Kesehatan Mental 1-2

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Kesehatan Mental

Hubungan Kesehatan Fisik Dan Mental

Fisik dan psikis adalah kesatuan dalam eksistensi manusia. Ya menyangkut kesehatannya juga terdapat saling berhubungan anta kesehatan fisik dan mental. Keadaan fisik manusia mempengaru psikis, sebaliknya psikis mempengaruhi keadaan fisik. Kasus-kası di bidang kesehatan menunjukkan hal ini, misalnya orang yar depresi sangat mempengaruhi selera makan dan tidurnya. Sebalikny makan seseorang mempengaruhi kemampuan inteligensi. Dalam s ling keterpengaruhan itu akhirnya diketahui adanya psikis yar sehat dan psikis yang mengalami hambatan, gangguan, atau ker sakan. Demikian juga kita mengetahui adanya fisik yang sehat da yang terganggu. Dengan pemeriksaan yang cermat kita juga meng tahui mana yang menjadi sebab dan yang menjadi akibat dari sebua gangguan.

Hubungan antara kesehatan fisik dengan psikis dapat dibuktika dengan hasil penelitian yang dilakukan Hall dan koleganya (1980 Dalam penelitian itu ditemukan bahwa di antara pasien yang sak secara medis menunjukkan adanya gangguan mental seperti depres gangguan kepribadian, sindroma otak organik, dan lain-lain. Sebalil nya orang-orang yang dirawat karena gangguan mental juga menur jukkan adanya gangguan secara fisik.

Penelitian yang menyangkut hubungan gangguan fisik dan ment diperkuat oleh (Goldberg, 1984) yang mencoba melakukan stuc khusus tentang pengakuan gangguan psikiatrik oleh kalangan nor psikiater. Diungkapkan bahwa gangguan psikiatris adalah umur terjadi-pada-pasien-pasien yang mengalami sakit (fisik) dan pasie yang menjalankan operasi pembedahan. Dia mengemukakan, sekita 20% sampai 40% pasien-pasien yang mengaku sakit secara fisi ternyata dapat didiagnosa mengalami gangguan mental, meskipu mayoritas di antara mereka kurang memperoleh perhatian. Hal ir sejalan dengan penelitian Vogt dan kawan-kawannya (1994) tentang status kesehatan mental sebagai prediktor morbiditas dan mortalitas Goldberg (1984) mengungkapkan terdapat tiga kemungkinal hubungan antara sakit secara fisik dan mental ini. Pertama, oran mengalami sakit mental disebabkan oleh sakit fisiknya. Karena kondis fisiknya tidak sehat, dia tertekan sehingga menimbulkan akibat se kunder berupa gangguan secara mental. Kedua, sakit fisik yang diderita itu sebenarnya gejala dari adanya gangguan mental. Ketiga antara gangguan mental dan sakit secara fisik adanya saling menopang, artinya bahwa orang menderita secara fisik menimbulkan gangguan secara mental, dan gangguan mental itu turut memperparah sakitnya.

Studi lain yang dilakukan Bruce dan koleganya (1994) menunjuk kan bahwa gangguan mental tertentu tidak hanya berkaitan dengan fisik sebagaimana yang dikemukakan Goldberg, tetapi juga berhu bungan dengan tingkat kematian. Bruce yang melakukan penelitian terhadap tiga ribu lebih penderita gangguan mental, ditemukan bahwa penderita skizofrenia, depresi, dan penyalahgunaan alkohol ternyata cenderung lebih cepat meninggal dibandingkan dengan rata-rata kematian subjek yang diteliti, sementara untuk penderita gangguan panik, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan pobia menunjukkan tidak lebih cepat mati dibandingkan rata-rata kematian subjek yang diteliti.

Jelaslah bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental saling hu bungan, artinya jika yang satu terganggu akan membawa pengaruh kepada bagian yang lainnya. Hubungan antara keduanya sangat kompleks meskipun tidak dapat dinyatakan bahwa satu aspek me nentukan yang lainnya (Cutting, 1980).

Gangguan Dan Deviasi

Dalam pembicaraan sehari-hari, atau dalam pembahasan ilmiah, sering dijumpai istilah gangguan (disorder) dan deviasi (deviation). Istilah-istilah ini kadang-kadang dianggap memiliki pengertian yang sama, namun sebenarnya penekanannya berbeda satu dengan yang lain (Lyttle, 1986; Fabrega, 1975).

Gangguan merupakan konsep medis (dan psikkologis), sementara deviasi adalah konsep-sosial. Seseorang dikatakan mengalami gang guan jika secara klinis dijumpai terdapat suatu penyakit, ketidaknor malan, atau terganggunya fungsi tertentu (fisiologis, psikologis). Deviasi menunjuk pada norma sosial, bahwa orang yang deviasi jika melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma masya rakatnya.

Dalam beberapa hal, antara gangguan dan deviasi berhubungan, artinya orang yang mengalami gangguan sekaligus melakukan tin dakan yang menyimpang secara sosial. Misalnya orang yang me ngalami gangguan kepribadian antisosial (psikopat) selalu melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan masyarakat. Dalam kasus yang lain, tidak selalu keduanya sejalan, bahwa adakalanya orang yang mengalami gangguan tetapi tidak deviasi, atau orang yang berperilaku deviasi sosial tidak sedang mengalami gangguan.Contoh untuk kasus ini adalah orang yang melakukan tindak “perjudian” dalam suatu masyarakat dianggap deviasi, tetapi tidak dalam keadaan gangguan secara psikiatris. Demikian juga orang yang melakukan tindak kriminal, kejahatan, tata krama yang kurang baik, pengkhianatan terhadap kelompok sosialnya, atau perbuatan dosa tidak selalu karena adanya gangguan.

Sehat Dan Normal

Sehat dan normal seringkali digunakan makna yang sama. Normal mengandung beberapa pengertian. Survei yang dilakukan Offer dan Sabsiro ditemukan terdapat lima pengertian normalitas, yaitu: (1) tidak adanya gangguan atau kesakitan; (2) keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif; (3) normal sebagai rata-rata pengertian statistik; (4) diterima secara sosial; dan (5) proses berlangsung secara wajar, terutama dalam tahapan perkembangan (Korchin, 1976). Sedangkan secara antropologis, Ackerknecht menyatakan bahwa perilaku dibedakan dalam empat kategori, yaitu (1) autopathological, yaitu perilaku abnormal dalam suatu budaya yang ditempati tetapi normal di budaya lain; (2) autonormal, yaitu perilaku normal budaya yang ditempati tetapi tidak normal untuk budaya yang lain; (3) heteropathological, yaitu perilaku abnormal dalam seluruh budaya; dan (4) heteronormal, yaitu perilaku normal dalam semua budaya (Marsella dan White, 1984).

Didasarkan klasifikasi pengertian normal itu atau kategori perilaku di atas, maka istilah normal tidak selalu berarti sehat. Sehat lebih bermakna pengertian khusus, yaitu keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif. Meskipun istilah normal dapat digunakan untuk menyebut istilah sehat, namun tidak selalu tepat digunakan.

Kesimpulan

Sehat dan sakit merupakan gejala universal, terjadi sepanjang sejarah manusia dan dikenal di semua kebudayaan. Hanya saja untuk merumuskan secara eksak tidak mungkin dicapai.

Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurna-secara biopsikososial, lebih dari sekadar terbebas dari penyakit atau keca catan. Sakit juga mengandung makna biopsikososial, yang meliputi konsep disease (berdimensi biologis), illness (berdimensi psikologis) dan sickness (berdimensi sosiologis). Faktor subjektif dan kultural turut menentukan konsep sehat dan sakit. Kesehatan pada prinsipnya berada pada rentangan yang kon tinum, yaitu di antara titik yang benar-benar sakit dan titik benar benar sehat. Kesehatan seseorang atau masyarakat ini dapat diupa yakan ditingkatkan statusnya, dari yang kurang sehat menjadi lebih sehat, atau sebaliknya. Kesehatan, selain ada secara fisik juga ada secara psikologis. Kesehatan secara fisiologis berhubungan dengan kesehatan mental, dan keduanya tidak saling menentukan. Jika terjadi gangguan fisik akan mempengaruhi keadaan kesehatan mentalnya. Demikian juga jika terjadi gangguan mental maka akan mempengaruhi kesehatan fisiknya.

Sehat berbeda pengertiannya dengan normal. Kedua istilah ini sering dimaknakan sama, tetapi sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Hal serupa juga berlaku untuk konsep gangguan dan deviasi. Gangguan lebih mengacu pada aspek medis, sedangkan deviasi lebih pada aspek sosial.

Demikian referensi buku ajar dengan judul Kesehatan Mental apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.

Sumber: Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan Moeljono Notosoedirdjo, Latipun (2001)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *