Perlunya Membuat Buku Ajar dan Keterhubungannya dengan Pembelajaran

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan buku ajar ataupun untuk keperluan lain. Namun, sebelum itu anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Alasan Perlunya Membuat Buku Ajar dan Keterhubungannya dengan Pembelajaran.

Sudah menjadi hal umum jika pembelajaran dan buku ajar adalah dua hal yang saling melengkapi satu sama lainnya. Pada suatu kelas, pembelajaran akan lebih efektif jika terdapat sarana pembelajaran seperti buku teks. Sedangkan buku teks membutuhkan beberapa prinsip pembelajaran dalam perancangannya.

Komponen pembelajaran terdiri dari mahasiswa, dosen, materi, penyajian materi, dan latihan. Buku ajar yang baik mencerminkan keseragaman seluruh komponennya sehingga materi, penyajian materi, dan pelatihan materi dapat mudah dipahami dan dipraktikkan entah oleh mahasiswa maupun dosen.

Prinsip dasar yang perlu menjadi fokus saat ini adalah bahan ajar. Dengan perhatian terfokus pada materi yang selaras dengan tujuan dan distribusinya, buku ini jadi memprioritaskan hasil dan mengabaikan proses. Keterampilan akhir mahasiswa berubah menjadi kemampuan untuk menghafal, karena buku tadi dirancang sebagai tempat untuk menghafal materi.

Masalah terbesar dari kesalahpahaman desain buku ajar semacam ini adalah ketika mahasiswa dihadapkan pada persoalan lain, mereka tidak dapat menyelesaikan persoalan dan membuat keputusan yang tepat. Sehingga, buku ini yang menganut prinsip menghafal hanya menekankan gagasan bahwa, misal belajar kewarganegaraan berarti belajar pengetahuan kewarganegaraan, bukan belajar tentang kewarganegaraan untuk menjadi masyarakat bernegara.

Singkatnya, buku ajar adalah media untuk mempelajari mata pelajaran atau pengetahuan tertentu. Buku ajar sebagai media harus memuat materi, teknik penyajian materi, dan model pelatihan materi. Materi yang digunakan sebagai bahan ajar harus disajikan dengan cara tertentu agar mahasiswa dapat mencapai potensinya dalam hal pemahaman, keterampilan, dan indera. Dari keterampilan ini, mahasiswa akan dapat memecahkan persoalan dalam dunia nyata. Buku ini juga dapat membantu dosen meningkatkan metode pengajarannya dan meningkatkan keterampilan mahasiswanya.

Secara teori, dosen harus memiliki pengalaman mengajar materi ilmiah tanpa instruksi buku ajar. Tetapi, metode ini tidak bertahan lama. Banyak dosen memiliki banyak keterbatasan dalam hal menambahkan materi pendukung dan mau tidak mau hanya mengandalkan buku ajar untuk mengajar. Oleh karena itu, buku ajar adalah media pembelajaran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Jadi, buku ajar harus disusun dengan efisien dan efektif untuk mendukung mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran dalam disiplin ilmu tertentu.

Berdasarkan gagasan tadi, maka diperlukan suatu pedoman penulisan buku ajar agar buku yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu. Buku pedoman ini dirancang dengan mengacu pada pedoman penulisan buku ajar yang diterbitkan oleh Ditjen Dikti, Pusat Buku Kementerian Pendidikan Nasional, dan berbagai sumber lain yang berkaitan dengan penulisan buku ajar.

Selain itu, buku ajar memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan tujuan pembelajaran dan media pembelajaran. Tentu dengan keterhubungan di antara semua komponen tersebut akan memberikan dampak positif dan dapat menjelaskan mengapa diperlukan adanya buku ajar.

Keterhubungan Buku Ajar dengan Pembelajaran

Seperti yang sudah dicuplik sekilas sebelumnya, buku ajar memiliki hubungan dengan tujuan pembelajaran. Jika merujuk dari hasil penelitian “Hubungan antara ketersediaan buku dengan metode pembelajaran dengan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah sosiologi di perguruan tinggi administrasi kota Palu” yang dilaksanakan oleh Djamaludin Kantao, dapat disimpulkan jika hubungan di antara keduanya adalah sebagai berikut.

1. Hasil belajar bervariasi tergantung ketersediaan buku ajar di tangan mahasiswa. Kelompok mahasiswa dengan buku “baik” mencapai hasil akademik yang lebih tinggi daripada kelompok mahasiswa dengan buku “cukup”. Sementara itu, kelompok mahasiswa dengan buku kategori “cukup” memiliki hasil belajar yang lebih tinggi daripada kelompok mahasiswa dengan buku kategori “kurang”.

2. Ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa tergantung dari cara mempelajari buku. Kelompok mahasiswa yang selalu menerapkan metode belajar yang baik dalam buku ajar mencapai hasil belajar yang lebih baik daripada kelompok mahasiswa yang kadang-kadang menerapkan metode pembelajaran yang baik dalam buku. Sementara itu, kelompok mahasiswa yang kadang-kadang menerapkan metode belajar buku dengan baik mencapai hasil belajar yang lebih baik daripada kelompok mahasiswa yang hampir tidak menerapkan metode belajar buku dengan baik.

3. Tidak ada interaksi antara ketersediaan buku ajar dengan cara pembelajarannya terhadap hasil belajar mahasiswa. Hasil ini menunjukkan bahwa mungkin ada interaksi antara cara mempelajari buku dengan preferensi dan sikap mahasiswa terhadap materi dalam buku ajar.

Dari hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar mahasiswa bergantung pada ketersediaan buku ajar dan gaya belajar mahasiswa. Menyajikan buku ajar yang komprehensif di tangan mahasiswa dan mengadopsi pembelajaran buku yang baik akan meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

Peningkatan hasil belajar mahasiswa menuntut mereka untuk menerima buku ajar yang komprehensif dan menerapkan metode pembelajaran buku dengan baik. Penyediaan buku ajar yang lengkap kepada mahasiswa dapat dilakukan dengan cara orang tua membeli buku ajar yang sesuai dengan kebutuhan anaknya, perpustakaan sekolah menyediakan buku ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, dan perpustakaan sekolah memberikan pelayanan yang terbaik kepada mahasiswa. Perbaikan cara belajar yang baik dalam buku ajar dapat dilakukan dengan mengajarkan mahasiswa  bagaimana cara belajar yang baik.

Dengan menggunakan tinjauan umum penelitian tersebut, penjelasan berikut dapat digunakan untuk memahami hubungan antara buku ajar dengan tujuan pembelajaran.

a. Buku ajar berisi uraian tentang banyak materi yang mendukung tujuan pembelajaran.

b. Buku ajar memuat banyak kegiatan yang mendukung pencapaian kompetensi tertentu.

Penggunaan buku ini diharapkan dapat memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran atau capaian kompetensi. Sebuah tujuan pembelajaran atau kompetensi dapat tercapai jika penulis buku menghitung bahwa:

a. Uraian materi yang terdapat dalam buku harus didasarkan pada tujuan pembelajaran dan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.

b. Tingkat deskripsi materi harus didasarkan pada ukuran pencapaian tujuan pembelajaran atau perolehan keterampilan.

c. Setiap tingkat uraian materi hendaknya berfokus pada indikator pencapaian hasil belajar atau kompetensi agar lebih mudah diukur atau dievaluasi.

Tidak hanya memiliki hubungan dengan tujuan pembelajaran, buku ajar juga memiliki keterkaitan dengan media pembelajaran. Terdapat beberapa kunci konsep yang perlu dipahami terlebih dahulu.

a. Media pembelajaran pada dasarnya merupakan penyalur pesan-pesan pembelajaran yang disampaikan dari sumber pesan (dosen) kepada penerima pesan (mahasiswa) dengan tujuan agar pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan tepat waktu, cepat, dan tepat sesuai dengan yang diharapkan.

b. Konsep media pembelajaran tidak terbatas pada perangkat, tetapi yang lebih penting adalah pesan atau informasi yang disajikan melalui perangkat tersebut. Dengan demikian, konsep media pembelajaran menyiratkan adanya perangkat dan pesan yang disampaikannya dalam satu kesatuan yang utuh.

c. Dosen dapat lebih efektif mencapai tujuan pembelajarannya melalui pemanfaatan media secara optimal, karena media memiliki fungsi, nilai, dan peran yang sangat bermanfaat, termasuk meminimalkan kesalahan penyajian bahan ajar yang diberikan kepada mahasiswa.

d. Ada tiga jenis media pembelajaran yang biasa digunakan dalam pembelajaran, yaitu media visual, media audio, dan media audiovisual. Dari masing-masing jenis media tersebut dimungkinkan untuk mengembangkan berbagai jenis media dalam kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar yang akan digunakan tergantung pada tujuan yang ingin dicapai, sifat bahan ajar, ketersediaan bahan tersebut, serta juga kemampuan dosen dalam menggunakannya.

e. Setiap sarana memiliki keunggulan dan keterbatasan. Maka dari itu, tidak ada satu media pun yang dapat dipakai untuk semua situasi atau untuk semua tujuan pembelajaran.

f. Pemilihan bahan ajar pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh dosen untuk menentukan jenis media apa yang paling tepat dipakai dan relevan dengan tujuan pembelajaran dan sifat bahan yang akan dikomunikasikan. Munculnya pemilihan media ini dikarenakan banyaknya sarana yang beragam dengan karakteristik berbeda-beda.  

g. Penggunaan bahan ajar harus memperhitungkan tujuan yang hendak diraih, sifat bahan ajar, karakteristik tujuan pembelajaran, dan kondisi ruangan. Kesederhanaan, perhatian, dan sorotan juga harus diperhatikan, agar perencanaan menjadi baik dan memungkinkan mahasiswa lebih aktif dalam belajar.

8 Fungsi Media Pembelajaran

1. Media pembelajaran dapat mengatasi kekurangan pengalaman mahasiswa. Pengalaman setiap mahasiswa akan berbeda-beda tergantung pada faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman mereka, seperti ketersediaan buku, pilihan perjalanan, dan lain-lain. Media pembelajaran dapat menyelesaikan perbedaan demikian. Jika objek pembelajaran tidak dapat diperkenalkan secara langsung, maka objek tersebut dibawa kepada mahasiswa. Objek yang dimaksud dapat berupa miniatur nyata,  model, atau gambar yang dapat disajikan secara audiovisual dan audial.

2. Media pembelajaran melampaui batasan ruang. Banyak hal yang tidak dapat dipelajari langsung dari benda-benda di  kelas oleh mahasiswa. Bisa saja alasannya mulai dari ukuran objek terlalu besar atau kecil, kecepatan gerak benda yang terlalu cepat atau lambat, objek terlalu kompleks, bunyi benda terlalu lembut, serta benda tadi mengandung bahaya dan resiko tinggi. Semua benda dapat disajikan kepada mahasiswa dengan menggunakan media yang sesuai.

3. Memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara mahasiswa dengan lingkungannya.

4. Menciptakan kesatuan pengamatan.

5. Menyampaikan konsep dasar yang benar, konkrit, dan nyata.

6. Menciptakan kehendak dan minat baru.

7. Menciptakan motivasi dan memfasilitasi belajar pada mahasiswa.

8. Memberikan pengalaman integratif atau holistik, dari konkret ke abstrak.

Berdasarkan konsep utama media pembelajaran di atas, jelaslah bahwa buku ajar merupakan salah satu jenis media pembelajaran. Namun, buku ini lebih dari sekedar media pembelajaran dibandingkan dengan media pembelajaran lainnya. Buku ini bukan hanya “penyalur informasi”, tetapi juga sumber informasi dan guru alternatif. Dengan membaca buku ini, mahasiswa seolah-olah memiliki perbincangan dengan pengajarnya. Mahasiswa dapat memperoleh informasi dari buku ajar, dapat menyelesaikan kegiatan sesuai petunjuk dalam buku, dan dapat mengukur pembelajaran dengan menyelesaikan tugas atau menjawab pertanyaan yang terdapat dalam buku.

Berdasarkan apa yang sudah dibahas di atas, sudah jelas jika buku ajar sangat penting untuk dibuat karena berkenaan langsung dengan kurikulum dan juga pembelajaran mahasiswa serta dosen. Tanpa perlu kita jabarkan dengan cara langsung, pasti sudah dapat dipahami seberapa pentingnya buku ajar jika dilihat dari hubungannya dengan pembelajaran.

Demikian artikel mengenai Perlunya Membuat Buku Ajar dan Keterhubungannya dengan Pembelajaran apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk buku bahan ajar ataupun untuk keperluan lain dapat menghubungi admin RuangBuku.