RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Prinsip Emansipatoris dalam Proses Penulisan (3).
5. METODE PENELITIAN DAN MODEL PENELITIAN
Istilah “metode” tentu berbeda dari istilah “metodologi”. Metode adalah suatu cara, jalan, petunjuk pelaksanaan, atau petunjuk praktis suatu penelitian dilakukan.
Kita ternyata masih kerap mencampuradukkan pengertian metode analisis data dengan metode pelaksanaan penelitian. Itu sebabnya, agar tidak membingungkan, metode pelaksanaan penelitian akan disebut “metode penelitian” dan metode analisis data akan disebut “teknik penelitian” (lihat lagi: butir “4”). Di dalam buku ajar, sebagaimana telah disinggung, kita memang tidak perlu membeberkan teknik penelitian yang kita lakukan, sepanjang tidak relevan dan tidak perlu. Akan tetapi, metode penelitian ternyata tidak perlu pula dideskripsikan secara panjang-lebar, mengingat metode penelitian “hanyalah” petunjuk praktis, yang telah diandaikan relevan dan tepat, untuk menuntun si penulisnya ketika menjawab masalah yang dirumuskannya atau ketika menguji hipotesis yang disusunnya.
Dengan demikian, yang patut dicatat adalah perbedaan mendasar antara metode penelitian dan teknik penelitian. Pasalnya, suatu penelitian yang dilatarbelakangi paradigma suatu metode tertentu akan menentukan suatu model penelitian tertentu juga. Pada gilirannya, model ini akan menentukan teknik penelitiannya (Kaelan, 2005). Kita ambil contoh metode penelitian kualitatif, yang kerap digunakan dalam ilmu sosial dan ilmu humaniora. Sesuai dengan paradigmanya, metode ini memiliki pelbagai macam model yang dapat kita pilih, seperti model studi kasus, model studi pustaka, model eksperimental, model analitis, model tindak tutur komunikasi, atau model grounded research. Pilihan terhadap model-model ini kemudian akan menentukan teknik penelitiannya sehubungan dengan instrumen atau alat yang digunakan dalam melaksanakan penelitian. Akan tetapi, instrumen di dalam teknik penelitian kualitatif tidak dibakukan sebagaimana teknik penelitian kuantitatif, sekalipun tetap sistematis dan objektif. Bertalian dengan hal ini, tidak berlebihan jika jenis penelitian kualitatif dikatakan berparadigma kritis, karena penelitinya dituntut (a) memiliki daya analitis yang kritis, (b) mampu menghindari bias, misalnya tidak mencampuradukkan antara hipotesis dan perumusan masalah, (c) memiliki ketajaman naluri untuk memeroleh data yang absah (trustworthiness), dan (d) mampu berpikir secara abstrak, berpikir yang belum ada wujudnya, dalam rangka membangun kecakapan interaksi kritisnya melalui deskripsi (Wibowo, 2009; bdk. Kaelan, 2005: Moleong, 2006).
Dalam penegasan lain, paradigma suatu metode penelitian akan memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian dilakukan. Urut-urutan ini tentulah membutuhkan prosedur atau model penelitian. Agar prosedur atau model tersebut dapat bekerja, dibutuhkan teknik penelitian berupa penetapan alat apa saja. Akan tetapi, patut dikemukakan bahwa apa pun paradigma yang kita yakini, temuan-temuan kita di dalam buku ajar kita harus tetap memfokus pada temuan temuan empiris, dengan maksud agar substansi buku ajar kita tidak menjadi “justifikasi” belaka terhadap teori-teori yang telah ada. Hadirkanlah suasana keindonesiaan di dalam buku ajar kita.
Menghadirkan suasana keindonesiaan, selain mencermin kan emansipatorisme buku ajar kita, juga membuktikan bahwa ilmu memang memiliki dua karakter, yaitu general dan sekaligus spesifik. Dikatakan general, mengingat teori-teori yang digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena harus dapat diverifikasi, difalsifikasi, dan sekaligus dapat diterima oleh masyarakat akademis. Sementara itu, dikatakan spesifik karena teori-teori yang digunakan harus dapat diaplikasikan untuk menjelaskan kecenderungan fenomena tertentu dalam masyarakat.
6. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Analisis pada hakikatnya adalah proses mengatur urutan data atau proses pemetaan data sebagai hasil pengumpulan data ke dalam suatu pola terorganisasi.
Dalam ucapan lain, analisis adalah proses mengategorikan. mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menyajikan data melalui suatu metode, model, dan teknik penelitian yang relevan, yang sesuai dengan paradigma penelitian si peneliti.
Di dalam buku ajar, analisis diupayakan berwujud uraian atau narasi yang deskriptif sehubungan dengan rancangan analisis data. Itu sebabnya, analisis di dalam penelitian kuantitatif pada umumnya berupa uraian argumentatif tentang pengujian hipotesis berdasarkan teori-teori yang digunakan. Uraian hasil uji hipotesis ini, karena menggunakan angka-angka sering kali dibantu oleh grafik, bagan, atau tabel. Sementara itu, analisis di dalam penelitian kualitatif pada umumnya berupa uraian atau narasi yang argumentatif berkenaan dengan perumusan masalah. Perlu disinggung lagi, data yang (dianggap) cukup di dalam peneletian kualitatif tidak ditentukan oleh sedikit banyaknya data yang dikumpulkan, tetapi bagaimana esensi data tersebut dapat dirumuskan ke dalam suatu kontruksi narasi deskriptif yang sistematis, teoretis, dan logis sebagaimana tercermin dalam perumusan masalah dan tujuan penelitian.
Langkah analisis berikutnya adalah pembahasan, yakni upaya si peneliti dalam memberikan makna pada hasil analisisnya dengan berpijak pada teori dan metode lain yang relevan. Dalam penegasan lain, pembahasan menampilkan upaya si penelitinya dalam menjelaskan pola atau kategori sebagai hasil analisis, kemudian mencari hubungan antara pelbagai konsep yang muncul, lalu mempertalikannya dengan teori.
Pada hakikatnya, pembahasan mencerminkan kecendekia an peneliti, karena hal-hal berikut ini (a) kelogisan argumentasi peneliti dalam menjelaskan pola atau kategorinya: (b) kemanfaatan tafsiran peneliti sehubungan dengan penjelasan pola atau kategorinya; dan (c) penyajian atau pendeskripsian pendapat peneliti melalui paragraf yang baik (lihat: Wibowo, 2010).
7. HASIL PEMBAHASAN
Hasil pembahasan, atau hasil penelitian, merupakan cerminan hasil diskusi dan hasil penafsiran si peneliti. Hasil pembahasan juga memperlihatkan kepiawaian si peneliti dalam merelevansikan hasil analisisnya dengan kondisi terkini, sehingga hasil pembahasannya itu juga disebut sebagai “temuan terbaru”.
Perelevansian hasil analisis dengan kondisi terkini dapat pula dilakukan melalui sejumlah metode yang sesuai, sudah dikenal umum, dan dapat dipilih, misalnya metode interpretasi, metode hermeneutika, metode analitika bahasa, metode historis, metode abstraksi, atau metode heuristika. Oleh karena itu, hasil pembahasan harus didukung oleh deskripsi yang naratif, yang dipijakkan dari pendapat sendiri, mengingat di situlah akan terungkap “penemuan” si peneliti.
Dalam ungkapan lain, hasil pembahasan di dalam buku ajar “mendiskusikan” pertanyaan-pertanyaan penelitian (bertolak dari pembahasan). Hasil diskusi tersebut dapat ditafsirkan melalui pertaliannya dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, sehingga secara eklektik (memadukan) atau heuristik (menemukan jalan baru) dimungkinkan dimunculkan suatu penemuan baru yang relevan dengan kondisi Indonesia terkini. Implikasi dari hal ini, hasil pembahasan juga dapat mengungkapkan keterkaitannya dengan bidang-bidang lain atau cabang-cabang keilmuan lain yang relevan sebagai penguat penemuan si peneliti.
Di dalam hasil pembahasan inilah otoritas keilmuan si penulis buku ajar akan tampak. Apalagi, pembaca pada dasarnya cenderung menantikan hasil pembahasan ini, karena menyiratkan pertanyaan, “apakah yang ditemukan si peneliti?”
8. SIMPULAN
Simpulan, atau hasil menyimpulkan, diupayakan mengacu pada temuan-temuan empirik kita di dalam pembahasan dan hasil pembahasan, sehubungan dengan hipotesis atau perumusan masalah. Simpulan, dengan demikian, bukan uraian tentang sesuatu yang tidak kita teliti.
Di dalam buku ajar, simpulan bisa saja bersifat “sangat lokal”, alias empirik, misalnya penelitian yang menyimpulkan perilaku anggota DPR di Kota Depok, atau penelitian yang menyimpulkan bahwa warung kopi di pinggir jalan di sepanjang Jalan Margonda, Kota Depok, cenderung bermetamorfosis seperti coffee shop di mal-mal. Akan tetapi, hal ini tidak akan mengurangi kadar keilmiahannya sepanjang pembahasan dan hasil pembahasannya dilakukan dengan tajam, mendalam, dan komprehensif. Oleh karena itu, ciri-ciri simpulan adalah inferensi, deduksi, abstraksi, implikasi, interpretasi, pernyataan umum, atau perampatan berdasarkan temuan (Achmadi, 2006). Di sisi hal ini, simpulan merujuk pada populasi atau konteks tertentu, sehingga tidak berlaku universal. Patut pula diperhatikan, simpulan harus disusun berdasarkan fakta dan harus diungkapkan secara tegas tanpa membubuhinya dengan kata-kata “mungkin”, “kiranya”, atau “tampaknya”.
Penulis simpulan berikut ini agaknya “enggan” memperlihatkan temuan-temuan empirik penelitiannya secara langsung.
| Era globalisasi dan era kebebasan informasi, terjadinya kesenjangan informasi, dan dikotomi informasi, antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin akan lebih terasa. Hal ini bisa dikurangi dengan munculnya kelompok-kelompok informasi masyarakat dan forum forum informasi. Khususnya masyarakat pinggiran lebih-lebih di pedesaan yang agak jauh dari pusat kota (sumber: Ropingan, “Peran KIM dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Lombok Barat”, Jurnal KomMti, Vol.1, No.3, 2007; h.217). |
Demikian referensi buku ajar dengan judul Prinsip Emansipatoris dalam Proses Penulisan (3) apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
