RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Buku Ajar Psikologi Pendidikan .
Panduan dalam Memilih dan Menggunakan Tes Terstandarisasi
Sebagai guru, kita kadang memiliki usulan dalam proses seleksi tes-tes terstandarisasi bagi gugus sekolah kita, dan sering terlibat dalam melaksanakannya. Berikut ini beberapa panduan untuk memilih dan menggunakan tes terstandarisasi secara tepat.
- Pilihlah tes yang memiliki validitas tinggi untuk tujuan khususmu dan reliabilitas tinggi bagi para siswa yang serupa dengan siswa-siswa kita. Kita telah membicarakan tentang tes prestasi, tes kemampuan skolastik umum, tes bakat khusus, dan tes kesiapan seakan-akan semuanya merupakan entitas berbeda; padahal dalam kenyataannya perbedaan di antara keempatnya tidak selalu jelas. Pada tingkat tertentu, keempat tes ini menilai apa yang telah dipelajari siswa, dan semuanya dapat digunakan untuk memprediksi performa masa depan. Jalan tengah terbaik kita adalah memilih tes yang memiliki validitas terbesar bagi tujuan khusus kita, tanpa menghiraukan apa nama tes tersebut. Tentu saja, kita juga ingin sebuah tes yang sangat reliabel dengan populasi yang sama dengan populasi kita.
- Pastikan bahwa kelompok norma tes tersebut relevan dengan populasimu sendiri. Periksalah deskripsi di panduan tes tentang kelompok norma yang digunakan untuk tes tersebut, dengan mengingat pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Apakah kelompok norma merupakan sampel populasi yang representatif atau sesuai untuk perbandingan yang Anda rencanakan?
- Apakah kelompok norma memasukkan siswa dari usia, tingkat latar belakang budaya yang sama seperti siswamu?
- Apakah kelompok norma memasukkan siswa dari kedua jender?
- Apakah sampelnya cukup besar sehingga skor rata-rata yang dilaporkan mungkin merupakan gambaran akurat tentang populasi yang diwakili?
- Apakah data normatif yang dikumpulkan baru-baru ini sudah cukup sehingga mencerminkan bagaimana biasanya performa siswa saat ini?
Ketika kita menentukan skor tes acuan norma dengan membandingkan siswa dengan kelompok norma yang tidak sesuai, skornya tidak bermakna apa pun. Misalnya, saya ingat situasi di mana para mahasiswa jurusan pendidikan guru di sebuah universitas negeri yang besar diminta untuk menjalani tes kemampuan dasar bidang matematika dan bahasa. Karena tes tersebut telah disesuaikan (normed) untuk populasi SMA, performa mahasiswa di universitas itu dibandingkan dengan performa para siswa SMA-praktik yang sama sekali tidak masuk akal.
- Pertimbangkan usia dan perkembangan siswa. Seperti kita temukan di Bab 15, berbagai macam faktor-motivasi, suasana hati, tingkat energi, dan sebagainya-memengaruhi performa siswa di berbagai tes dan asesmen. Ketika relatif stabil, faktor-faktor ini memengaruhi validitas instrumen asesmen. Ketika bersifat temporer dan berubah-ubah setiap hari (bahkan mungkin setiap jam), faktor-faktor ini juga memengaruhi reliabilitas instrumen dan secara tidak langsung memengaruhi validitasnya juga. Sumber-sumber kesalahan semacam itu dalam skor ujian siswa dan hasil-hasil asesmen lainnya secara khusus lazim terjadi pada anak-anak, yang mungkin memiliki kemampuan bahasa terbatas, jangkauan perhatian pendek, motivasi kecil untuk berusaha sebaik mungkin, dan toleransi yang kecil terhadap frustrasi (Bracken & Walker, 1997; Messick, 1983). Selanjutnya, perilaku tak menentu pada anak-anak mungkin membuat kondisi pengujian yang terstandarisasi sulit dipertahankan (Wodtke, Harper, & Schommer, 1989).
Pada anak remaja, variabel-variabel lain dapat memengaruhi validitas skor pada tes terstandarisasi. Meskipun para siswa mungkin sedikit grogi dengan tes-tes di tingkat sekolah dasar (misalnya, lihat Gambar 16.10), kecemasan akan tes meningkat di tingkat SMP dan SMA, sampai mengganggu konsentrasi siswa selama tes. Selain itu, khususnya di SMA, beberapa siswa menjadi sinis terhadap validitas dan kegunaan tes tertulis yang terstandarisasi (Paris, Lawton, Turner, & Roth, 1991). Dan ketika suatu tes dianggap tidak berguna, para siswa kemudian mungkin membaca pertanyaan-pertanyaan tes secara sepintas lalu dan beberapa di antara mereka mungkin mengisi lembar jawaban dengan mengikuti pola tertentu tanpa berpikir panjang (mis., bergiliran memilih A dan B) atau bahkan tanpa berpikir sama sekali (Paris et. al., 1991). Tabel 16.3 menjelaskan perbedaan-perbedaan perkembangan ini dan perkembangan-perkembangan lainnya yang memengaruhi performa siswa pada tes terstandarisasi serta memberikan saran untuk mengakomodasi perbedaan tersebut.
- Pastikan bahwa siswa dipersiapkan secara baik untuk mengikuti tes. Di sebagian besar contoh, kita ingin mempersiapkan siswa sebelum mereka menjalani tes. Misalnya, kita dapat melakukan hal-hal berikut ini:
- Menjelaskan sifat umum tes dan tugas-tugas yang tercakup (mis., jika memungkinkan, sebutkan bahwa siswa tidak diharapkan mengetahui semua jawaban dan bahwa banyak siswa yang tidak memiliki cukup waktu untuk menjawab setiap pertanyaan).
- Mendorong siswa berusaha sebaik mungkin, namun tanpa meng gambarkan tes itu sebagai sesuatu yang sangat menentukan nasib mereka dalam pelajaran yang diuji itu.
- Memberi siswa latihan dengan jenis dan format pertanyaan dari suatu tes (mis.. menunjukkan kepada mereka bagaimana menjawab pertanyaan pilihan ganda dan mengisi di lembar jawaban komputer).
- Mendorong siswa untuk tidur dengan nyenyak dan sarapan yang tes berlangsung. (Kirkland, 1971: Popham, 1990; Sax, 1989)
Pada tingkat tertentu, kita juga dapat membantu siswa mempersiapan diri dengan mengajari mereka strategi pengerjaan tes yang bermanfaat dengan inelewati dahulu pertanyaan-pertanyaan yang sulit, memeriksa kembali untuk memastikan apakah jawaban sudah benar, dan sebagainya. Namun, perlu kita ingat bahwa testwiseness semacam itu biasanya sedikit saja pengaruhnya terhadap skor tes terstandarisasi siswa (Scruggs & Lifson, 1985). Selain itu, keterampilan mengerjakan tes dan pencapaian siswa berkorelasi secara positif: Siswa yang memiliki banyak strategi pengerjaan tes cenderung berprestasi tinggi dibandingkan siswa yang memiliki sedikit strategi. Dengan kata lain, sangat sedikit siswa yang memperoleh skor tes rendah hanya karena strategi mereka mengerjakan tes buruk (Scruggs & Lifson, 1985). Di sebagian besar kasus, kita dapat melayani siswa secara lebih baik dengan mengajari mereka pengetahuan dan keterampilan yang dinilai oleh tes tersebut ketimbang menghabiskan waktu mengajari mereka cara menjalani tes.
- Ketika melaksanakan tes, ikuti petunjuk secara teliti, dan laporkan situasi apa pun yang tak biasa. Begitu sesi tes dimulai, kita harus mengikuti prosedur pelaksanaan tes, membagikan buklet-buklet tes seperti yang diarahkan, meminta siswa mengisi soal latihan apa pun yang tersedia, mengelola waktu dengan benar, dan merespons pertanyaan seperti yang disarankan. Jika kita tidak mereplikasi kondisi-kondisi di mana kelompok norma menjalani sebuah tes, skor acuan norma yang diperoleh dari tes tidak akan berguna. Terkadang, kita akan menjumpai peristiwa-peristiwa yang berada di luar kendali kita (projek pembangunan yang bising di sekitar sekolah, listrik padam secara tiba-tiba, dan lain-lain). Ketika secara signifikan mengubah kondisi-kondisi di mana siswa menjalani tes terstandarisasi, peristiwa-peristiwa tersebut membahayakan validitas hasil tes dan harus dilaporkan. Kita juga harus membuat catatan tentang siswa-siswa yang berperilaku dalam cara-cara yang tidak mungkin akan menghasilkan performa yang maksimum-tampak sangat grogi, memandang keluar jendela dalam waktu yang lama, menandai jawaban secara sembrono, dan sebagainya (R. L. Linn & Miller, 2005).
TABEL 12.2 TREN PERKEMBANGAN
Karakteristik-karakteristik yang Memengaruhi Performa Tes yang Terstandarisasi pada Setiap Jenjang Kelas
| Tingkat | Karakteristik Sesuai Usia | Strategi yang Disarankan di Kelas |
| K-2 | Jangkauan perhatian yang pendek: perbedaan individual yang signifikan dalam kemampuan untuk tetap fokus pada soal soal tes.Motivasi intrinsik yang kecil untuk bekerja dengan baik dalam berbagai tes.Inkonsistensi dalam performa tes dari satu kesempatan ke kesempatan lain. | Jangan menggunakan tes kesiapan bersekolah untuk menentukan anak-anak mana yang siap untuk masuk sekolah dasar melainkan, rencanakan pengalaman sekolah awal yang dapat mempersiapkan siswa untuk pembelajaran di masa mendatang.Serahkan asesmen untuk tujuan diagnosis (mis., untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki kebutuhan khusus) ke tangan para profesional terlatih yang berpengalaman dalam menilai anak-anak.jangan membuat prediksi jangka panjang tentang prestasi berdasarkan skor tes terstandarisasi.Gunakan banyak ukuran ketika harus membuat keputusan penting tentang pendidikan siswa. |
| 3-5 | Penerimaan tes terstandarisasi sebagai ukuran yang valid tentang kemampuan atau prestasi.Kemampuan yang semakin berkembang untuk tetap fokus pada instrumen asesmen tertulisFasilitas yang semakin berkembang dengan lembar jawab yang dapat dinilai melalui mesin.Variabilitas yang besar dalam testwiseness. | Tekankan nilai (value) dari tes terstandarisasi untuk melacak kemajuan siswa dan mengidentifikasi area-area di mana siswa mungkin membutuhkan pengajaran dan dukungan tambahan.Berilah serangkaian latihan kepada siswa dengan menggunakan lembar jawab yang dapat dinilai dengan bantuan mesin.Ajarkan secara eksplisit strategi-strategi mengerjakan tes dasar (mis, melewatkan dulu soal-soal yang sulit dan kembali mengerjakannya jika waktu masih cukup). |
| 6-8 | Peningkatan dalam kecemasan akan tes spada beberapa siswaVariabilitas yang besar dalam strategi pengerjaan tesMuncul skeptisme tentang nilai tvaluer yang terkandung dalam tes terstandarisasi (pada beberapa siswa) | Jelaskan bahwa tes terstandarisasi hanya memberikan de garis besar tentang apa yang diketahui dan dapat dilakukan siswa, yakinkan kembali siswa bahwa hasil res tidak akan menjadi satu-satunya hal yang memengaruhi pengambilan keputusan pengajaranDoronglah siswa berusaha sebaik mungkin dalam tes yakinkan mereka banwa hasil tes tidak akan digunakan untuk menilai mereka namun untuk membantu mereka belajar lebih efektif.Berikan latihan praktek dalam hai keterampilan mengerjakan tes, namun ingat bahwa periorma siswa lebih tergantung pada pengetahuan dan kemampuan mereka di domain is ketimbang pada kemampuan umum mereka mengerjakan tes |
| 9-12 | Meningkatnya sinisme tentang validitas dan kegunaan tes terstandarisasi (terutama pada siswa berprestasi rendah).Menurunnya motivasi untuk bekerja dengan baik pada tes terstandarisasi (misalnya siswa mungkin mengisi lingkaran di lembar jawab tanpa berpikir); dalam beberapa contoh mungkin mencerminkan perilaku perintang- an diri (self-handicapping) sebagai cara membenarkan performa yang buruk | Akuilah bahwa tes terstandarisasi tidak sempurna, namun menjelaskan bahwa tes ini dapat membantu guru dan administrator sekolah untuk menilai efektivitas sekolah serta merencanakan pengajaran di masa mendatang.Waspadalah terhadap tanda-tanda bahwa siswa mungkin secara sengaja menghambat jalannya suatu asesmen atau telah melakukan hal semacam itu; bicaralah secara pri badi dengan siswa tentang kekhawatirannya dan tawarkan dukunganmu untuk meningkatkan performa tes |
Demikian referensi buku ajar dengan judul Psikologi Pendidikan apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
Sumber: Psikologi Pendidikan Jeanne Ellis Ormrod ( Erlangga 2008)
