RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini Bab 1 SAATNYA MEMBUAT BAHAN AJAR INOVATIF(1)
SAATNYA MEMBUAT BAHAN AJAR INOVATIF(1)
- Dari Bahan Ajar Konvensional ke Bahan Ajar Inovatif
Kapan lagi pendidikan kita akan maju jika para pendidik sudah mengalami kemiskinan motivasi untuk mengembangkan diri? Pengembangan diri sangat pen ting, tidak hanya pada aspek fisik semata, seperti peningkatan jenjang pendidikan, banyaknya sertifikat pelatihan, ataupun sertifikat profesi pendidik (sebagai tanda atau bukti BAB pendidik profesional). Akan tetapi, pengembangan diri mestinya juga merambah hingga pada ranah nonfisik, meliputi cara pandang, paradigma berpikir, sikap, kebiasaan, profesionalisme, maupun perilaku dalam mengajar. Pengembangan diri yang disebut terakhir inilah yakni perilaku dalam mengajar-yang tampak masih kurang berkembang dalam diri pendidik kita saat ini
Dampak dari kemiskinan pengembangan diri itu adalah banyak pendidik, baik guru maupun dosen, yang tidak mampu menyelenggarakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Keadaan ini salah satunya tidak terlepas dari kurang dikembangkannya bahan ajar yang inovatif. Para pendidik pada umumnya hanya menyediakan bahan ajar yang monoton, pokoknya yang sudah tersedia dan tinggal pakai, serta tidak perlu harus bersusah payah membuatnya. Sehingga, pada akhirnya, yang harus menjadi korban adalah para peserta didik. Peserta didik akan merasa bosan mengikuti proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi tidak efektif dan efisien.
Para pendidik tampaknya kurang mengembangkan kreativitas mereka untuk merencanakan, menyiapkan, dan membuat bahan ajar secara matang yang kaya inovasi sehingga menarik bagi peserta didik. Ini tentu menjadi persoalan serius, persoalan yang tidak sekadar bisa dipecahkan dalam dataran wacana semata, namun harus ada aksi nyata guna mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya, para pendidik perlu membangun kreativitas mereka sendiri agar mampu membuat bahan ajar yang inovatif.
Selama ini, paradigma dan persepsi umum yang melekat di kalangan para pendidik adalah membuat bahan ajar merupakan pekerjaan yang sulit dan membuat stres. Belum lagi, pekerjaan ini memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Bahkan, terkadang harus mengorbankan waktu santai dengan mesti duduk di depan layar komputer ataupun bergelut dengan beraneka
ragam bahan untuk membuat bahan ajar yang inovatif. Ini semua adalah persepsi yang keliru dan harus diluruskan.
Lalu, bagaimana cara meluruskan persepsi itu? Sebenarnya, caranya tidaklah sulit. Membuat bahan ajar yang inovatif merupakan hal yang mudah, me nyenangkan, tidak memerlukan waktu yang lama, bah kan bisa mendatangkan banyak uang. Kuncinya yang pertama dan utama adalah mengendalikan faktor internal dalam diri kita. Kita harus mampu menguasai diri. Kita harus bisa membongkar segala persepsi dan paradigma kita yang keliru tentang pembuatan bahan ajar. Kita harus dapat berpikir secara positif mengenai potensi diri kita. Kemudian, kita ubah segala persepsi kita tentang halangan dan hambatan menjadi peluang serta tantangan yang harus dihadapi dan dilakukan. Ini semua adalah cara yang efektif untuk mengubah diri menjadi pribadi yang berkualitas dan cerdas.
Setelah faktor internal berhasil dikuasai, dikendalikan, dan diluruskan, maka faktor eksternal akan jauh lebih mudah untuk dikuasai. Kita hanya perlu mempelajari tentang apa itu bahan ajar, apa saja unsur-unsurnya, serta bagaimana strukturnya, cara penyusunannya, dan cara pengembangannya, maka kita sudah mampu menjadi pendidik yang kreatif membuat bahan ajar inovatif.
Setelah memahami realitas dan persoalan tersebut, maka kita sekarang dapat memahami problematika yang dihadapi pendidik dalam membuat bahan ajar yang inovatif. Untuk memecahkan problem ini, tentu tidak cukup jika hanya dijelaskan dalam satu atau dua bab saja. Namun, hal ini perlu penjelasan yang panjang dan lebar
Oleh karena itu, dibutuhkan penjelasan dalam satu buku yang komplet, seperti buku yang ada di tangan Anda sekarang ini.
Pertama-tama, yang harus kita pahami adalah apa itu bahan ajar. Jangan sampai kita sudah bicara panjang lebar mengenai bahan ajar, tetapi kita malah belum paham dengan pengertian, definisi, ataupun batasan mengenai bahan ajar itu sendiri. Jadi, pembahasan mengenai pengertian bahan ajar adalah sebuah persoalan pokok yang tidak bisa dikesampingkan dalam satu kesatuan pembahasan yang utuh tentang cara pembuatan bahan ajar.
Untuk memahami maksud bahan ajar, kita dapat menelusuri pandangan dari beberapa ahli tentang pengertian istilah tersebut. Menurut National Centre for Competency Based Training (2007), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Bahan yang berupa bahan tertulis maupun tak tertulis. Pandangan dari ahli lainnya mengatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang di susun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar.
Kemudian, ada pula yang berpendapat bahwa bahan ajar adalah informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru atau instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Pandangan-pandangan tersebut juga dilengkapi oleh Pannen (2001) yang mengungkapkan bahwa bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Dari sumber lain dalam website dikmenjur. net, diperoleh pengertian yang lebih aplikatif bahwa bahan ajar atau materi ajar merupakan seperangkat materi atau substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
Dari beberapa pandangan mengenai pengertian bahan ajar tersebut, dapat kita pahami bahwa bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pem belajaran. Misalnya, buku pelajaran, modul, handout, LKS, model atau maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif, dan sebagainya.
Dan, dari pengertian-pengertian tersebut, setidaknya kita sekarang tahu bahwa jika buku atau program audio, video, serta komputer berisi materi pelajaran yang “dengan sengaja” dirancang secara sistematis, walaupun dijual di pasaran bebas, maka bahan-bahan ini dapat dinamakan
bahan ajar. Namun, jika tidak dirancang secara sistematis, maka kita tidak bisa menyebutnya sebagai bahan ajar, walaupun bahan-bahan ini mengandung materi pelajaran. Itulah letak perbedaan antara materi ajar dan yang bukan bahan ajar.
Sementara itu, dalam realitas pendidikan di lapangan, kita lihat banyak pendidik yang masih menggunakan bahan ajar yang konvensional, yaitu bahan ajar yang tinggal pakai, tinggal beli, instan, serta tanpa upaya merencanakan, menyiapkan, dan menyusunnya sendiri. Dengan demikian, risikonya sangat dimungkinkan jika bahan ajar yang mereka pakai itu tidak kontekstual, tidak menarik, monoton, dan tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Bentuk-bentuk bahan ajar konvensional biasanya seperti buku-buku teks pelajaran yang diperjualbelikan di toko-toko buku, buku sumbangan dari Pemerintah, dan/atau LKS yang dibeli melalui para penyalur yang sering datang ke sekolah-sekolah.
Namun, kita tentu tahu bahwa pembelajaran yang menarik, efektif, dan efisien membutuhkan bahan ajar yang tidak cukup hanya seperti itu. Seorang pendidik dituntut kreativitasnya untuk mampu menyusun bahan ajar yang inovatif, variatif, menarik, kontekstual, dan sesuai dengan tingkat kebutuhan peserta didik. Tentunya, yang paling paham mengenai hal ini adalah pendidik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Maka dari itu, ketika bahan ajar dibuat oleh pendidik, pembelajaran bakal menjadi lebih menarik dan mengesankan bagi peserta didik. Selain itu, kegiatan pembelajaran pun tidak membosankan dan tidak menjemukan. Dengan kondisi
pembelajaran yang menyenangkan, secara otomatis dapat memicu terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Akan tetapi, sayang sekali karena hal seperti itu jarang dilakukan oleh sebagian besar pendidik di negeri ini. Oleh Karena itu hal yang lumrah jika pendidikan kita masih rendah kualitasnya dan jauh dari harapan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, kita mengambil kesimpulan bahwa perbedaan implikasi antara penggunaan bahan ajar konvensional dan bahan ajar inovatif dalam proses pembelajaran sangat signifikan. Mutu pembelajaran menjadi rendah ketika pendidik hanya terpaku pada bahan-bahan ajar yang konvensional tanpa ada kreativitas untuk mengembangkan bahan ajar tersebut secara inovatif.
Namun, berbeda halnya jika kita mempunyai ke beranian untuk melepaskan diri dari belenggu kemalasan dan mendobrak kebiasaan buruk itu dengan berupaya secara kreatif menciptakan bahan ajar sendiri yang lebih menarik, lebih variatif, dan sesuai dengan konteks sosial budaya peserta didik, maka hal ini akan menjadi upaya yang inovatif dan sangat baik. Dan, ini pulalah yang menjadi salah satu langkah penting untuk bisa memajukan kualitas pendidikan kita.
Potensi Sumber Belajar yang Melimpah
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis. Dari penggalan definisi bahan ajar tersebut, tersirat sebuah maksud bahwa bahan ajar disusun menggunakan bahan bahan dari berbagai macam sumber, seperti buku, orang (pendidik atau narasumber), pesan, lingkungan, dan lain sebagainya. Jadi, untuk menyusun sebuah bahan ajar, dibutuhkan adanya sumber bahan ajar, atau istilah yang lebih akrab di pendengaran kita yaitu sumber belajar.
Sumber belajar memiliki peran yang amat penting dalam hubungannya dengan penyusunan bahan ajar. Dari sumber belajarlah, kita dapat memperoleh berbagai macam kebutuhan bahan ajar. Untuk memahami mengenai unsur-unsur yang bisa menjadi sumber belajar, paling tidak kita harus terlebih dulu memahami maksud dari sumber belajar itu sendiri. Oleh karena itu, beberapa pandangan para ahli berikut ini kiranya dapat mengantarkan kita kepada maksud atau makna dari sumber belajar yang sebenarnya. Sehingga, kita pun nantinya dapat melihat secara nyata letak perbedaan makna sumber belajar dengan bahan ajar.
Menurut website BCED, sumber belajar didefinisikan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu peserta didik dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Untuk bentuknya tidak terbatas, apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak, ataupun kom
binasi dari berbagai format yang bisa digunakan oleh peserta didik maupun pendidik
Sedangkan menurut Sudjana dan Rivai (1989:77), sumberbelajar adalah segala daya yang dapat dimanfaatkan guna memberi kemudahan kepada seseorang dalam belajarnya. Kemudian, Anitah (2008:5) mengutarakan pengertian yang hampir sama bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk memfasilitasi kegiatan belajar. Adapun pandangan lainnya, yaitu menurut Yusuf (2010:250), bahwa segala jenis media, benda, data, fakta, ide, orang, dan lain-lain yang dapat mempermudah terjadinya proses belajar itulah yang disebut sumber belajar.
Berdasarkan beberapa pandangan mengenai makna sumber belajar tersebut, dapat kita ramu sebuah pe mahaman baru bahwa sumber belajar pada dasarnya adalah segala sesuatu (bisa berupa benda, data, fakta, ide, orang, dan lain sebagainya) yang bisa menimbulkan proses belajar. Adapun contoh sumber belajar ini antara lain buku paket, modul, LKS, realia (benda nyata yang digunakan sebagai sumber belajar), model, maket, bank, museum, kebun binatang, pasar, dan sebagainya.
Dengan demikian, dapat pula kita pahami bahwa sumber belajar itu sebetulnya sangat melimpah di sekeliling kita. Kita bisa memungut dan mengolahnya kapan saja. Kita juga bisa mendapatkannya di mana saja. Di sini, tinggal bagaimana kemauan dan kemampuan kita para pendidik-untuk memanfaatkan dan meng olahnya menjadi sebuah bahan ajar yang menarik dan inovatif. Maka, sangat disayangkan jika ada pendidik
yang kesulitan untuk menemukan sumber belajar. Sebab, jika kita pahami betul-betul maksud sumber belajar sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka kita dapat mengidentifikasi dan menemukan bahwa sumber belajar itu teramat banyak untuk dituliskan satu per satu.
Namun demikian, ada satu tempat yang biasa di jadikan rujukan untuk penyusunan bahan ajar. Di tem pat itulah telah terhimpun berbagai macam sumber belajar. Dan, di tempat itu pula, sumber belajar secara sistematis dikelola dengan baik. Apakah nama tempat itu? Jawabannya tidak lain Pusat sumber belajar meru pakan suatu tempat yang secara khusus dipersiapkan untuk menghimpun, mena ta, dan menyusun berbagai sumber belajar, sehingga kita bisa dengan mudah me nelusuri, mencari, dan mendapatkan sumber belajar yang kita butuhkan. Dan, pada umumnya, yang menjadi pusat sumber belajar selama ini adalah perpustakaan.
demikian referensi buku dengan judul Bab 1 Saatnya Membuat Bahan Ajar Inovatif (1) apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku
