Dimensi Psikologis Kesehatan Mental 1-2

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Kesehatan Mental.

Ikatan orangtua-anak

Pada dasarnya manusia secara inherent memiliki perilaku lekat (attachment). Perilaku ini terjadi secara bertahap melalui proses pem bentukan hubungan (bonding formation process) yang dipelajari sejak masa bayi. Bowlby (1961) mengemukakan bahwa kelekatan anak tertuju pada ibunya, dan hingga usia tiga tahun, kelekatan anak kepada ibunya sangat kuat, dan setelah itu mulai berkurang. Namun demikian, hingga usia enam tahun, figur ibu tetap penting bagi anak.

Perilaku kelekatan anak kepada ibu ini ternyata juga terjadi pada binatang. Penelitian Konkrad Lorenz (Tomlinson-Keasey, 1985) me nunjukkan bahwa anak angsa yang dilahirkan, dalam beberapa waktu berperilaku membebek (imprinting), yaitu perilaku anak angsa yang terus mengikuti induknya kemana ia pergi, dan perilaku membebek ini dianggap sebagai pola kelekatannya. Demikian juga penelitian Harlow (1964) terhadap kera, menunjukkan bahwa perilaku lekat kepada induknya atau induk pengganti dan tidak mau mendekat kepada kera yang tidak dikenal sebelumnya. Penelitian-penelitian pada binatang ini memperkuat teori kelekatan menyelesaian fase krisis

Tahap perkembangan psikososial dan akibat-akibat penyelesaian fase krisis

Usia/thMasa KrisisPenyelesaianGangguan yang dapat terjadi
< 6 blBerkapasitas interaksi kemanusiaan vs kekurangan dalam bidang tsb.Berhasil: dasar utama hubungan dengan orang lain Gagal: kesulitan dalam hubungan dengan orang lain.Perilaku abnormal akibat: genetik, fetal, atau kelahiran; problem tidur, problem makan; gagal berkembang.
1 th  Kepercayaan vs ketidakpercayaan  Berhasil: orang yang terpercaya, percaya dan berharap lingkungan dari masa depannya Gagal: kecurigaan, konflik percaya-ketakutan, cemas terhadap masa depannya.Cemas berpisah dan takut kepada orang asing, mengalami gangguan mental untuk bayi.  
2 thOtonomi vs rasa malu dan bersalah  Berhasil: mampu melakukan kendali diri dan keçukupan, ketekunan Gagal: konflik takut mandiri, perasaan bersalah yang kuat.  Temper – tantrums,mengalami latihan buang air.
3-5 thInisiatif vs bersalah  Berhasil: mampu berinisiatif terhadap aktivitasnya sendiri, peka terhadap tujuannya sendiri Gagal: konflik takut-agresif, merasa ketidakcukupan.Negativisme (tidak konformitas), mimpi buruk, pobia, mengisap jari berlebihan (kompulsif), problem bicara, hiperaktif, berjalan saat tidur, penolakan sekolah.
6-11 thIndustri vs inferioritas  Berhasil: kompeten, mampu belajar dan bekerja Gagal: merasa inferior, kesulitan belajar dan bekerjaProblem belajar, ketidak-mampuan membaca khusus, berperilaku agresif, neurotik, gangguan afeksi
12-18 thIdentitas vs kebingungan peran  Berhasil: memiliki identasi personal, kesetiaan Gagal: kebingungan tentang dirinya sendiri, identitas hub. dengan orang lain kurang baik.  Rebellion, gangguan perilaku seksual, perilaku menyimpang, delinkuen, perilaku destruktif, depressi, bunuh diri, perilaku psikotik, mengalami gangguan reaksi terhadap stressor.

Sumber: Altrocchi, J. 1980. Abnormal Behaviour. New York: Harcourt Brace Jovanovich, P.194-196

Kelekatan anak kepada figur ibu dapat dikatakan sebagai sebuah kebutuhan dan sama pentingnya dengan kebutuhan makan dan minum. Makna kelekatan bagi anak selain bersifat fisik-biologis, juga sosial dan emosional. Secara fisik-biologis, kelekatan anak kepada figur ibu dapat menghindari dari bahaya yang mengancamnya; secara sosial, sebagai wahana belajar membangun ikatan dengan orang lain dan melekat kepada ibu merupakan pengalaman pertamanya; sedang kan secara emosional, kelekatan dapat menghilangkan kecemasan dan ketakutan terhadap lingkungan baru (Tomlinson-Keasey, 1985).

Perilaku lekat anak akan berkembang secara normal jika terjadi proses hubungan yang normal (normal bonding process) antara anak dengan ibu atau pengasuhnya. Hubungan yang normal merupakah hubungan yang menunjukkan bahwa ibu atau pengasuhnya tanggap dan mampu memberi respon yang tepat terhadap sinyal-sinyal yang dilontarkan oleh anak. Kelekatan anak kepada figur ibu itu menjadi kuat jika respon ibu tepat untuk anak.

Bowlby (1961,1980) mengemukakan bahwa semenjak masa bayi perilaku lekat ini tertuju kepada ibu sebagai pusat figurnya. Meskipun ada juga yang melekat kepada ayah atau kakek-neneknya, anak cenderung memilih kepada ibu. Jadi kelekatan anak bersifat tunggal. Karena itu, Bowlby berpandangan peran ibu tidak dapat digantikan dengan orang lain..

Penelitian mutakhir tentang pola kelekatan ini memberi bukti bukti yang berbeda dengan yang dikemukakan Bowlby. Figur ibu (mother figure) sebagai pusat orientasi tidak selalu dalam batas pe ngertian orang yang melahirkan, tetapi dapat juga pihak lain yang mengasuhnya dan menjadi figur kelekatan bagi anak, dalam hal ini ayah, anggota keluarganya, atau orang lain yang mengganti ibu sebagai pengasuh anak (Rosen dan Rathbaum, 1993; Ainsworth, 1989, 1991). Tentunya, figur ibu ini selalu memberikan hubungan kedekatan dan bersifat khusus kepada anak.

Pandangan ini menunjukkan bahwa kelekatan tidak selalu bersifat tunggal, dapat pula bersifat majemuk. Bukti bahwa anak dapat pula melakukan hubungan dekat dan melekat dengan figur selain ibu, banyak dilakukan penelitian di Kibbutz, Israel, yang menunjukkan bahwa anak-anak yang iasuh di pusat-pusat pengasuhan anak dapat melekat dengan para pengasuhnya (metapeleth) dan menunjuk kan penolakannya kepada ibunya sendiri yang jarang atau tidak pernah berhubungan dengan anak sebelumnya. Atas dasar pandangan yang terakhir ini, maka konsep “figur ibu” tidak terbatas pada orang yang melahirkan, tetapi lebih dimaksudkan sebagai pemeran dalam pengasuhan anak (Tomlinson-Keasey, 1985).

Pandangan bahwa kelekatan anak bersifat jamak ini kini telah diperluas lagi. Kelekatan itu juga terjadi tidak hanya secara vertikal, yaitu anak lekat kepada orang yang dianggap lebih tua seperti orangtua, pengasuh dan guru, tetapi dapat pula terjadi secara hori zontal seperti sebayanya. Hal ini menunjukkan bahwa kelekatan anak kepada orang lain, khususnya figur lekatnya dipengaruhi oleh faktor tertentu, misalnya perkembangan kognisi anak, kemampuan komunikasi dengan orang-orang terdekatnya (significant person), atau orang lain yang dianggap dapat bertindak sebagai pemberi ganjaran yang bersifat sekunder (reinforcement sekunder).

Sekalipun peran ibu sebagai objek kelekatan dapat diganti oleh pihak lain, kenyataan menunjukkan bahwa tidak terlalu mudah bagi anak untuk mendapatkan objek kelekatan ini. Hubungan anak dengar figur khususnya hanya dapat dibentuk melalui proses hubungan khusus. Karena itu, tidak semua anak mendapatkan hubungan yang khusus ini dari ibu atau penggantinya.

Banyak faktor yang menghambat pembentukan hubungan khusus ini, di antaranya adalah (1) faktor budaya seperti kedua orangtua bekerja di luar rumah (Klein, 1985) kebiasaan pengasuhan kolektif (Rabin, 1964), (2) faktor personal seperti ibu yang menderita psikosis (Kumar dan Brockington, 1982), ketidakpekaan memberi respon (Ro sen dan Rothbaum, 1993) (3) faktor-faktor sosial seperti kemiskinan dan (4) faktor emosional seperti salah dalam memperlakukan anak (maltreatment) dan penolakan orangtua pada anak (Tudehope, 1987). Kondisi-kondisi ini berisiko tinggi bagi pembentukan hubungan anak dengan orangtua dan dapat menimbulkan masalah bagi kelekat an anak.

Kegagalan kelekatan anak kepada figur ibu bukan persoalan sederhana. Bowlby (1961) mengemukakan bahwa tiadanya ibu şeçara permanen berakibat problem psikiatris yang berat dan dapat menimbulkan rasa duka (mourning) bagi anak. Anak-anak yang diting galkan ibunya sebelum usia 6 tahun menunjukkan perilaku protest, dispair dan yang lebih berat lagi munculnya perilaku detachment, yaitu tidak ada kelekatan dengan ibunya. Di Amerika banyak dijumpai anak-anak yang mengalami gangguan kelekatan reaktif (reactive attach ment syndrome) yaitu gangguan-gangguan mental yang disebabkan tidak terbentuknya perilaku kelekatan (Reber, 1996). Dalam jangka panjang, gangguan mental yang terjadi akibat anak tidak mendapatkan ikatan dengan figur ibu dapat menimbulkan psikopatik yang tidak berperasaan (psychopathic affectionless).

Pada bagian awal tadi diungkapkan bahwa pola kelekatan anak bersifat tunggal sebagaimana dikemukakan Bowlby dan bersifat jamak sebagaimana dikemukakan Rabin dan yang lainnya. Perbedaan pola kelekatan ini timbul karena latar belakang subjek penelitiannya ber beda. Penelitian (Ainsworth, 1989) di Ganda menunjukkan bahwa pada mulanya, tahun pertama, terjadi kelekatan kepada ibunya, tetapi kelekatan spesifik berkembang pada tahun-tahun berikutnya. Karena itu, dimungkinkan anak timbul kelekatan pada banyak orang secara bertingkat, mulai dari pengasuh utamanya, misalnya ibu, kemudian ayahnya, kakek-nenek, saudaranya dan seterusnya. Gra duasi kelekatan ini dapat dipengaruhi oleh hubungan khusus yang terjalin selama berinteraksi dengan anak.

Demikian referensi buku ajar dengan judul Kesehatan Mental apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.

Sumber: Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan Moeljono Notosoedirdjo, Latipun (2001)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *