Dimensi Psikologis Kesehatan Mental 1-3

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Kesehatan Mental.

at dipengaruhi oleh hubungan khusus yang terjalin selama berinteraksi dengan anak.

Pendahuluan

Proses Pembelajaran

Perilaku manusia sebagian besar adalah hasil belajar, yaitu hasil pelatihan atau pengalaman.. Dia belajar berlangsung sejak masa bayi terhadap lingkungannya. Karena itu faktor lingkungan anak sangat menentukan mentalitas individu. Interaksi individu dengan lingkung an sangat penting bagi pembentukan perilaku tertentu.

Terdapat tiga saluran belajar, yaitu: (1) belajar dengan asosiasi (learning by association), (2) belajar dengan konsekuensi (learning by consequences), dan (3) belajar dengan mencontoh (learning by modeling).

Belajar dengan asosiasi

**Belajar dengan asosiasi yang biasanya disebut classical conditioning dikemukakan oleh Pavlov. Menurutnya sangatlah penting hubungan organisme dengan lingkungan. “the organism cannot exist whithout the external environment wich support it”, kata Sechenov yang menjadi dasar pandangan Pavlov. Atas dasar ini menurut Pavlov terdapat dua hal penting yang perlu memperoleh perhatian, yaitu (1) organisme selalu berinteraksi dengan lingkungan, dan (2) dalam interaksi itu organisme dilengkapi dengan refleks.

Lingkungan, menurut Pavlov, merupakan stimulus bagi terben tuknya tingkah laku tertentu. Berdasarkan penelitiannya terhadap anjing yang diberi serbuk daging diklasifikasikan terdapat dua jenis lingkungan, yaitu unconditioning stimulus (UCS) dan conditioning stimulus (CS). CS adalah lingkungan yang secara natural menimbulkan respon tertentu yang disebutnya sebagai unconditioning response (UCR), sedangkan CS tidak otomatis menimbulkan respon bagi individu, kecuali ada pengkondisian tertentu dan respon yang terjadi akibat pengkondisian CS disebut conditioning response (CR). Jika disederhanakan pola hubungan S-R dapat dilihat sebagaimana Gambar 6.3

UCS                                        r1 (UCR)

CS1, UCS                       r2, (UCR)

CS₂+ UCS                    r3, (UCR)

————-                                —————

CS12 + UCS                   r12 (UCR + CR)

CS13 + UCS                   r13 (UCR + CR)

CS14                                          r14  (CR)

Gambar 6.3 Trial asosiasi UCS, CS, dan R

Dalam eksperimen tersebut ditemukan bahwa perilaku tertentu dapat terbentuk dengan suatu CR, dan UCR dapat memperkuat hubungan CS-CR. Hubungan CS-CR dapat saja terus berlangsung dan dipertahankan oleh individu meskipun tidak disertai oleh UCS, dan dalam keadaan lain asosiasi itu dapat melemah tanpa diikuti oleh UCS.

Eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov ini sekaligus digunakan menjelaskan pembentukan perilaku pada manusia, misalnya gangguan neurosis khususnya gangguan kecemasan dan pobia banyak terjadi karena faktor adanya asosiasi antara stimulus, yang sebelumnya netral, dengan respon individu. Pada mulanya lingkungan yang menjadi sumber gangguan itu bersifat netral bagi individu, tetapi karena terpapar bersamaan dengan UCS tertentu, maka dapat mem buat gangguan mental bagi individu. Penelitian yang dilakukan Watson kepada anak manusia yang bernama Albert memberikan dukungan terhadap prinsip-prinsip yang dikemukakan Pavlov ini (Hjelle dan Zeigler, 1987).

Pembentukan secara asosiatif ini, selain pada pembentukan tingkah laku yang neurologis, juga pada tingkah laku yang normal, misalnya perilaku rajin belajar juga dapat terbentuk karena adanya asosiasi S-R.

Belajar dengan konsekuensi

Belajar dengan konsekuensi dikemukakan oleh Skinner. Dia lebih menekankan pada peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi konsekuensi yang mengikuti dari suatu perilaku. Menurut Skinner. perilaku individu terbentuk atau dipertahankan sangat ditentukan oleh konsekuensi yang menyertainya. Jika konsekuensinya menye nangkan sebagai ganjaran (reinforcement) maka perilakunya cenderung diulang atau dipertahankan, sebaliknya, jika konsekuensinya tidak menyenangkan sebagai hukuman (punishment) maka perilakunya akan dikurangi atau dihilangkan. Jadi konsekuensi itu berupa ganjarar atau hukuman. /

Skinner melakukan penelitian terhadap tikus. Respon tertentu yang memperoleh ganjaran berupa makanan ternyata diulangi sementara yang tidak memperoleh ganjaran atau mendapatkar hukuman, perilakunya tidak diulangi. Dalam eksperimen itu ditemu kan bahwa perilaku-perilaku yang memperoleh ganjaran itu tidal hanya diulangi tetapi frekuensi responnya cenderung meningkat.

Gangguan kepribadian antisosial dan perilaku destruktif dapa terjadi dan dipertahankan oleh individu di antaranya karena mempe roleh ganjaran dari lingkungannya. Hukuman yang diberikan orang tua atau guru tidak cukup kuat untuk mengurangi atau melawar kekuatan ganjaran yang diperolehnya dari lingkungan lainnya Perubahan perilaku ini dapat terjadi jika individu memperoleh gan jaran dan diberikan secara tepat terhadap perilaku yang diharapkar dan hukuman diberikan terhadap perilaku yang tidak diharapkan.

Belajar dengan mencontoh

Perilaku manusia dapat terjadi dengan mencontoh perilaku d lingkungannya. Bandura mengemukakan teori social learning setelal melakukan penelitian terhadap perilaku agresif di kalangan kanak kanak. Menurutnya, anak-anak berperilaku agresif setelah mencontol perilaku modelnya. Mencontoh itu dapat dilakukan secara langsun atau tidak langsung. Gangguan penggunaan zat adiktif dan perilak antisosial merupakan bagian dari gangguan mental yang dapa terbentuk karena melalui proses imitasi (Hjelle dan Zeigler, 1987).

Kebutuhan

Motif dan motivasi selalu ada pada setiap orang. Orang melaku kan sesuatu tindakan selalu didorong oleh motif-motif tertentu. Secara tradisional motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi internal (intrinsic motivation) dan motivasi eksternal (extrinsic motivation). Motivasi internal merupakan motivasi yang didorong oleh kekuatan-kekuatan perasaan terpuaskan atas apa yang dikerjakan. Motivasi intrinsik ini lebih mementingkan kepuasan inter nal dan seseorang mendapatkan self-reinforcement (terganjar oleh dirinya sendiri). Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang mendorong seseorang berbuat karena faktor-faktor luar diri individu, misalnya upah, pujian dari orang lain dan ganjaran yang didapatkan dari luar dirinya.

Maslow (1964) beranggapan bahwa motivasi seseorang dibentuk melalui kebutuhan-kebutuhan dasarnya yang tersusun secara hierarki. Kebutuhan dasar itu secara berturut-turut adalah kebutuhan biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri, kebutuhan pengetahuan, kebutuhan keindahan, dan kebutuhan aktua lisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan ini dapat mendorong orang berbuat jika kebutuhan pada jenjang di bawahnya sudah terpenuhi. Karena itu pemenuhan kebutuhan pada hierarki yang mendasar lebih diuta makan dibandingkan dengan kebutuhan pada jenjang yang lebih tinggi. Lihat gambar 6.4.

Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi, yaitu orang yang mengeksploitasi dan mewujudkan segenap kemampuan, bakat, keterampilannya sepenuhnya, akan mencapai pada tingkatan apa yang disebut dengan tingkatan pengalaman puncak peack expe rience. Hanya saja, orang yang mencapai tingkatkan ini, menurut Maslow hanya sedikit, sekitar lima persen saja di dunia ini (Goble, 1987).

Dalam berbagai studi yang dilakukan Maslow, ditemukan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan mental, khsususnya yang menderita neurosis, disebabkan oleh ketidakmampuan individu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Karena itu Maslow menyatakan bahwa penyakit mental, apapun namanya apakah psikosis atau neurosis, merupakan penyakit defisiensi yaitu ketidakmampuan individu mengenali serta memuaskan kebutuhan-kebutuhannya (Goble, 1987).

Gambar 6.4. Hierarki kebutuhan

Perilaku frustasi, yang manifestasinya adalah perilaku agresif dan merusak bagi individu atau sebagian kelompok merupakan indikasi bahwa kebutuhan-kebutuhannya tidak terpenuhi. Dia merasa teracam dan berusaha memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang dapat dianggap dapat mempertahankan eksistensinya. Bagi Maslow, pemenuhan kebutuhan merupakan faktor penting bagi kese hatan mental seseorang, yang salah satu cirinya adalah persepsinya yang realistik terhadap semesta.

Kondisi Psikologis Lain

Kondisi psikologis yang lain, di antaranya temperamen, ketahanan terhadap stressor, kemampuan kognitif, adalah faktor-faktor yang turut berpengaruh terhadap kesehatan mental. Pada faktor-faktor psikologis ini pada setiap orang berbeda. Faktor-faktor itu dapat menjadi potensi yang dapat meningkatkan kesehatan mental sese orang, dapat pula menjadi hambatan kesehatan mental.

Kesimpulan

Faktor psikologis merupakan salah satu dimensi yang turut mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Faktor-faktor psikologis itu di antaranya adalah pengalaman awal, proses pembelajaran, kebutuhan, dan kondisi psikologis lainnya. Terdapat sejumlah gangguan mental yang dikaitkan dengan dimensi psikologis ini, gangguan kecemasan, gangguan afeksi, gang guan perilaku lainnya selalu dihubungkan dengan kondisi-kondisi psikologis yang didapatkan oleh individu. Kondisi psikologis yang kurang baik akan berakibat jelek bagi kesehatan mental, sementara kondisi psikologis yang baik akan memperkuat kesehatan mental nya.

Demikian referensi buku ajar dengan judul Kesehatan Mental apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.

Sumber: Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan Moeljono Notosoedirdjo, Latipun (2001)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *