RuangBuku.id – Kami melayani jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai menulis tanpa plagiat.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di indonesia saat ini menjadi dosen dengan mengajar saja tidaklah cukup. Sudah menjadi keharusan bagi seorang dosen untuk menulis buku, salah satunya buku ajar. Akantetapi saat ini para dosen merasa ketakutan dengan adanya permasalahan plagiarisme dalam penulisan buku. oleh karena itu plagiarisme menjadi salah satu hal yang penting dipahami oleh mahasiswa dan dosen, untuk menghindarkan diri dari praktik-praktik plagiat.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010, dikatakan Plagiat apabila secara sengaja atau tidak sengaja dalam penulisan suatu karya ilmiah penulis mengutip sebagian atau seluruh karya pihak lain diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat. Namun plagiarisme ini sebenarnya dapat dicegah dengan melindungi karya-karya yang sudah dibuat maupun berhati-hati saat menuliskan karya.
Plagiarisme terdapat beberapa tipe sebagai berikut ;
1. Plagiarisme Kata demi Kata (Word for word Plagiarism) penulis menggunakan kata-kata penulis lain sama persis tanpa menyebutkan sumbernya.
2. Plagiarisme atas sumber (Plagiarism of Source) Penulis tidak menyebutkan secara lengkap referensi yang digunakan. Menggunakan gagasan orang lain tanpa memberikan pengakuan yang cukup.
3. Plagiarisme Kepengarangan (Plagiarism of Authorship) Penulis mengaku sebagai pengarang karya tulis karya orang lain.
4. Self Plagiarism penulis mempublikasikan satu artikel pada lebih dari satu redaksi publikasi. Dan mendaur ulang karya tulis/ karya ilmiah. Yang penting dalam self plagiarism adalah bahwa ketika mengambil karya sendiri, maka ciptaan karya baru yang dihasilkan harus memiliki perubahan yang berarti. Artinya Karya yang lama merupakan bagian kecil dari karya baru yang dihasilkan.
Selain itu, menurut Hong Jin Young, seorang penyanyi trot asal Korea Selatan, menjadi sorotan media pada tahun 2020 karena isu plagiarisme. Berita ini diangkat surat kabar Kukmin Ilbo setelah informan mereka menguji tesis S2 Hong Jin Young menggunakan Copy Killer, sebuah situs pemeriksaan plagiarisme. Menurut informan tersebut, ternyata sekitar 74% isi tesis tersebut adalah hasil plagiarisme. Pada akhirnya, Hong Jin Young meminta maaf dan mengakui tuduhan tersebut. Ia juga setuju bahwa gelar S2 dan PhD-nya bisa dicabut sebagai konsekuensi dari aksi plagiarisme ini.
Dari berita di atas, sudah jelas bahwa plagiarisme di dalam dunia akademik bukanlah pelanggaran yang dianggap ringan. Karena itu, kamu harus berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan aksi tersebut. Untuk membantumu menghindari masalah ini, Hotcourses Indonesia akan membahas 8 tips untuk menghindari plagiarisme.
- Kerjakan Tugas Sedini Mungkin
Cara termudah untuk menghindari plagiarisme adalah dengan mengerjakan tugas sedini mungkin. Dengan begitu, kamu akan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan riset dan menulis makalah/tugas kuliahmu. Kalau kamu menunda-nunda mengerjakan tugas, maka waktu pengerjaan tugas akan semakin pendek. Ketika kamu terburu-buru dan merasa tertekan karena tenggat waktu, ada kemungkinan kamu akan membuat kesalahan atau melupakan detail-detail penting. - Cantumkan Sumber Dengan Tepat
Mencantumkan sumber sitasi atau referensi adalah hal yang penting untuk dilakukan, tapi akan sia-sia kalau tidak dilakukan dengan tepat. Kamu sebaiknya bertanya kepada dosen/pengajar untuk memastikan standar yang berlaku di tempat kuliahmu mengenai pencantuman sitasi dan referensi. Dengan begitu, kamu bisa mengerjakan tugas kuliah sesuai ketentuan yang ada.
Perlu diingat juga bahwa kamu tetap harus mencantumkan sumber saat menggunakan informasi dari internet. Semua sumber daya yang tersedia di internet adalah hasil karya orang lain yang perlu kamu hargai.
- Baca Ulang
Ada baiknya kamu melakukan proofreading (membaca ulang tugas untuk mendeteksi kesalahan format, tata bahasa, ejaan dan tanda baca) untuk menghindari plagiarisme. Kamu hanya perlu menyisihkan sedikit waktu untuk membaca kembali tugasmu dan memastikan semua sumber telah dicantumkan dengan baik. Kalau kamu tidak ada waktu, kamu juga bisa meminta bantuan orang lain atau menggunakan jasa proofreader berbayar. - Kutipan
Salah satu cara mudah untuk menghindari plagiarisme adalah dengan menggunakan kutipan langsung, yaitu jenis kutipan yang ditulis dengan menggunakan kalimat yang sama persis dengan kalimat aslinya. Berikut adalah beberapa contoh kutipan langsung: - Lakukan Parafrasa Dengan Benar
Parafrasa adalah proses menulis ulang ide atau informasi dari sebuah sumber dengan menggunakan kata-katamu sendiri tanpa mengubah artinya. Tapi parafrasa bisa masuk ke dalam kategori plagiarisme jika eksekusinya tidak tepat. Cobalah menuliskan informasi tersebut dengan format dan pilihan kata yang orisinal, serta hindari menggunakan frasa-frasa yang ada dalam sumber yang kamu gunakan. Karena proses ini terhitung merujuk ke karya orang lain, kamu harus tetap mencantumkan sumber ya! - Berikan Nilai Tambah
Jangan cuma bergantung pada semua informasi yang kamu dapatkan dari berbagai sumber. Kamu bisa memberikan nilai tambah dengan memasukkan wawasan dan sudut pandangmu sendiri ke topik yang kamu bahas dalam tugas kuliahmu. Hal ini akan menunjukkan bahwa kamu telah melakukan riset mendalam dan sudah memahami topik tersebut dengan baik. - Gunakan Alat Pemeriksa Plagiarisme
Untuk memastikan bahwa tugasmu tidak mengandung unsur plagiarisme, kamu bisa menggunakan berbagai situs dan alat pemeriksa plagiarisme yang ada di internet sebelum mengumpulkan tugas. Berikut adalah beberapa alat dan situs yang kami rekomendasikan:
- Unicheck
- Scribbr
- Grammarly
- PlagScan
- Quetext
- Plagramm
- Langsung Tulis Daftar Pustaka
Tips terakhir untuk menghindari plagiarisme adalah dengan membuat daftar pustaka sewaktu melakukan penelitian. Saat kamu menemukan sumber yang bisa kamu gunakan, langsung saja tambahkan ke daftar pustaka.
Kalau kamu menyusun daftar ini setelah menyelesaikan tugas, ada kemungkinan kamu akan lupa mencantumkan beberapa sumber. Jika daftar pustaka telah disusun dari awal, kamu hanya perlu menghapus sumber yang tidak terpakai dan merapikan format daftar ini ketika tugasmu sudah rampung.
Ada beberapa jenis plagiarisme yang harus diketahui terlebih dahulu. Pertama adalah plagiarisme secara langsung, jenis ini sangat mungkin ditemukan apabila seseorang hanya melakukan copy-paste dari pekerjaan orang yang sudah tersedia sebelumnya tanpa mencantumkan sumber. Kedua, plagiarisme sebagian, artinya meskipun sudah melakukan parafrase namun masih terdapat beberapa kalimat yang identik dengan sumber aslinya dan tidak mencantumkan sitasi.
Ketiga, plagiarisme ringan karena parafrase yang telah dilakukan belum mencantumkan sumber asli. Keempat, plagiarisme yang terjadi sebab sumber yang digunakan tidak mencukupi atau sangat minim. Berikut ini tips menghindari plagiarisme dari Gamatechno.
1. Sertakan sitasi
Ketika seseorang menggunakan gagasan, informasi, pun opini yang bukan buah pikir sendiri, sitasi adalah sebuah keharusan. Hal tersebut juga berlaku meskipun penulis tidak menggunakan kata-kata yang sama persis. Penyertaan sitasi di sini artinya penulis harus memberikan keterangan dari mana informasi yang dituliskan didapat.
Sumber tersebut tidak hanya untuk buku, jurnal, skripsi, atau rekaman audio/visual, namun juga sitasi untuk gagasan dari internet juga harus dicantumkan. Penulisan sitasi juga penting untuk dilakukan ketika penulis merasa ragu dengan keakuratan informasi yang disajikan. Sitasi dapat berupa body note maupun foot note.
2. Catat berbagai sumber daftar pustaka sejak awal
Daftar pustaka adalah salah satu kewajiban yang tidak boleh dilupakan ketika menulis karya tulis. Sayangnya, masih ada yang baru mendata ulang daftar pustaka setelah tulisan selesai. Hal seperti itu tidak salah, namun sangat berpotensi untuk melewatkan satu, dua, atau beberapa sumber sekaligus. Dalam artian, sitasinya telah tercantum di body note atau foot note namun luput dalam daftar pustaka. Dengan mendata apa saja sumber yang dipakai sejak awal, kesalahan bisa diminimalisir, pun akan sangat membantu dalam penyusunan daftar pustaka.
3. Lakukan parafrase
Tulisan yang hanya menggunakan kutipan langsung lebih berpotensi dianggap melakukan plagiarisme. Cara menyikapinya adalah dengan melakukan parafrase–menggunakan susunan kalimat sendiri–dari sumber asli dengan tetap mencantumkan sitasi. Parafrase juga lebih mudah untuk dilakukan sebab formatnya tidak serumit jika menggunakan cara pengutipan langsung.
4. Lakukan interpretasi
Untuk memperkuat gagasan yang disampaikan, terkadang ada pendapat yang harus dijadikan bahan pembanding atau dipinjam. Dalam hal ini, bisa jadi analisisnya terlalu rumit maupun butuh interpretasi tambahan. Interpretasi dilakukan seperlunya.
5. Gunakan aplikasi antiplagiarisme
Terakhir, apabila penulis masih merasa khawatir dengan hasil akhir karya tulisnya, aplikasi antiplagiarisme dapat dicoba. Misalnya menggunakan aplikasi TESSY.ID. Dengan aplikasi antiplagiarisme, tulisan yang dihasilkan bisa dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang sudah terbit sebelumnya. Aplikasi akan menunjukkan berapa persen tingkat kemiripan yang ditemukan.
Itulah lima tips menghindari plagiarisme versi Gamatechno. Plagiarisme memang menjadi momok yang menakutkan di ranah akademik. Cara terbaik untuk terhindar adalah dengan tetap berhati-hati dalam mengolah informasi.
Cara penulisan karya ilmiah yang kurang memperhatikan etika menulis sangat berpotensi terjadinya plagiarisme atau plagiat. Apalagi dalam penulisannya banyak menggunakan rujukan dari hasil karya ilmiah orang lain yang dipublikasikan, seperti jurnal ilmiah, prosiding, artikel ilmiah, paten (HKI) dan hak cipta.
Nah, untuk menghindari terjadinya plagiat maka sangat tepat bagi seorang ilmuwan seperti mahasiswa, dosen dan peneliti untuk membaca cara menghindari plagiat dalam penulisan karya ilmiah ini.
PLAGIAT
Menurut KBBI, plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri.
Plagiat merupakan suatu perbuatan penjiplakkan hasil karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya (sitasi). Namun demikian, menulis ulang hasil karya ilmiah sendiri tanpa menyebutkan sitasi juga dianggap sebagai plagiat. Inilah yang paling sulit.
Apabila terbukti melakukan plagiat – baik disengaja atau tidak – maka hasil karya ilmiahnya tidak akan mendapatkan pengakuan. Bahkan orang yang dinyatakan melakukan plagiasi akan mendapatkan punishment atau hukuman.
Hukuman yang diterimanya cukup beragam, tergantung dari tingkat plagiasi atau plagiarisme yang telah dilakukan. Mulai dari yang teringan – berupa peringatan – hingga pada pemecatan dari institusi tempat mereka bekerja.
Supaya tidak terjerat dalam kasus plagiat maka perhatikanlah cara menghindari plagiat dalam penulisan karya ilmiah.
Faktor Terjadinya Plagiarisme
Beberapa tindakan plagiat masih terjadi di sekitar kalangan civitas academica. Semakin banyak penulis yang tidak mengidahkan etika dalam kegiatan penulisan (Istiana, 2014). Hal ini cukup menjadi perhatian, sehingga sangat penting bagi kita untuk mengantisipasi tindakan ini karena akan merusak reputasi kampus.
Berikut beberapa alasan pemicu atau faktor pendorong terjadinya tindakan plagiat dikutip dari (Istiana, 2014) yaitu :
1. Tidak memiliki waktu cukup (keterbatasan waktu) untuk menyelesaikan
sebuah karya ilmiah yang menjadi beban tanggungjawabnya. Hal ini
mendorong seseorang mencari jalan pintas dengan melakukan copy-paste
atas karya orang lain.
2. Malas membaca dan melakukan analisis/sintesis terhadap sumber referensi yang dimiliki. Hal ini membutuhkan pemikiran yang mendalam atas sumber informasi yang dibacanya.
3. Tidak memiliki pemahaman tentang kapan dan bagaimana harus melakukan kutipan.
4. Kurangnya perhatian dari guru ataupun dosen terhadap persoalan plagiarisme
5. Pandangan plagiator atas plagiarisme, yang tidak menganggap tindakan plagiat sebagai bentuk kejahatan
6. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, yang memberikan pilihan
yang menggiurkan untuk memperoleh bahan tulisan dengan cepat dan mudah.
7. Menipisnya semangat untuk melalui proses pendidikan, sehingga lebih
berorietasi hasil.
8. Sanksi hukum pada pelaku plagiat masih sangat minim. Sanksi diberikan
baru sebatas pada sanksi administratif.
Jadi teman – teman, Apapun beberapa alasan seorang penulis dalam melakukan tindakan plagiat, hal itu bukanlah suatu pembenaran melainkan pengingkaran terhadap etika akademisi.
Demikian referensi buku ajar dengan judul menulis tanpa plagiat apabila membutuhkan layanan jasa self publishing, jasa penerbitan buku, jasa penulisan buku, jasa editing buku untuk bahan ajar ataupun untuk keperluan lain Dapat menghubungi admin RuangBuku.
