2012 menyatakan, bahwa kurikulum Pendidikan Tinggi wajib (MKWN) memuat mata kuliah Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia. Hal tersebut menunjukkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia menghendaki agar pendidikan Pancasila wajib dan wajib dimuat dalam kurikulum perguruan tinggi sebagai mata kuliah yang berdiri sendiri. Dengan demikian, mata kuliah pendidikan Pancasila ini dapat lebih fokus dalam membina pemahaman dan penghayatan mahasiswa mengenai ideologi bangsa Indonesia. Maksud penegasan tersebut, pendidikan Pancasila diharapkan mampu menjadi fondasi dan ruh dalam membentuk dan mengembangkan jati diri mahasiswa dalam mengimplementasikan jiwa profesionalitas mereka sesuai dengan bidang studi masing-masing. Selain itu, mengacu pada ketentuan pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2012, sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus berdasarkan pancasila. Implikasinya, sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus terus mengembangkan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai segi kebijakannya dan menyelenggarakan mata kuliah pendidikan Pancasila secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

Pendidikan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada lembaga pendidikan formal (sekolah), mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, bertujuan membina kesadaran dan kebanggaan nasional sumber daya manusia warga negara, sebagai subjek penegak budaya dan moral politik Negara Indonesia sekaligus sebagai bhayangkari integritas Negara Indonesia dan sebagai sistem kenegaraan Pancasila.

Berdasarkan asas normatif, filosofis, ideologis, dan konstitusional, sebagaimana diamanatkan dalam UUD Proklamasi seutuhnya, dan demi integritas wawasan nasional dan sumber daya manusia Indonesia yang adil dan beradab (bermartabat) maka ditetapkanlah program Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi. Sebagai amanat nilai dasar Negara dan UUD Negara, maka sistem pendidikan nasional berkewajiban (imperatif) melaksanakan visi-misi pembudayaan nilai dasar negara Pancasila, baik sebagai dasar negara maupun sebagai ideologi negara (ideologi nasional). Visi-misi demikian tersurat dan tersirat dalam UUD Proklamasi seutuhnya.

Pendidikan nasional menurut paham Taman Siswa ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bangsanya (cultureel-nationaal) dan ditujukan untuk keperluan peri kehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia (Dewantara, 2013b).

Urgensi pendidikan Pancasila, yaitu dapat memperkokoh jiwa kebangsaan mahasiswa sehingga menjadi dorongan pokok (leitmotive) dan bintang penunjuk jalan (leitstar) bagi calon pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa di berbagai bidang dan tingkatan. Selain itu, agar calon pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa tidak mudah terpengaruh oleh pahampaham asing yang dapat mendorong untuk tidak dijalankannya nilai-nilai Pancasila. Pentingnya pendidikan Pancasila di perguruan tinggi adalah untuk menjawab tantangan dunia dengan mempersiapkan warga negara yang memiliki pengetahuan, pemahaman, penghargaan, penghayatan, komitmen, dan pola pengamalan Pancasila. Hal tersebut ditujukan untuk melahirkan lulusan yang menjadi kekuatan inti pembangunan dan pemegang estafet kepemimpinan bangsa dalam setiap tingkatan lembaga-lembaga negara, badan-badan negara, lembaga daerah, lembaga infrastruktur politik, lembaga-lembaga bisnis, dan profesi lainnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila (Kementerian Riset, Teknologi, 2016).

Berdasarkan uraian tersebut, maka Pendidikan Pancasila merupakan proses pendidikan dalam menanamkan ideologi atau pandangan hidup bangsa berdasarkan butir-butir yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

  1. Kajian Konsep Pendidikan Pancasila

Menurut Wibawa selaku Rektor Universitas Negeri Yogyakarta dalam diskusi daring, 16 Juli 2020 menyampaikan pendidikan Pancasila yang berkarakter juga menjadi fokus bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Ada tiga konsep pendidikan Pancasila yang dibangun Ki Hadjar Dewantara. “Konsep pendidikan Pancasila ini sudah lama digaungkan Ki Hadjar Dewantara yang dikenal dengan “Tri nga”, ngerti, ngrasa, nglakoni”. Konsep ‘ngerti, adalah bagaimana siswa bisa memahami dengan akal apa yang menjadi nilai Pancasila. Siswa harus paham esensi dari lima dasar negara. “Paham bukan hanya soal kalimat tapi maknanya. Makna berketuhanan, berkemanusiaan, saling tolong”. Konsep ‘ngrasa’ dimaknai sebagai penghayatan nilai Pancasila dengan perasaan. Siswa harus bisa merasakan keberagaman yang ada di Tanah Air untuk tumbuh bersama. Sedangkan konsep ‘nglakoni’ adalah siswa bisa menjalankan nilai yang ada dengan bersungguh-sungguh. Meski kita mengalami banyak perubahan, nilai-nilai Pancasila harus terus kita jalankan sebagai karakter orang Indonesia”. Secara konteks, tiga konsep ini akan berlaku sepanjang masa. Dia tidak ingin kemajuan teknologi mendegradasi karakter Pancasila. “Pendidikan Pancasila dan penguatan karakter ini akan selalu adaptif. Baik konteks global maupun nasional. Siswa boleh berakselerasi, tapi pendidikan Pancasila tidak bisa dipisahkan. Kita harus komitmen dalam menerapkan Pancasila dan menempatkannya sebagai satu urgensi” (I. P. Putra, 2020).

Konsep Pancasila diartikan sebagai lima dasar yang dijadikan landasan serta pandangan hidup bangsa dan negara republik Indonesia. Suatu bangsa tidak dapat berdiri kokoh: tanpa adanya dasar negara yang kuat dan tidak dapat mengetahui dengan jelas kemana arah tujuan yang hendak dicapai tanpa pandangan hidup. Dengan adanya dasar negara, suatu bangsa tidak akan terombang ambing dalam menghadapi permasalahan, baik permasalahan dari dalam maupun dari luar.

Pancasila merupakan istilah resmi negara republik Indonesia sebagai dasar falsafah negara, baik ditinjau dari sudut bahasa maupun sudut sejarah. Berikut adalah pengertian Pancasila secara etimologis, historis, dan terminologis.

  1. Secara Etimologis

Istilah Pancasila berasal dari bahasa sansekerta India (bahasa kasta brahmana). Menurut Muhammad yamin, dalam bahasa sansekerta perkataan Pancasila memiliki dua macam arti secara leksikal yaitu: “panca” artinya lima, “syila” vokal i pendek artinya “batu sendi” alas atau “dasar”, “syiila” vokal i panjang artinya “peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh”.

  1. Secara Historis

Moh. Yamin (29 Mei 1945), dalam pidatonya yang berisi 5 (lima) dasar Negara Indonesia, Di antaranya, yaitu: Peri Kebangsaan; Peri Kemanusiaan; Peri Ketuhanan; Peri Kerakyatan; dan Kesejahteraan Rakyat. Dan usulan tertulisnya adalah sebagai berikut: a) Ketuhanan Yang Maha Esa; b) Kebangsaan Persatuan Indonesia; c) Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab; d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; dan e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Soekarno (1 Juni 1945) merumuskan sebagai berikut: a) Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia; b) Internasionalisme atau Peri kemanusiaan; c) Mufakat atau Demokrasi; d) Kesejahteraan Sosial; dan e) Ketuhanan yang berkebudayaan. Kemudian kelima sila tersebut diperas menjadi “Tri sila” yang dirumuskan sebagai berikut: a) Sosio-Nasional, yaitu Nasionalisme dan Internasionalisme; b) Sosio-Demokrasi, yaitu Demokrasi dengan kesejahteraan rakyat; dan c) Ketuhanan Yang Maha Esa. Tri Sila diperas menjadi Eka Sila, yaitu gotong royong. Selanjutnya, dalam Piagam Jakarta (22 Juni 1945) dirumuskan sebagai berikut: a) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya; b) Kemanusiaan yang adil dan beradab; c) Persatuan Indonesia; d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; dan e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

  1. Secara Terminologis

  2. Rumusan Pancasila dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI): 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; dan 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
  3. Rumusan Pancasila dalam Konstitusi RIS (Republik Indonesia Serikat): 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Perikemanusiaan; 3) Kebangsaan; 4) Kerakyatan; dan 5) Keadilan Sosial.
  4. Rumusan Pancasila dikalangan masyarakat: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Peri Kemanusiaan; 3) Kebangsaan; 4) Kedaulatan rakyat; dan 5) Keadilan Sosial

Demikian referensi buku ajar dengan judul Buku Ajar Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Pancasila apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.


Suber: Buku Ajar Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Zulfikar Putra & H. Farid Wajdi 2021