Keluarga, Ibu, Ayah, Dan Anak 1-1

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Kesehatan Mental.

Pendahuluan

Keluarga merupakan sebagai lembaga sosial yang pertama dikenal anak. Fungsi tradisional keluarga dapat diklasifikasikan ada tiga macam, yaitu (1) fungsi sosial ekonomi, karena sebagian hasil produksi yang dilakukan di dalam atau di luar rumah dikelola dalam keluarga, (2) fungsi ikatan biososial, yang ditunjukkan dengan adanya pemben tukan kerabat, keturunan, dan hubungan sosial melalui keluarga, dan (3) proses pendidikan, termasuk di dalamnya penanaman nilai dan ideologi kepada anggota keluarga.

          Fungsi tradisional keluarga ini tetap berlangsung hingga saat ini, meskipun polanya terus berubah sesuai dengan kultur yang dianut masyarakatnya. Meskipun demikian, dari konteks anak, keluarga merupakan lembaga primer yang tidak dapat diganti dengan kelem bagaan yang lain. Anak dibesarkan dan diajarkan bersosialisasi ber mula dari keluarga. Adalah alamiah, jika pada tahap perkembangan awal, faktor keluarga sangat penting bagi anak, baik dalam mengenal dunia yang lebih luas maupun dalam pembentukan perilaku dan kepribadiannya.

          Penanganan yang baik terhadap persoalan-persoalan keluarga itu akan memberikan kontribusi yang positif bagi upaya promosi dan prevensi kesehatan mental para anggotanya. Promosi kesehatan mental dilakukan melalui pengasuhan, interaksi yang tepat di antara anggota keluarga, serta berfungsinya peran-peran “yang disepakati” antar anggota keluarga, serta pemenuhan kebutuhan dasar keluarga.

          Karakter dan kepribadian, nilai dan norma, dan pengetahuan anak dibentuk dari keluarganya. Karena itu segenap perilaku sese orang sekaligus merupakan manifestasi dari situasi keluarganya. Keluarga yang kondusif tentunya memberikan kesempatan kepada anak dan anggota keluarganya untuk berkembang dan termanifesta sinya kesehatan mentalnya. Sebaliknya, hambatan-hambatan yang terjadi di keluarga berisiko kurang baik bagi kesehatan mental anggota keluarganya.

          Keluarga pada prinsipnya memiliki fungsi sosial, edukatif, seksual, pengelolaan ekonomi. Namun demikian jika fungsi-fungsi tersebut tidak berlangsung sebagaimana mestinya, maka berakibat kurang baik bagi kesehatan mental para anggota keluarganya. Keluarga, baik dalam bentuk fisik maupun keluarga sebagai institusi yang di dalam nya terjadinya hubungan sosial, memberikan pengaruh yang sangat bermakna bagi keadaan anggota keluarganya. Rumah yang kurang teratur, atau terlalu sempit akan menimbulkan kesesakan bagi anggota keluarganya. Apalagi jika struktur hubungan sosial di keluarga itu tidak fungsional, maka berakibat kurang menguntungkan ditinjau dari segi kesehatan mental para anggota keluarganya.

          Masalah-masalah kesehatan mental yang terjadi di masyarakat sering bermuara dari persoalan keluarga. Misalnya perilaku delinkuensi, kecemasan, hubungan seksual di luar perkawinan tindak kekerasan yang banyak terjadi di masyarakat sering dikaitkan dengan kondisi keluarga. Keluarga yang tidak stabil banyak dijadikan alasan munculnya perilaku delinkuen dan kriminal di masyarakat. Berbagai gangguan mental, seperti skizofrenia, depresi, gangguan kecemasan, ketergantuart obat, gangguan tingkah laku, dan psikopa tologi lainnya banyak dihubungkan dengan kurang baiknya interaksi di antara anggota keluarga (Lange, 1993). Adalah tidak mungkin mengesampingkan peran keluarga dalam membina kesehatan mental para anggotanya.

          Fungsi pengasuhan oleh keluarga akhir-akhir ini kecenderungan dikesampingkan, dan banyak dialihkan kepada pengasuh pengganti. Perubahan-perubahan pola pengasuhan menyebabkan berkurangnya interaksi orangtua-anak. Pergeseran peran-peran anggota keluarga jelas mempengaruhi kesehatan mental anggota keluarga, khususnya pada anak-anaknya.

          Keluarga dapat melakukan upaya promosi jika fungsi-fungsi keluaga itu dapat dijaga dan dipertahankan. Demikian juga upaya prevensi dapat dilakukan di keluarga, untuk mencegah kemungkinan timbulnya persoalan kejiwaan bagi anak atau anggota keluarga lain nya.

          Keluarga dilihat dari sisi kesehatan mental, memang sangat kompleks. Keluarga selain dapat berfungsi sebagai institusi sosial yang dapat meningkatkan kesehatan mental para anggota keluarga nya, juga sebaliknya dapat menjadi sumber problem bagi kesehatan mental.

          Usaha kesehatan mental sebaiknya dan seharusnya dimulai keluarga. Karena itu, perhatian utama kalangan ahli kesehatan mental adalah menggarap keluarga agar dapat memberikan iklim kondusif bagi seluruh anggota keluarganya.

          Di antara unit sosial, keluarga merupakan unit yang sangat kompleks. Banyak persoalan-persoalan yang dihadapi para anggota keluarga dalam hubungan satu dengan yang lainnya, mulai dari persoalan keluarga secara fisik seperti kondisi rumah dan binatang piaraan, sampai persoalan psikososial yang ada pada setiap anggota i yang keluarga, misalnya soal pembagian kerja di keluarga, komunikasi di antara anggota keluarga, persoalan ekonomi, pendidikan dan percon tohan, dan sebagainya. Kesemuanya itu memberikan kontribusi penting bagi keadaan mental para anggotanya (Bossard dan Ball 1964).

          Sangat penting bagi orangtua untuk memperhatikan peran tradi sional keluarga dan difungsikan seoptimal mungkin bagi upaya peningkatan kesehatan mental seluruh anggota keluarga. Tentunya, anak dan anggota keluarga lain amat membutuhkan perlindungan dari keluarga bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

          Falloon dan kawan-kawannya (1993) menegaskan perlunya pen dekatan berbasis pada keluarga sebagai bentuk penanganan kesehatan mental. Selain karena faktor keterbatasan tenaga ahli/profesional kesehatan mental dalam penanganan berbagai gangguan mental di masyarakat, keluarga memiliki peran yang strategis, karena setiap anggota masyarakat berada di keluarga sepanjang hari. Dalam hal ini keluarga dapat berperan dalam hal deteksi dan intervensi awal.

          Sejauh ini fungsi penanganan kesehatan mental oleh keluarga dalam batas tertentu sudah dijalankan. Namun demikian, proyek proyek yang lebih sistematis dan meluas belum memperoleh perhatian dari banyak kalangan.

Arti Keluarga Bagi Anak

           Sepanjang sejarah manusia terdapat hubungan yang dekat dan tidak mungkin dipisahkan, yaitu keluarga, ibu, ayah dan anak. Sekalipun dalam kehidupan ini terjadi perubahan dalam sistem budaya dan sosial kemasyarakatan, kenyataannya ikatan ketiga hal itu tetap dipertahankan.

           Keluarga mempunyai arti yang penting buat anak. Kehidupan keluarga tidak hanya berfungsi memberikan jaminan makan kepada anak, dengan demikian hanya memperhatikan pertumbuhan fisik anak, melainkan juga memegang fungsi lain yang penting bagi perkembangan mental anak.

Sosialisasi anak

           Anak bersosialisasi, yaitu belajar hidup dalam pergaulan, pertama tama dilakukan dalam lingkungan keluarga. Anak belajar untuk dapat bergaul dengan orang lain dapat terselenggara hanya  apabila dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang baik.

          Sosialisasi yang terjadi di lingkungan keluarga disebut sosialisasi domestik. Pada sosialisasi ini bayi belajar untuk dapat mengadakan antisipasi dengan baik. Anak kecil belajar bagaimana dia harus melakukan kebiasaan-kebiasaan, misalnya menyikat giginya dan hal lain sebagainya yang dia perlukan dalam tata cara kehidupan manusia. Keluarga mempunyai tugas meneruskan norma-norma dan budaya hidup kepada anak-anak dalam keluarga tersebut. Dalam sosialisasi domestik ini anak belajar mengenal akan dirinya sendiri, siapa dia (anak) itu, bagaimana dia mengadakan suatu konsepsi diri (self conception) dan mengenal apa yang dia mampu atau tidak mampu lakukan (self esteem). Ini semua akan memberikan kemantapan pada pemben tukan kepribadian anak. Karena keluarga merupakan lingkungan sosialisasi yang pertama bagi anak maka keluarga disebut pula sebagai “lembaga sosialisasi primer” bagi anak.

          Dalam periode sosialisasi domestik ini, yaitu pada anak umur 0 5 tahun, anak dibuat siap untuk dapat timbul perasaan kekeluargaan (sense of belonging). Kekuatan perasaan ikatan pada keluarga ini sedikit banyak akan dapat memberikan suatu jaminan pada anak, untuk tidak mudah terpengaruh oleh situasi-situasi yang tidak baik yang mungkin dilihatnya di luar rumahnya.

          Bila telah waktunya bagi anak untuk masuk sekolah, maka anak akan belajar berteman, menanggapi pandangan-pandangan tenan, norma-norma dan budaya orang lain. Bila dia melihat adanya perbedaan norma, budaya, atau tata cara kehidupan di luar rumah dengan yang ada di rumahnya, anak akan menanyakan kepada orang tuanya. Dalam hal ini orang tua harus selalu bersedia memberikan jawaban dan keterangan yang baik dan dapat diterima oleh akai imak Sebab pada fase ini dia masih selalu ada rasa ingin tahu dan muncul sikap ingin membandingkan hal-hal yang dia lihat di luar rumah dengan keadaan yang ada dalam rumahnya sendiri. Jadi anak ingin meluaskan orientasinya.

             Anak sekarang telah menginjak periode sosialisasi yang baru, yaitu periode sosialisasi sekunder. Pada saat ini anak belajar bergaul dengan sebayanya yang sosialisasi primernya tidak sama dirinya. Anak juga belajar bermain dalam suatu tim (team work) misalnya sepak bola, kasti dan lain sebagainya. Anak-anak memilih sendiri pemimpinnya dan membuat sendiri peraturan-peraturan permainannya. Anak belajar untuk tunduk pada peraturan yang mereka ciptakan sendiri serta bagaimana kebijaksanaan pemimpinnya. dengan

           Dalam sosialisasi sekunder ini anak mendapat pengalaman-pe ngalaman baru, belajar menanggapi sikap dan tingkah laku teman temannya. Tidak jarang anak mengalami saat-saat yang kurang me nyenangkan dan menyebabkan suatu reaksi emosional padanya. Anak yang demikian ini akan mengajukan pesoalannya kepada ke luarganya dan ingin mendapatkan tanggapan-tanggapan dari saudara saudaranya serta orang tuanya.

          Mengingat pentingnya peran keluarga bagi penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi anak, maka keluarga perlu menyediakan waktu untuk berkumpul sambil minum dan makan bersama-sama yang disebut family table talk. Di waktu itu anak dapat mengeluarkan emosinya, mendapat tanggapan, kritik, dan pandangan dari saudara saudaranya dan orang tuanya tentang bagaimana anak harus bersikap dalam situasi yang begitu itu. Jadi family table talk mempunyai peranan yang penting karena dia tidak hanya memberikan kesem patan kepada anak untuk mengeluarkan keluhan-keluhannya me lainkan juga memberikan bimbingan.

Tata cara kehidupan keluarga.

           Tata cara kehidupan keluarga akan memberikan suatu sikap serta perkembangan kepribadian anak yang tertentu pula. Kita akan meninjau tiga jenis tata cara kehidupan keluarga, yaitu tata cara kehidupan keluarga yang (1) demokratis, (2) membiarkan dan (3) otoriter.

           Tata cara susunan keluarga yang demokratis. Anak yang dibesar kan dalam susunan keluarga yang demokratis, membuat anak mudah bergaul, aktif dan ramah tamah. Anak belajar menerima pandangan pandangan orang lain, belajar dengan bebas mengemukakan pandangannya sendiri dan mengemukakan alasan-alasannya.

           Hal ini bukan berarti bahwa anak bebas melakukan segala galanya. Bimbingan kepada anak tentu harus diberikan. Anak yangmempunyai sikap agresif atau dominasi, kadang-kadang tampak tetapi hal ini kelak akan mudah hilang bila dia dibesarkan dalam keluarga yang demokratis. Anak lebih mudah melakukan kontrol terhadap sifat-sifatnya yang tak disukai oleh masyarakat. Anak yang dibesarkan dalam susunan keluarga yang demokratis merasakan akan kehangatan pergaulan.

           Keluarga yang sering membiarkan tindakan anak. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang demikian ini akan membuat anak tidak aktif dalam kehidupan sosial, dan dapat dikatakan anak menarik diri dari kehidupan sosial. Perkembangan fisik anak yang dibesarkan dalam keluarga ini menunjukkan terhambat. Anak mengalami banyak frustrasi dan mempunyai kecenderungan untuk mudah membenci seseorang.

           Dalam lingkungan keluarga anak tidak menunjukkan agresivi tasnya tetapi dalam pergaulan sosialnya kelak anak banyak mendapat kan kesukaran. Dalam kehidupan sosialnya, anak tidak dapat me ngendalikan agresivitasnya dan selalu mengambil sikap ingin menang dan benar, tidak seperti halnya dengan anak yang dibesarkan dalam susunan keluarga yang demokratis. Hal ini terjadi karena anak tidak dapat mendapatkan tingkat interaksi sosial yang baik di keluarganya.

           Keluarga yang otoriter. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang otoriter ini biasanya akan bersifat tenang, tidak melawan, tidak agresif dan mempunyai tingkah laku yang baik. Anak akan selalu menyesuaikan pendiriannya dengan kehendak orang lain (yang berkuasa, orang tua). Dengan demikian kreativitas anak akan berkurang, daya fantasinya kurang, dengan demikian mengurangi kemampuan anak untuk berpikir abstrak. Sementara itu, pada keluarga yang demokratis anak dapat melakukan banyak eksplorasi.

           Dari tiga jenis tersebut di atas Baldwin mengatakan bahwa lingkungan keluarga yang demokratis merupakan tata cara yang terbaik bagi anak untuk memberikan kemampuan menyesuaikan diri. Namun demikian, tata cara susunan keluarga ini kenyataannya tidak terbagi secara tajam berdasarkan ciri-ciri keluarga dalam tiga jenis tersebut. Yang terbanyak ialah campuran dari tiga jenis tersebut, dan dalam hal yang demikian ini akan ditentukan oleh mana yang paling menonjol atau yang paling kuat yang ada dalam susunan suatu keluarga.

          Bentuk tingkah laku sosial anak yang antara lain sikapnya ter hadap orang lain dan kelompok orang sebagian besar berasal dari apa yang dia pelajari. Sikap ini adalah “didapat” dari hasil penyesuaian sosial, khususnya di sini penyesuaian anak terhadap tata cara kehidupan keluarganya.

          Sikap dasar sosial yang dia dapat ini kelak masih dapat berubah, disebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak enak dan sangat sering, walaupun demikian hal ini tidaklah mudah.

Demikian referensi buku ajar dengan judul Kesehatan Mental apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.

Sumber: Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan Moeljono Notosoedirdjo, Latipun (2001)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *