Bab 10 Video Bahan Ajar 2

RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bab 10 Video Bahan Ajar

  1. Film dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Ajar

Ada sebuah dilema tersendiri ketika menggunakan film sebagai bahan ajar. Di satu sisi, tidak ada untungnya membuat program murah yang nantinya tidak diper hatikan oleh peserta didik. Di sisi lain, membuat pro gram yang menarik namun biayanya mahal sekali adalah suatu pemborosan. Ibaratnya, memakai meriam untuk membunuh seekor tikus. Apabila sudah diputuskan un tuk menggunakan film sebagai bahan ajar, maka harus dipikirkan pula masalah ketersediaan sarana (baik untuk produksi maupun pemutaran), perencanaan praproduksi, dan persetujuan pembiayaan. Hal ini harus sudah disele saikan pada awal pengembangan bahan ajar.

Karakteristik film, baik kelebihan maupun keter batasannya, memiliki banyak sekali kesamaan dengan video. Memang diakui ada sejumlah perbedaan, terutama dalam hal pendistribusian serta lamanya pemrosesan, dan hal ini harus kita pertimbangkan, lebih-lebih posisi kita sebagai pengembang kegiatan pembelajaran.

Dalam penerapannya pada proses pembelajaran, film dapat digunakan untuk tiga tujuan utama.” Pertama, tujuan kognitif. Bahan ajar ini dapat digunakan untuk mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan stimulasi gerak yang relevan, seperti kecepatan objek yang bergerak, penyimpangan dalam gerakan, dan sebagainya; mengajarkan aturan dan prinsip; serta memperlihatkan contoh model penampilan, terutama pada situasi menunjukkan interaksi manusia. yang

Kedua, tujuan psikomotorik. Dalam hal ini, film digunakan untuk memperlihatkan contoh keterampilan gerak; memperjelas dan memperlambat atau mempercepat gerak; mengajarkan cara menggunakan suatu alat, memanjat, berenang, dan sebagainya; serta memberikan umpan balik (feedback) tertunda kepada peserta didik secara visual untuk menunjukkan tingkat kemampuan mereka dalam mengerjakan keterampilan gerak setelah beberapa waktu kemudian.

Ketiga, tujuan afektif. Dalam tujuan afektif, film paling cocok jika digunakan untuk mempengaruhi sikap dan emosi, yaitu dengan menggunakan berbagai cara dan efek. Selain itu, film juga merupakan alat yang cocok untuk memperagakan informasi efektif, baik melalui efek optis maupun gambaran visual yang berkaitan.

  1. Kelebihan dan Keterbatasan Film

Menurut Anderson (1987), paling tidak ada delapan kelebihan film sebagai bahan ajar, yaitu:

  1. Film dapat menyajikan gambar bergerak untuk memperagakan rangsangan atau respons yang serasi yang dikehendaki dalam training.
  2. Film dapat membuat efek visual khusus yang memungkinkan bisa memperkuat proses belajar.
  3. Sejarah film yang panjang memungkinkan tersedianya berbagai film di banyak Perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar..
  4. Film dapat digunakan dengan proyeksi dari depan matau belakang.
  5. Isi dan urutan-urutan materi pelajaran yang sudah terpadu dapat digunakan secara interaktif dengan buku-buku tugas, buku-buku petunjuk belajar, dan sebagainya.
  6. Proyektor film pada umumnya mudah diperoleh, mudah di bawa, dan gampang pengoperasiannya.
  7. Kualitas gambar yang ditransfer dari film ke video lebih baik daripada video ke film.
  8. Ukuran film sudah terstandardisasi memung yang kinkannya digunakan di mana-mana.

Sementara, kelemahan-kelemahan film sebagai ba han ajar, di antaranya sebagai berikut:

  1. Biaya produksi tinggi dan para ahli dalam bidang ini masih langka.
  2. Memproses film membutuhkan waktu, sehingga tidak dapat diperoleh umpan balik langsung.
  3. Sering kali lembaga-lembaga tidak memiliki sarana produksi film bersuara yang sederhana dan murah.
  4. Film yang sudah dipakai tidak dapat dihapus dan digunakan kembali.
  5. Harus ditangani dan dirawat dengan hati-hati, supaya tidak putus (jika menggunakan pita video), lecet (jika menggunakan piringan video), ataupun terkena virus (jika menggunakan file video dalam hard disk atau flash disk atau memory card).
  1. Unsur-Unsur Bahan Ajar Video atau Film

Menurut Diknas (2004), struktur bahan ajar video atau film meliputi enam komponen, yaitu judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar atau materi pokok, informasi pendukung, latihan, dan penilaian. Kalau kita cermati, unsur-unsur bahan ajar video atau film ini memiliki sejumlah perbedaan dengan jenis bahan ajar audiovisual lainnya, yaitu bahan ajar orang. Karena, pada jenis bahan ajar orang, strukturnya hanya meliputi lima komponen, dan itu pun tidak semuanya terdapat pada bahan ajar. Yang ada pada bahan ajar hanya meliputi judul, kompetensi dasar atau materi pokok, dan informasi pendukung. Sementara, komponen latihan dan penilaian terdapat pada lembaran kertas lain. Untuk mengingat kembali tentang struktur bahan ajar audiovisual, silakan buka lihat kembali Tabel 5 pada Bab 3.

  1. Memahami Langkah-Langkah Praktis Penyusunan Bahan Ajar Video atau Film

Seperti halnya program audio (radio), video atau film juga merupakan alat bantu yang didesain sebagai bahan ajar. Program video atau film biasanya disebut alat

bantu pandang dengar (audiovisual aids atau audiovisual media). Umumnya, program video telah dibuat dengan rancangan lengkap, sehingga setiap akhir dari penayangan video, peserta didik dapat menguasai satu atau lebih kompetensi dasar. Baik tidaknya program video tentu saja tergantung pada desain awalnya, mulai analisis kurikulum, penentuan media, skema yang menunjukkan (dikenal dengan skenario) dari sebuah program video atau film, skrip, pengambilan gambar, dan pengeditannya. proses

  1. Beberapa Pertimbangan dalam Memproduksi Gambar Bergerak (Video/Film)

Dalam rangka menyusun bahan ajar audio, maka kita juga perlu memperhatikan beberapa pertimbangan berikut ini ketika hendak memproduksi gambar bergerak, baik video maupun film.

  1. Bahan ajar video/film didesain, terutama untuk memperlihatkan gerak, bukan gambar diam.
  2. Kalau digarap dengan benar, gambar bergerak amat baik untuk tujuan afektif (mempengaruhi peserta didik untuk mengubah sikap).
  3. Untuk kepentingan pengajaran, sebaiknya gam bar bergerak digunakan berdasarkan hubungan langsung dengan pribadi penonton. Berapa pun besarnya kelompok peserta didik yang menonton, peran yang dijabarkan dalam naskah hendaklah memperhitungkan peserta didik sebagai pribadi.
  4. Suara yang mengiringi gambar harus sesuai dengan isi gambar.
  5. Narasi tidak boleh menceritakan apa yang terlihat di layar, kecuali kalau untuk menginterpretasikan, memperjelas, atau menekankan hal yang penting.
  6. Semua media gambar bergerak harus mengandung isi yang sudah dibakukan, serta harus disunting dan diujicobakan sebelum dipergunakan dalam kegiatan pengajaran. Sebelum dicetak, kita konsultasikan terlebih dahulu meterinya kepada orang yang ahli dalam bidang tersebut. Kita juga perlu mencobakan kemantapan bahan ajar ini kepada sekelompok peserta didik.
  7. Karena film dan video sebetulnya adalah media gambar bergerak, narasinya hendaklah dikem bangkan berdasarkan naskah visual yang didesain dengan teliti. Penulis naskahnya haruslah berpikir secara individual (berpikir dalam tata gambar, bu kan dalam tata kalimat).
  8. Ingatlah bahwa penonton kita tidak terikat. Mereka bisa saja mengalihkan perhatian pada hal-hal lain jika tontonan itu tidak menarik bagi mereka. Oleh karena itu, dalam perencanaan naskah media ini, harus dipertimbangkan juga sikap penonton, latar belakang, budaya, usia, jenis kelamin, serta gagasan dan harapan mereka.
  9. Gambar yang disajikan hendaklah bervariasi dan diambil dari sudut pengambilan yang berbeda-beda, sehingga penonton tidak cepat bosan. Usahakan lama masa putarnya seminimum mungkin.
  10. Memproduksi bahan ajar gambar bergerak adalah suatu pekerjaan yang rumit. Kegiatan ini melibat kan banyak ahli dari berbagai disiplin serta teknisi

yang terampil. Sistem kerja yang diatur oleh suatu kepanitiaan tidak cocok untuk kegiatan produksi ini, bahkan hanya akan menambah biaya frustasi dan kesimpangsiuran. Tanggung jawab pengaturan kerja ada di berbagai tingkat produksi, sedangkan tanggung jawab atas persetujuan hasil akhir secara terus-menerus harus ada di tangan satu orang. Jadi, siapa pun orangnya, ia harus ditunjuk sebagai pro duser dan harus selalu siap untuk mengoordinasi kan kerja berbagai kelompok yang terlibat dalam produksi

Demikian referensi buku dengan judul Bab 10 Video Bahan Ajar   membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin Ruang Buku.