RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Bagian 1: Asesmen dalam Konseling.
Asesmen dalam konseling biasanya berjalan bersamaan dengan proses konseling itu sendiri. Tidak jarang selama proses konseling juga dilakukan asesmen sehingga terkadang sangat sulit membedakan antara asesmen dan konseling.
Melakukan asesmen (dikutip dari Lubis, 2011) terhadap masalah yang dialami klien merupakan hal yang sangat penting dalam suatu proses konseling. Konselor harus teliti dalam melakukan asesmen, hal ini karena kesalahan yang dilakukan konselor akan memberikan dampak negatif pada kliennya. Adakalanya karena sikap terburu-buru yang dimunculkan konselor, asesmen menjadi tidak produktif. Alih alih ingin membuat klien kembali berfungsi normal secepatnya, konselor malah tidak menemukan inti masalah klien yang sebenarnya.. Ini terjadi karena konselor terlalu cepat melakukan asesmen yang disandarkan hanya pada kesimpulan pemikirannya sendiri.
Asesmen dalam konseling bersifat fleksibel, artinya tidak ada batas waktu yang kaku bagi konselor dalam melakukan asesmen. Dalam hal ini, sebaiknya konselor mempertimbangkan tentang apakah permasalahan klien telah terungkap atau masih kurang jelas (samar). Apabila semua informasi telah mencukupi baik informasi yang diperoleh dari klien sendiri (auto-anamnesis) maupun dari pihak lain (alloanamnesis) dan konselor telah memahami secara keseluruhan permasalahan yang dialami klien, maka asesmen dapat dilakukan. Tetapi apabila informasi yang diperoleh belum akurat, melakukan asesmen hanya akan membuat kesimpulan yang akan mengacaukan proses konseling.
Menurut Hakney dan Cormier yang mengambil tulisan Seligman (dikutip dari Lesmana, 2005), ada 12 tujuan asesmen, yaitu:
- Melancarkan proses pengumpulan informasi.
- Memungkinkan konselor membuat diagnosis yang tepat.
- Mengembangkan rencana tindakan yang efektif.
- Menentukan tepat atau tidaknya klien menjalani rencana tertentu.
- Menyederhanakan pencapaian sasaran dan pengukuran kemajuan
- Meningkatkan wawasan insight mengenai diri klien.
- Mampu menilai lingkungan.
- Meningkatkan proses konseling dan diskusi yang lebih terfokus dan relevan.
- Mengindikasi kemungkinan peristiwa tertentu akan terjadi, misalnya sukses dalam usaha okupasional atau akademik.
- Meningkatkan minat, kemampuan, dan dimensi kepribadian.
- Menghasilkan pilihan-pilihan.
- Memfasilitasi perencanaan dan pembuatan keputusan.
Asesmen yang dilakukan oleh konselor akan memberikan efek pada diri klien. Hakney dan Cormier (dikutip dari Laksmana, 2005) menyebutkan bahwa ada dua efek yang akan timbul yaitu efek positif dan efek negatif. Efek positif dari asesmen, antara lain:
- Klien merasa bahwa konselor memahami masalahnya.
- Menimbulkan perasaan lega pada diri klien.
- Klien merasa memiliki pengharapan.
- Klien termotivasi melakukan perubahan yang diperlukan.
Sementara efek negatif yang dapat terjadi adalah:
- Timbulnya kecemasaan dalam diri klien.
- Klien merasa diintrogasi.
- Klien merasa dievaluasi dan bertanya-tanya bagaimana keadaan dirinya. Apakah dia bodoh, gila, atau adakah hal yang salah pada dirinya.
Apapun konsekuensinya, baik positif atau negatif, asesmen wajib dilakukan. Jangan dikarenakan konselor takut klien akan bertambah tertekan karena asesmen yang dilakukan, konselor meniadakan asesmen akan mengganggu keefektifan sebuah proses konseling.
Aspek Asesmen dalam konsisten
Hackney dan Cornier (dikutip dari Lesmana, 2005) mengatakan bahwa aspek-aspek asesmen dalam konseling, yaitu intake interview riwayat hidup dan definisi masalah.
Intake Interview Riwayat Hidup
Intake interview adalah wawancara yang dilakukan konselor terhadap klien atau orang terdekat klien yang dilakukan sebelum proses konseling dimulai. Adapun yang termasuk dalam intake inter
view adalah:
Identitas Klien
Nama :
Jenis Kelamin :
Tempat, Tgl. Lahir :
Status Pernikahan :
Pekerjaan :
Alamat Rumah :
No. Telephone :
Berdasarkan data identifikasi ini, konselor dapat pula mengetahui bagaimana latar belakang kehidupan ekonomi dan status sosialnya di masyarakat.
Riwayat Pribadi
- Riwayat medis: apakah klien pernah mengidap penyakit tertentu yang menganggu aspek psikisnya, atau apakah klien memiliki cacat fisik.
- Riwayat pendidikan: mulai dari klien mengikuti pendidikan formal sampai selesai. Riwayat pekerjaan: hubungan dengan rekan kerja,
- kondisi tempat kerja secara umum dan beberapa kali pindah kerja. Riwayat seksual dan pernikahan: Apakah sudah berkeluarga? Bagaimana hubungan dengan pasangan saat ini? Alasan menikah?
Tatanan Klien Saat Ini
Hal yang diungkap setelah mengetahui riwayat pribadi klien adalah mengenai kondisi kehidupan klien saat ini. Pertanyaan yang sering kali muncul dalam wawancara adalah:
- Bagaimana klien menjalani hari-harinya?
- Bagaimana kehidupan beragama klien?
- Apa yang klien lakukan di hari santainya?
- Dimana klien sering menghabiskan waktunya?
Riwayat Keluarga
Keluarga adalah orang-orang yang paling memiliki hubungan dekat dengan klien. Untuk itu gambaran mengenai keadaan keluarga klien harus pula diungkap dalam intake interview. Hal hal yang perlu diketahui adalah:
- Usia orangtua, pekerjaan, deskripsi kepribadian orangtua, hubungan ayah dan ibu, peranan orangtua dalam keluarga, hubungan klien dengan orangtua.
- Bagaimana hubungan klien dengan saudara-saudaranya.
- Deskripsi kehidupan keluarga.
Beberapa klien menghadapi permasalahan karena hubungannya dengan keluarga. Untuk itu memahami keadaan keluarga klien secara keseluruhan akan memudahkan konselor menemukan insight dalam menangani klien.
Penyampaian Masalah oleh Klien
Penyampaian masalah oleh klien adalah hal terakhir sekaligus hal pokok yang diungkap dalam intake interview. Walaupun terkadang klien masih kurang jelas menyampaikan apa yang menjadi masalahnya, tidak menutup kemungkinan seorang konselor dapat menangkap inti masalah klien yang sebenarnya. Hal-hal yang diperoleh di sini adalah:
- Bagaimana klien menyikapi masalah yang dihadapinya?
- Sejauh mana masalah ini mengganggu aktivitas klien?
- Bagaimana intensitas kemunculannya?
- Sejak kapan dan sudah berapa lama masalah ini dirasakan klien?
- Bagaimana proses berkembangnya masalah?
- Apa yang membuat klien bersedia menjalani konseling?
Selain intake interview yang dilakukan oleh konselor terhadap klien untuk menggali riwayat hidupnya, maka hal penting lainnya yang harus dilakukan konselor adalah melakukan observasi.
Observasi adalah pengamatan terhadap diri klien berdasarkan fisik yang terlihat dari luar. Lesmana (2005) menyebutkan bahwa hal-hal yang perlu diobservasi dari klien adalah: penampilan fisik klien, pakaian, sikap tubuh, ekspresi wajah, kualitas suara, cara klien menjawab saat diinterview, jarak duduk, dan pasivitas. Melalui observasi, seorang konselor akan memperoleh tentang kualitas diri klien seperti: bagaimana perbendaharaan kata klien? Bagaimana kemampuan abstraksi klien? Bagaimana alur berpikirnya? Apakah klien berpikir secara realistis? Bagaimana dengan kesinambungan pembicaraan?
Definisi Masalah
Setelah intake interview dilakukan, maka konselor harus melihat definisi masalah klien. Pendefenisian masalah adalah tahapan eksplorasi masalah dilakukan. Defenisi masalah bukanlah apa yang disampaikan klien pada saat intake interview, tetapi masalah-masalah yang diungkapkan klien setelah konselor melakukan eksplorasi. Konselor harus benar-benar jeli menangkap pesan masalah sebenarnya dari klien, bukan apa yang klien nyatakan ketika wawancara. Misalnya, pada klien yang mengeluhkan bahwa dirinya tidak percaya diri. Konselor harus benar-benar memahami makna dari “tidak percaya. diri’ bagi klien. Apakah dia memaknai tidak percaya diri karena tidak terbiasa tampil di depan umum atau jarang berinteraksi dengan orang lain? atau apakah klien memaknai tidak percaya diri karena kekurangan fisiknya? Hal-hal seperti inilah yang menuntut kecermatan dari seorang konselor. Apabila dia gagal memaknai keluhan klien dari sudut pandang klien sendiri, maka konselor akan menemui hambatan dalam alternatif dan strategi yang akan digunakan dalam proses konseling.
Menurut Hakney dan Cormier (dikutip dari Lesmana, 2005) ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika seorang konselor ingin mengekplorasi masalah kliennya. Hal tersebut adalah : Apa yang menjadi unsur masalah klien? Bagaimana pola peristiwa masalah itu terjadi? Berapa masalah dialami? dan Bagaimana keterampilan klien menangani masalahnya? Berikut ini penjelasannya.
Unsur Masalah Klien
Unsur-unsur masalah klien dapat berasal dari pikiran, perasaan, tingkah laku, keluhan fisik, dan hubungan interpersonal. Dalam hal ini Hakney dan Cormier mengemukakan cara-cara masalah. termanifestasi dalam diri klien:
- Perasaan-perasaan yang dihubungkan dengan masalah (misalnya: klien menjadi bingung. Takut, gelisah, deperesi, dan marah)
- Kognisi yang dihubungkan dengan masalah (termasuk pikiran, persepsi, dan self-talk)
- Tingkah laku yang dihubungkan dengan masalah tingkah laku lebih bersifat nyata/tampak oleh konselor)
- Keluhan fisik dan somatic yang dihubungkan dengan masalah
- Aspek interpersonal dan masalah (efek masalah terhadap orang di sekitar klien).
Pola Peristiwa
- Hal-hal yang perlu dieksplorasi dari pola peristiwa ini misalnya:
- Kapan masalah terjadi? Dimana dan dengan siapa?
- Apa yang terjadi sebelum masalah muncul?
- Apa yang terjadi saat masalah muncul?
- Apa yang terjadi setelah masalah muncul?
- Apa yang membuat masalah membaik atau menghilang?
- Apa yang membuat masalah semakin buruk?
Lamanya Masalah
Hal-hal yang perlu dieksplorasi dalam hal ini adalah:
- Sudah berapa lama masalah ini terjadi?
- Seberapa sering masalah ini terjadi?
- Berapa lama jangka waktu penyelesaiannya jika masalah ini terjadi?
Keterampilan Klien Menangani Masalahnya
Hal ini berkaitan dengan cara-cara klien untuk mengatasi masalah masalahnya. Konselor harus dapat menggalinya semaksimal mungkin agar dapat diketahui sejauh mana kemampuan klien mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain yang perlu dieksplorasi dalam hal ini adalah:
- Bagaimana cara klien menanggulangi masalahnya selama ini?
- Apakah klien pernah berhasil mengatasi masalahnya?
- Kekuatan dan dukungan apa saja yang membantu klien menghadapi masalahnya?
- Bagaimana pandangan klien terhadap lingkungan sekitarnya?
- Apakah klien menggunakan nilai-nilai agama untuk menyelesaikan masalahnya?
Selain hal-hal yang telah dikemukakan di atas, Hackey dan Cormier (dikutip dari lesmana, 2005) juga menyarankan perlunya menggunakan alternatif lain seperti menggunakan tes-tes psikologi dan self-rating (penilaian diri sendiri). Efek lingkungan yang tidak kondusif juga merupakan salah satu poin yang menimbulkan masalah bagi klien. Sebagai contoh: bencana tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 yang memakan banyak korban jiwa. Masyarakat yang masih hidup merasakan penderitaan yang luar biasa. Mereka harus kehilangan anggota keluarga, harta, dan tempat tinggal. Permasalahan ini bukan datang dari dalam diri individu, tetapi berasal dari lingkungan yang akhirnya menimbulkan masalah bagi klien.
Demikian referensi buku ajar dengan judul Bagian 1: Asesmen dalam Konseling, apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
Sumber: Anwar, Z. (2014). Praktik Konseling. Malang: UMM Press.
