Di Buku atau Dibuku? Ketahui Cara Penulisan yang Benar Menurut PUEBI!

di buku atau dibuku

 

Bahasa Indonesia sering kali terlihat sederhana, tapi banyak penulis, siswa, bahkan profesional masih sering bingung saat menulis kata “di”. Salah satu contoh yang paling sering diperdebatkan adalah penulisan “di buku” atau “dibuku”.
Sekilas keduanya tampak mirip, tapi ternyata hanya satu yang benar menurut PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
Kesalahan kecil ini bisa berpengaruh besar dalam tulisan formal seperti makalah, laporan, atau artikel akademik.

Melalui artikel ini, kamu akan memahami dengan jelas apa perbedaan antara “di buku” dan “dibuku”, bagaimana cara mengenalinya, serta contoh penerapannya agar tulisanmu makin rapi dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.

Baca Juga : Fungsi dan Tujuan Hakikat Buku Ajar dalam Pembelajaran Modern

Kenapa Banyak Orang Bingung dengan “Di Buku” dan “Dibuku”?

Kata “di” dalam bahasa Indonesia bisa berfungsi ganda: sebagai kata depan (preposisi) dan sebagai awalan (imbuhan).
Nah, di sinilah letak sumber kebingungan.

Ketika “di” menjadi kata depan, fungsinya untuk menunjukkan tempat, arah, atau posisi.
Contohnya:

  • di sekolah,
  • di rumah,
  • di meja,
  • di buku.

Jadi dalam kalimat seperti “Gambar itu ada di buku pelajaran”, bentuk yang benar adalah “di buku”, karena “di” di situ menunjukkan lokasi (tempat gambar itu berada).

Tapi ketika “di” menjadi awalan, fungsinya bukan lagi menunjukkan tempat, melainkan membentuk kata kerja pasif.
Contohnya: ditulis, dibaca, dikirim, dibuat.
Dalam konteks ini, “di” digabung dengan kata kerja karena menunjukkan tindakan yang dikenai subjek.
Misalnya: Buku itu ditulis oleh penulis terkenal.

Kesalahan sering muncul karena banyak orang menulis cepat tanpa memperhatikan maknanya. Akhirnya, kata seperti “dibuku ini” sering muncul padahal itu salah besar menurut kaidah PUEBI.

Aturan Penulisan “Di Buku” dan “Dibuku” Menurut PUEBI

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), aturan penulisan “di” terbagi dua:

  1. “Di” sebagai kata depan → ditulis terpisah.
    Digunakan untuk menunjukkan tempat, arah, atau posisi.
    Contoh: di rumah, di sekolah, di buku, di meja.
  2. “Di” sebagai awalan → ditulis serangkai.
    Digunakan untuk membentuk kata kerja pasif.
    Contoh: ditulis, dibaca, dikirim, dibuat.

Artinya, dalam kasus “di buku” atau “dibuku”, bentuk yang benar adalah “di buku” (dipisah).
Kata “buku” adalah benda, bukan kata kerja. Jadi “di” di situ berfungsi sebagai kata depan, bukan awalan.

Contoh benar:

Gambar itu ada di buku pelajaran.

Contoh salah:

Gambar itu ada dibuku pelajaran.

Namun, bentuk seperti “dibukukan” boleh digunakan karena “dibukukan” berasal dari kata kerja “membukukan”, bukan kata benda.
Misalnya:

Karya ilmiah itu sudah dibukukan oleh penerbit.

Kesimpulannya: “di buku” dipisah, “dibuku” salah, kecuali kata dasarnya kata kerja seperti “buka” yang jadi “dibuka” atau “dibukukan”.

Cara Mudah Membedakan “Di Buku” dan “Dibuku”

Supaya nggak salah tulis lagi, kamu bisa pakai tiga cara mudah berikut buat membedakan kapan “di” harus dipisah atau digabung:

1. Perhatikan jenis kata di belakang “di”

Kalau kata setelah “di” adalah kata benda atau tempat, maka pisah.
Kalau kata setelah “di” adalah kata kerja (tindakan), maka gabung.

Contoh:

  • di buku (benar, karena “buku” = benda)
  • di rumah, di sekolah, di meja
  • dibaca, ditulis, dikirim

2. Gunakan tes “oleh”

Tambahkan kata “oleh” setelah kata tersebut.
Kalimat tetap masuk akal? berarti “di” itu awalan (gabung).
Kalimat jadi aneh? berarti kata depan (pisah).

Contoh:

  • Surat itu ditulis (oleh) Ibu → masuk akal → “ditulis” digabung.
  • Buku itu di meja (oleh) Ibu → nggak masuk akal → “di meja” dipisah.

3. Lihat maknanya

Kalau maknanya menunjukkan tempat atau posisi, pisah.
Kalau maknanya menunjukkan tindakan, gabung.

Ingat kalimat sederhana ini:

“Di tempat pisah, di kerja gabung.”

Dengan trik sederhana ini, kamu nggak akan bingung lagi menulis kata seperti “di rumah” atau “ditulis”.

Contoh Lengkap Penggunaan “Di Buku” dan “Dibuku”

Berikut contoh penerapan kata “di” dalam kalimat agar kamu lebih mudah mengingat:

Penulisan Benar (kata depan – dipisah)

  • Gambar itu ada di buku pelajaran.
  • Aku menandai catatan itu di buku harian.
  • Kami belajar di sekolah setiap pagi.
  • Kucing itu tidur di meja ruang tamu.
  • Dompetku tertinggal di rumah.

Penulisan Salah (kata depan tapi digabung)

  • Gambar itu ada dibuku pelajaran.
  • Kami belajar disekolah setiap pagi.
  • Dompetku tertinggal dirumah.

Penulisan Benar (awalan – digabung)

  • Buku itu sudah ditulis oleh penulis terkenal.
  • Cerita itu dibaca oleh banyak siswa.
  • Surat itu dikirim kemarin sore.
  • Naskah itu dibukukan tahun lalu.
  • Pertandingan itu diadakan setiap tahun.

Penulisan Salah (awalan tapi dipisah)

  • Buku itu sudah di tulis oleh penulis terkenal.
  • Surat itu di kirim kemarin sore.

Jadi kalau kamu masih bingung antara “di buku” atau “dibuku”, lihat saja konteksnya.
Kalau menunjukkan tempat, tulis “di buku” (dipisah).
Kalau bentuk kata kerja pasif, baru digabung, seperti “dibukukan”.

Kenapa Penulisan “Di Buku” yang Benar Itu Penting

Mungkin kamu mikir, “Cuma salah spasi, masa penting banget sih?” Tapi kenyataannya, kesalahan kecil seperti itu bisa memengaruhi banyak hal, terutama di tulisan formal.

  1. Mempengaruhi nilai tulisan akademik.
    Dalam makalah atau laporan, kesalahan seperti “dibuku ini” bisa dianggap kelalaian berbahasa.
  2. Menunjukkan ketelitian penulis.
    Penulisan yang benar mencerminkan kemampuan berbahasa dan perhatian pada detail.
  3. Menjaga makna kalimat.
    “Di makan” dan “dimakan” itu beda makna jauh. Begitu juga “di buku” dan “dibuku” — yang satu menunjukkan tempat, yang satu malah salah makna.
  4. Mengikuti standar bahasa nasional.
    Menulis sesuai PUEBI berarti ikut menjaga keindahan dan keutuhan Bahasa Indonesia.
  5. Meningkatkan kredibilitas tulisan.
    Penulis yang rapi dan sesuai kaidah akan lebih dipercaya pembaca, terutama di media seperti WordPress, jurnal, atau media edukasi.

Jadi mulai sekarang, biasakan menulis dengan benar. Karena bahasa yang baik dimulai dari hal kecil seperti memisahkan “di” dengan kata bendanya.

Baca Juga : Seri Kata Ajaib: Nabil Naura

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, bentuk penulisan yang benar adalah “di buku”, bukan “dibuku.”
Kata “di” harus dipisah bila berfungsi sebagai kata depan (menunjukkan tempat, posisi, atau arah), dan digabung bila berfungsi sebagai awalan yang membentuk kata kerja pasif seperti “ditulis”, “dibaca”, atau “dibukukan”.

Kesalahan menulis “dibuku” mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap struktur bahasa Indonesia.
Dengan memahami aturan sederhana dari PUEBI ini, kamu bisa menulis lebih jelas, profesional, dan pastinya bebas dari kesalahan dasar yang sering muncul di tulisan sehari-hari.

Jadi, jangan bingung lagi ya — yang benar itu “di buku”, bukan “dibuku”!

Jika kamu mengalami kesulitan dalam menulis atau menyunting naskah novel, kamu bisa menggunakan jasa penulisan dan editing buku profesional dari Ruang Buku. Hubungi Admin Ruang Buku atau kirim pesan melalui Instagram kami untuk informasi lebih lanjut tentang layanan yang tersedia.