RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bab 10 Video Bahan Ajar
-
2. Langkah-Langkah Penyusunan Program Video/Film Langkah-langkah
- yang dapat kita tempuh untuk menyusun sebuah program video/film, menurut Diknas (2004) adalah sebagai berikut. Pertama, Judul diturunkan dari kompetensi dasar atau materi pokok sesuai dengan banyak sedikitnya materi. Kedua, pembuatan sinopsis yang menggambarkan secara singkat dan jelas tentang materi yang akan dibahas dalam sebuah program video.
Ketiga, informasi pendukung dijelaskan secara gam blang, padat, dan menarik dalam bentuk story board atau naskah. Kita bisa menggunakan berbagai sumber bela jar untuk memperkaya materi, misalnya buku, majalah, video, internet, atau jurnal hasil penelitian. Sebuah story board umumnya ditulis dalam dua kolom, di mana kolom pertama berisi gambar atau bagan yang dilengkapi de ngan perintah-perintah pengambilan gambar, sedangkan kolom kedua berupa narasi yang menjelaskan gambar.
Kejelasan sebuah story board akan memudahkan dalam memproduksi sebuah program video/film.
Keempat, pengambilan gambar dilakukan atas dasar story board. Agar hasilnya maksimal dan bagus, sebaiknya dikerjakan oleh orang yang menguasai alat rekam gambar. Kelima, proses editing dilakukan oleh orang yang mengetahui alat edit didampingi oleh orang yang menguasai substansi atau isi materi video/film. Keenam, agar hasilnya memuaskan, sebelum digandakan sebaiknya dilakukan penilaian terhadap program secara keseluruhan, baik secara substansi, edukasi, maupun sinematografi.
Ketujub, program video atau film biasanya tidak interaktif, namun tugas-tugasnya dapat diberikan pada akhir penayangan melalui presenter. Tugas-tugas dapat kertas lain, misalnya berupa lembar tugas praktik yaitu mempraktikkan apa yang video. Tugas dapat diberikan secara individu ataupun kelompok. Kedelapan, pe nilaian dapat dilakukan ter hadap jawaban tertulis dari pertanyaan dalam program video/film atau hasil karya dari tugas yang diberikan. Arif dan Napitupulu juga ditulis dalam lembar (1997) menjelaskan bahwa langkah-langkah utama
Atau, secara sistematis, Arif dan Napitupulu (1997) menjelaskan bahwa langkah-langkah utama untuk memproduksi program audio visual terbagi menjadi
315
empat fase, yaitu perencanaan, produksi, kegiatan tindak lanjut, serta penilaian dan kesimpulan.
- Fase Perencanaan
Fase ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
- Penentuan topik.
- Pemilihan strategi. Dalam memilih strategi, kita gunakan berbagai metode, teknik, dan taktik untuk memanipulasi komponen kata, tulisan, serta visual sambil memperhatikan prinsip-prinsip belajar yang sudah ada. Kita harus menjelaskan kepada diri kita sendiri tentang gagasan atau permasalahan sebelum dapat berbagi kepada orang lain. Pada waktu gagasan sudah jelas, maka kita harus mengaitkannya satu dengan yang lain dengan arah yang jelas. Inilah yang merupakan gagasan sendiri atau pokok.
- Penentuan seluk-beluk atau profil para penerima.
- Penentuan gagasan pokok (sentral). Gagasan pokok kita sajikan dalam bentuk tunggal, lengkap, serta kalimat yang menyimpulkan hakikat atau inti sari pesan. Suatu gagasan pokok dapat berbentuk definisi formal, proses, atau kepercayaan. Kita harus membentuk gagasan pokok, dan kalau program ini berhasil, kita akan menjadi bagian dari pemrosesan pesan. Gagasan pokok boleh dinyatakan atau diulang di dalam program atau boleh dihilangkan, kitalah (sebagai produser) yang menentukannya. Gagasan pokok mengungkapkan sikap kita terhadap pokok bahasan. Sesudah satu gagasan
pokok dimiliki, maka kita dapat mengerjakan garis besar isi atau materi.
- Penetapan tujuan kegiatan.
- Pengembangan gagasan pokok menjadi satu garis
- Penegasan strategi atau bentuk program. Dalam hal ini, banyak format program untuk dipilih, seperti suara narasi, dokumentasi, wawancara, diskusi peran, majalah, demonstrasi atau peragaan, dan dramatisasi. Tujuan setiap produksi bukan hanya untuk menyampaikan isi atau materi, tetapi juga untuk melibatkan penonton dalam menyusun pengalaman yang menuntun mereka untuk menarik kesimpulan yang sama dengan kita. Program berisikan serangkaian tuntutan yang memerlukan pembuktian. Tuntutan-tuntutan dinyatakan secara lisan atau ditunjukkan dalam suatu rangkaian visual, tetapi pembuktiannya biasanya dalam pengertian visual. Gunakan berbagai sumber pengetahuan untuk menetapkan strategi, seperti pengalaman, wewenang, penalaran induktif dan deduktif, serta pendekatan ilmiah.
- Pembuatan papan cerita atau menulis naskah. Papan cerita merupakan suatu alat untuk merencanakan penyajian visual dan audiovisual. Papan cerita menawarkan suatu cara untuk mengatur apa yang akan kita pertunjukkan kepada peserta didik dan apa yang akan kita ceritakan kepada mereka. Papan cerita merupakan urutan dari panel gambar, di mana setiap panel atau susunan kerangka papan cerita menggambarkan titik kunci dalam materi
visual yang diusulkan. Gambar-gambar umumnya berupa sketsa atau gambar jadi, tetapi dapat juga berupa foto. Gambar-gambar dapat diperbaiki, ditata kembali, atau dihilangkan sampai ditemukan suatu cerita visual yang kuat dan memikat.
Jika papan cerita sudah selesai, maka ini menjadi suatu rencana gambar utama (master) dari yang program video/film kita usulkan dan merupakan suatu alat penilaian untuk memeriksa kesalahan (yang mungkin masih ada ), sebelum benar-benar diproduksi. Untuk menyiapkan papan cerita ini, gunakan tiga pertimbangan berikut ini.
-
a) Kesederhanaan atau mudah dibaca
Mudah dibaca dan sederhana berlaku, terutama untuk slide kata-kata atau grafik. Perbedaan yang baik antara bentuk tulisan dan latar belakang serta ukuran huruf yang tepat adalah faktor yang amat penting untuk bacaan yang menyenangkan. Secara umum, ukuran huruf minimum adalah seperlima belas dari ukuran layar.
-
b) Kontinuitas gambar atau foto
Kontinuitas gambar yang tepat akan menghasilkan urutan yang jelas dan logis. Pengambilan gambar yang standar meliputi pengambilan gambar jarak jauh (GJJ), pengambilan gambar jarak sedang (GJS), dan pengambilan gambar jarak dekat (GJD). Setiap gambar dapat berdiri sendiri, tetapi apabila mengambil gambar suatu subjek yang disusun dengan cara tertentu, gambar-gambar itu membentuk suatu
urutan dan dapat menceritakan suatu cerita. Dari
GJJ (pengambilan gambar yang tetap) ke GJS (untuk menunjukkan subjek dan tandanya yang dekat), kemudian ke GJD (untuk memperbesar subjek yang didiskusikan dalam narasi) adalah suatu pembuktian kemajuan untuk memelihara kontinuitas gambar. Aspek lain dari kontinuitas gambar adalah arah layar. Jika subjek terlihat berhadapan atau berjalan pada arah tertentu dalam gambar pertama, maka pada keseluruhan sesudahnya, ia harus berhadapan atau berjalan pada arah yang sama. Orientasi, lintasan gerak, atau tindakan harus dilestarikan untuk memelihara kontinuitas dan alur yang logis.
-
c) Kesesuaian untuk dilihat atau didengar
Secara sederhana, maksud dari pernyataan ini adalah apa yang dilihat di layar dan apa yang didengar dari narator tidak boleh saling mendahului atau berten tangan, tetapi saling melengkapi untuk menghasil kan pengaruh yang saling berkaitan. Narasi harus dirancang sedemikian rupa, sehingga keterkaitan nya dari sesuatu yang visual (terlihat dalam gambar) tampak nyata pada saat pertama kali dimunculkan. Selain itu, gambar harus dijaga agar sesuai dengan lamanya waktu narasi yang berkenaan dengan hal itu. Lantas, berapa banyak tulisan yang baik untuk ditampilkan? Secara umum, rata-rata adalah 8 detik per visual. Namun, melihat kenyataan bahwa kita berbicara 3 kata per detik, maka jumlah 24 kata un tuk suatu penayangan mungkin sudah tepat.
9) Penyiapan jadwal pengambilan gambar rekaman, penyuntingan, dan sebagainya.
- Fase Produksi
Fase ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1) Pengambilan gambar dan grafik.
2) Perekaman narasi dan efek.
3) Sinkronisasi atau penyuntingan.
-
Fase Kegiatan Tindak Lanjut
Fase ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
- Penyiapan cara menggunakan atau petunjuk bagi pemakai atau pendidik.
- Penilaian program. Untuk menilai program, secara sederhana kegiatannya adalah menerjemahkan tu juan-tujuan ke dalam instrumen-instrumen evalu asi. Penilaian atau evaluasi dilakukan terhadap isi atau materi serta strategi yang digunakan dalam menyusun program (belum mengenai tingkat keefektifan media).
-
Fase Penilaian dan Kesimpulan
Fase ini merupakan bagian paling akhir dari suatu proses produksi bahan ajar video atau film. Dalam fase terakhir inilah, video atau film dievaluasi ulang untuk penyempurnaan, baru kemudian masuk ke kesimpulan. Kesimpulan di sini merupakan rangkuman inti sari dari bahan video atau film yang dibuat.
-
Beberapa Contoh Perangkat dalam Produksi Video atau Film
Berikut ini disajikan contoh-contoh penyusunan perangkat yang terkait dengan produksi bahan ajar video/ film, seperti papan cerita, catatan sebelum produksi, per mintaan produksi, dan daftar petugas atau personel.”
- Papan Cerita
Tempat: Ruangan Kantor Adegan I
| Visual | Narasi | ||
| Judul: | Langkah 1: Persiapan(2 detik) | ||
| Fade to: | Toto sedang menulis di meja, dan Heri berjalan mendekatinya. | Heri: | To…ada masalah nih/Dapat kita bicara sebentar |
| (MS yang sedang bekerja diambil sedekat mungkin, MS Medium Shots atau GJS) | Toto: | Ada apa: Her? | |
| Heri: | Minggu depan Agus gabti giliran / dari pukul 8.30 jadi pukul 5.30, ari mengganti dari pukul 8 hingga pukul 5. | ||
| Toto ingin kelihatan ingin tahu | Toto: | Ya, apa agus menemuimu? | |
| Heri: | He-eh / eh . Ari kan belum cupup senior? | ||
| Toto: | Ya.Biar kulihat dulu jadwalnya. Kita bicarakan lagi nanti / setelah makan siang | ||
| Toto terhenti sejenak menoleh ke pegawainya | Toto: | Sebentar/ Ani / apa ruang rapat bisa dipakai siang ini? | |
| Cut ke Ani , Ani mengambil jadwal , melihat halamanya | Ani: | Sebentar / ya / Kosong sepanjang siang | |
| Toto: | Bagus/ Saya nanti ada di sana dengan Heri / Kita ketemu di sana setelah makan siang/Saya bawakan jadwal baru dan jadwal sebelumnya. OK? | ||
| Sewaktu berhenti bicara, Toto berpaling ke Heri. Heri tersenyum, berputar, lalu pergi. Toto mencatat di buku jadwal kerjanya. | |||
| (Zoom to Cu) (Cu = Close-up) atau GJD | Heri: | OK sampai nanti | |
Demikian referensi buku dengan judul Bab 10 Video Bahan Ajar membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin Ruang Buku.
